ULAMA Bugis memiliki keunikan tersendiri dalam menyampaikan ajaran Islam. Mereka tidak hanya menjadi pendakwah agama, tetapi juga penghubung antara tradisi Islam yang datang dari Timur Tengah dengan budaya lokal masyarakat Bugis.

Pendekatan ini menjadikan Islam tidak hanya diterima secara spiritual, tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Sejak awal masuknya Islam ke Sulawesi Selatan, para ulama Bugis memahami bahwa ajaran agama harus relevan dengan konteks budaya setempat. Misalnya, mereka menggunakan konsep siri’ (harga diri) untuk mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan diri sesuai ajaran Islam. Hal ini menjadikan nilai-nilai Islam tidak terasa asing, tetapi justru memperkuat tradisi lokal.

Baca Juga: Pesan Walikota Danny Pomanto di Momentum Politik: Jaga Kota, Jaga Demokrasi, dan Jangan saling Cela

Selain itu, ulama Bugis juga memadukan tradisi seperti mappacci (ritual pembersihan diri sebelum menikah) dengan ajaran Islam tentang kesucian. Ritual ini menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjaga kearifan budaya lokal.

Ulama Bugis sering berperan sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan tradisi lokal dan ajaran agama. Dengan kebijaksanaan mereka, ulama Bugis mampu mencari titik temu antara kedua sisi, sehingga masyarakat dapat menjalankan tradisi mereka tanpa bertentangan dengan ajaran Islam.

Salah satu contohnya adalah dalam pengelolaan tanah adat. Ulama Bugis mengajarkan bahwa penggunaan tanah harus sesuai dengan prinsip keadilan Islam, tetapi tetap menghormati aturan adat yang sudah ada. Pendekatan ini menciptakan harmoni antara tradisi dan agama.

Baca Juga: Catatan Pilgub Sulsel: Komunitas Adat Sulsel Hanya Terkoneksi ke DIA, Andalan Hati?

Pendekatan ulama Bugis yang mengintegrasikan Islam dengan budaya lokal menjadi pelajaran berharga di era modern. Di tengah tantangan globalisasi, pendekatan ini menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak harus saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya bisa saling melengkapi untuk membangun masyarakat yang harmonis dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur.

Ulama Bugis dalam mengembangkan Islam digerakkan dengan jalan tariqat. Tariqat atau jalan spiritual dalam Islam memiliki tempat penting dalam tradisi keagamaan masyarakat Bugis.

Ulama Bugis tidak hanya mengajarkan ajaran Islam yang bersifat normatif, tetapi juga memperkenalkan dimensi tasawuf melalui berbagai tariqat. Melalui pendekatan ini, mereka memberikan panduan spiritual yang mendalam bagi masyarakat.

Baca Juga: Doa Kesuksesan Kampanye Akbar DIA Pilgub Sulsel dari Keluarga Besar Tomakaka Rongkong

Salah satu ulama Bugis yang terkenal dalam pengembangan tasawuf adalah Syekh Yusuf al-Makassari. Beliau adalah penganut Tariqat Khalwatiyah yang kemudian menjadi salah satu jalur spiritual paling berpengaruh di Sulawesi Selatan. Melalui ajarannya, Syekh Yusuf mengajarkan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir, meditasi, dan pengendalian diri.

Tariqat yang diajarkan oleh para ulama Bugis tidak hanya berfokus pada hubungan individu dengan Tuhan, tetapi juga pada tanggung jawab sosial. Mereka menekankan pentingnya menjalani kehidupan yang seimbang antara spiritualitas dan aktivitas duniawi.

Selain tariqat, ulama Bugis juga mendirikan banyak lembaga pendidikan Islam. Pesantren menjadi salah satu model pendidikan yang dikembangkan untuk membangun generasi muda yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mampu menghadapi tantangan dunia modern. Pesantren-pesantren ini sering kali mengintegrasikan ajaran tasawuf ke dalam kurikulum mereka.

Tradisi tariqat dan pendidikan Islam yang dikembangkan oleh ulama Bugis tetap hidup hingga sekarang. Banyak komunitas tariqat yang masih aktif di Sulawesi Selatan, melanjutkan warisan spiritual para ulama. Selain itu, pesantren-pesantren yang didirikan oleh ulama Bugis terus berkontribusi dalam mencerdaskan generasi muda dan memperkuat identitas keislaman masyarakat.

Baca Juga: Prihatin Kondisi DAS Jeneberang, Doktor Bahar Target Bikin 1000 Titik Biopori

Abad ke-19 adalah masa yang penuh tantangan bagi masyarakat Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan. Di tengah penjajahan Belanda dan perubahan sosial yang cepat, ulama Bugis memainkan peran penting dalam menjaga moralitas masyarakat dan memperkuat identitas keislaman mereka.

Ulama Bugis pada abad ke-19 tidak hanya berdakwah di masjid atau pesantren, tetapi juga terlibat aktif dalam perjuangan melawan penjajahan. Mereka menggunakan dakwah sebagai alat untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat, dengan menekankan pentingnya persatuan dan solidaritas.

Tokoh seperti Haji Andi Mappanyukki adalah contoh ulama Bugis yang berperan besar dalam dakwah dan perjuangan melawan kolonialisme. Dengan pendekatan yang inklusif, beliau mampu menggerakkan masyarakat untuk melawan penjajahan sambil tetap menjaga nilai-nilai Islam.

Baca Juga: Warga Bajeng Gowa Beri Gelar Daeng Makkulle ke Danny Pomanto, Ini Makna Filosofisnya

Seiring waktu, Ulama Bugis melakukan inovasi dalam pendidikan. Ulama Bugis memperkenalkan metode pendidikan yang lebih terstruktur. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat membantu masyarakat menghadapi tantangan ekonomi dan sosial. Pesantren-pesantren yang mereka dirikan menjadi pusat pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Hingga hari ini, warisan dakwah ulama Bugis pada abad ke-19 tetap hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai yang mereka ajarkan, seperti kejujuran, keberanian, dan solidaritas, terus menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat Bugis. Mereka membuktikan bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan ajaran agama, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang bermartabat dan berdaya.

Penulis:
Zaenuddin Endy
Aktivis Penggerak NU,  Direktur Pangadereng Institut (PADI)