KARYA Sastra "For Whom the Bell Tolls" sebuah karya novel terkenal, mengambil inspirasi dari pengalaman Hemingway sebagai jurnalis di Spanyol selama Perang Sipil. Tokoh dalam cerita itu bernama Robert Jordan, adalah seorang relawan Amerika yang terlibat jauh dalam konflik selama peperangan itu.
Siapakah penulisnya? Ernest Hemingway lahir pada 21 Juli 1899, di Oak Park, Illinois, Amerika Serikat. Adalah seorang penulis dan jurnalis terkenal di dunia. Hemingway terlibat dalam Perang Dunia I sebagai sukarelawan ambulans dan kemudian bertugas sebagai wartawan selama Perang Sipil Spanyol.
Karyanya yang terkenal antara lain "The Old Man and the Sea," juga "A Farewell to Arms," dan "For Whom the Bell Tolls." Hemingway adalah salah satu contoh sastrawan ternama yang juga berkarir sebagai jurnalis, pada masanya.
Salah satu karya jurnalistik monumentalnya adalah liputannya tentang perang, ditulisnya dalam bentuk artikel dan laporan yang kemudian dijadikan dasar untuk novelnya, "For Whom the Bell Tolls".
Hemingway dikenal dengan gaya penulisan yang sederhana dan lugas, menciptakan karya-karya sastra yang memengaruhi generasi penulis selanjutnya. Ia menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954. Meskipun kesuksesan dalam dunia sastra, kehidupan pribadi Hemingway penuh dengan tantangan, dan kemudian mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri 19 hari menjelang ulangtahunnya, yakni pada 2 Juli 1961, di Ketchum, Idaho.
Robert Jordan, tokoh utama dalam "For Whom the Bell Tolls," digambarkan sebagai seorang ahli dinamit yang terlibat dalam misi penting menghancurkan jembatan selama Perang Sipil Spanyol. Dia memiliki sifat kepahlawanan, keberanian, dan juga melibatkan dilema moral dalam konteks perang.
Baca Juga: Cavendish Tumpang Sari Kacang Tanah, Cara Petani Desa Buae Raup Untung Tunggu Panen Pisang
Jordan juga menunjukkan kompleksitas emosional dan pertentangan dalam dirinya sendiri. Sebagian pengamat sastra menyebutkan Jordan adalah Hemingway dalam cerita itu.
Sebagai jurnalis dirinya mengalami kontemplasi, antara kewajiban perang yang menyakitkan dan pertempuran batin dalam sisi moralitasnya sebagai jurnalis. Dilukiskan dilema moral yang dialami tokoh Robert Jordan dalam novel tersebut melibatkan pertentangan antara tugas militernya yang memerlukan tindakan keras dan keinginannya untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan.
Jordan menghadapi pertanyaan moral tentang keadilan, kehidupan, dan konsekuensi dari tindakannya selama perang, menciptakan ketegangan batin dan pertimbangan etika.
Baca Juga: Bappeda Lakukan Konsultasi Publik Bahas RPJPD Kota Parepare Tahun 2025-2045
"For Whom the Bell Tolls" pertama kali diterbitkan dalam bentuk novel pada tahun 1940. Sebelumnya, kisah ini juga telah diterbitkan dalam beberapa majalah, seperti "Scribner's Magazine" dalam beberapa edisi pada tahun 1940, atau mungkin beberapa tahun sebelumnya.
"Scribner's Magazine" adalah majalah yang berasal dari Amerika Serikat. Majalah itu didirikan Charles Scribner pada tahun 1887 dan merupakan bagian dari perusahaan penerbitan Charles Scribner's Sons. "Scribner's Magazine" tidak lagi terbit.
Majalah tersebut menghentikan produksinya pada tahun 1939. Meskipun telah berhenti beredar, nama Charles Scribner's Sons tetap ada sebagai sebuah perusahaan penerbitan yang aktif hingga saat ini.
Seperti apa rasanya menjadi jurnalis di medan pertempuran? Saya duduk menikmati malam 1 Januari 2024, baru saja akhir 12 bulan yang penuh warna berlalu di 2023, senyum, canda, tawa juga air mata, telah mengukir dan terpahat pada dinding kehidupan.
Tentu tidak sedramatis hidup dalam kancah peperangan. Tetapi bukankah setiap episode hidup adalah pertempuran?
Saya mulai mengenang masa 16 tahun silam, dimana sebagai seorang jurnalis, saya ditugaskan berangkat dalam perut pesawat militer milik TNI AU, saat itu 8 April 2005, konflik tapal batas Ambalat memanas antara Indonesia dan Malaysia.
Pesawat navigasi Boeing 200 TNI AU, bermuatkan lebih dari 35 orang 12 diantaranya jurnalis dari sejumlah Media lokal dan nasional. Saya tak akan menceritakannya di sini, tetapi cukuplah bagi saya bagimana rasanya ikut di medan tempur.
Cerita tentang kerja jurnalis di medan perang, konflik dan bencana memiliki banyak kesamaan, pengalaman bantin setiap orang mungkin berbeda-beda, tetapi yang ingin saya katakan berada di area berbahaya itu, hanya bisa dijalani mereka yang punya nyali, bukan semata punya kemampuan meliput, atau menuliskan berita.
Tidak mudah memutuskan untuk ambil bagian dalam situasi perang, konflik atau bencana, tetapi jika seorang jurnalis memilih untuk berada di dalamnya, ia telah benar-benar menyiapkan diri menghadapi segala resiko yang mungkin terjadi dan akan dihadapinya.
Hidup ini memang pilihan, profesi jurnalis juga pilihan, dan pilihan terbaik adalah mengukir karya dalam situasi yang tak biasa, salah satunya menulis dari medan perang.
Watampone 1 Januari 2024
Zulkarnain Hamson
