MAKASSAR, SULSEL.POJOKSATU.id - Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 07:00 wita, aktivitas di Pantai Bosowa nampak ramai pengunjung. Di hari itu pula, suasana sejuk yang belum menyentuh suhu panas, kami pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimin Indonesia (DPW Parmusi) Sulawesi Selatan, dijamu oleh konglomerat Sulsel, H. Muhammad Aksa Mahmud. Awalnya kami akan diterima di Villanya, sebuah rumah kayu dua lantai menghadap ke Barat, dikelilingi dengan berbagai macam tanaman rindang, di Pantai Bosowa. Namun, Aksa Mahmud meminta ngobrol santai di tepi pantai.

Di pagi sejuk yang indah dengan suasana pantai, nampak Aksa Mahmud, pria kelahiran Desa Lapassu, Balusu, Kabupaten Barru pada 16 Juli 1945 itu, mengenakan kacamata gelap dan pakaian siap berenang.

Di bawah tenda bulat dan duduk di kursi plastik, Aksa Mahmud dikelilingi pengurus Parmusi Sulsel: Dr. H. Abubakar Wasahua, Dr. H Wahid Ismail, Muliaty Mastura, Prof. Mardi, Rahmawati Datumulo, Murniati Dg. Matarring, Takuddin Rahimi, Muhammad Aksan, dan hadir pula dewan pakar, Prof Supardin.

Di bawah tenda kecil itu, tersaji aneka macam makanan khas Makassar. Ada pisang epe, ada roko-roko unti, roko-roko cangkuning, buroncong, apang paranggi. Termos besar berisi air panas, aneka macam kopi dan teh. Yang berminat proses sendiri.

Pengepekan pisang dan pembakarannya, tidak jauh dari meja tempat kami ngobrol. Begitu ada pisang yang sudah dibakar, Aksa Mahmud menawarkan kepada pengurus. Pisang epe laris manis, habis satu persatu tanpa diberikan gula merah cair. Inilah pisang epe tanpa gula merah, celutuk salah seorang pengurus. Lalu sekelebat Aksa Mahmud mengangkat wadah kecil berisi cairan gula merah.

Namun, Aksa Mahmud, juga nampak asyik menikmati lezatnya pisang epe original. Sedikit demi sedikit, pisang epe itu dicubit pakai tangannya lalu dikunyah dengan stile santai sambil ngobrol. Di sinilah persoalan-persoalan bisa selesai dan diselesaikan, di alam terbuka lebar tanpa sekat.

Di meja kecil perbincangan berjalan cair. Sesekali diwarnai gelak tawa yang meledak sambil yang lainnya mencuri kesempatan mengambil gambar dengan tokoh yang dulunya memulai jualan es, kini menjadi konglomerat dan tokoh nasional. Subhanallah. Karena itu tidak berlebihan kiranya, bila agenda dialog akhir tahun Parmusi, akan memberikan penghargaan kepadanya sebagai Tokoh Peduli Umat.

Alumni Fakultas Teknik Elektro Universitas Hasanuddin ini, dalam usianya yang sudah menginjak 81 tahun, masih tetap memberikan banyak ide dan gagasan. Tutur katanya lembut dan tarikan napas masih teratur.

Melihat Aksa Mahmud tidak pernah kehabisan bahan. Dan pertemuan di pagi hari itu tidak cukup hanya dua jam, seandainya kami tidak ada agenda melayat salah seorang teman pengurus yang berpulang ke Rahmatullah, Dra. Hj. Nuraeni, di Jalan Barukang 3 Makassar.

Aksa Mahmud mengakui kalau dirinya harus selalu berbicara, agar tidak termakan usia. Dia mulai berbicara tentang kepemimpinan Indonesia, menguliti dari A sampai D, dari soal koperasi, tentang perekonomian dan bagaimana manusia bisa mendapat surga dengan menginvestasikan dananya untuk akhirat.

Abu Bakar Wasahua yang duduk di samping kiri Aksa Mahmud, saat sampai pada perbincangan bahwa Parmusi saat ini sedang mendirikan sebuah pesantren di Tombolo Pao, Aksa langsung memotong, "Di mana itu lokasinya, " tanya Aksa. Abubakar menjawab, di ujung Malino, berbatasan dengan Kabupaten Sinjai.

"Bagus itu, " jawab Aksa memberi jempol. Orang-orang yang mendirikan pesantren dan masjid, berarti dia sudah menginvestasikan diri untuk akhirat. "Semua itu kita benar-benar bekerja ikhlas mengharap ridha Allah. "

Setiap menyampaikan sesuatu, dia selalu menyebut nama Allah. Misalnya, ketika dirinya membeli Universitas 45 milik Andi Sose yang kini menjadi Universitas Bosowa. "Ini semua karena Allah. Saya bisa membeli itu atas izin Allah, " ujar ayah dari lima orang anak ini.

Begitu pula saat dia telah membeli saham Harian Fajar, di mana Graha Pena yang terletak di Jalan Urip Sumoharjo menjadi pemilik saham terbesar. "Waktu itu saya buka handphone dan membaca kalau Jawa Pos akan menjual sahamnya. Lalu saya katakan kepada anak almarhum Alwi Hamu, Agus Salim agar dia yang membeli saham itu. Tetapi karena ketiadaan dana, maka sayalah yang membelinya. Awalnya ditawarkan kepada Pak JK, hanya karena terjadi miskomunikasi, artinya pembicaraan ini tidak sampai ke tangan Pak JK, maka jatuhlah ke saya Graha Pena itu, " urainya. Lagi-lagi dia mengatakan bahwa semua ini sudah diatur oleh Allah.

Maka sebagai oleh-oleh buat Parmusi Sulsel, Aksa Mahmud memfasilitasi Ballroom Graha Pena sebagai tempat acara Muhasabah Akhir Tahun 2026.

Penulis: Muliaty Mastura