PISANG Cavendish kini menjadi obrolan hangat di Sulawesi Selatan (Sulsel). Pisang Cavendish menggantikan cerita talas dan porang. Yah, masyarakat Sulsel pernah punya mimpi indah akan produk pertanian unggulan yang akan meningkatkan taraf hidup petani dan memutar roda industri di Sulsel. Itulah talas dan porang.

Tapi kini, talas dan porang hanya menjadi status di linimasa dengan kisah miris akan nasibnya kini. Harapan talas dan porang dulu menjadi program andalan mantan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.

Apa lacur, program ekspor talas dan porang menjadi trauma yang berimbas pada pisang cavendish. Ada sangsi di sana, ada trauma melekat di hati. Apakah program pisang cavendish ini tidak akan bernasib sama dengan porang?

Baca Juga: Lagi, Pemkab Gowa Kirim 30 Imam Masjid Ikuti Peningkatan Kompetesi di Quantum Akhyar Institute

Sebulan terakhir ini, sejak kepemimpinan di Sulsel berganti dari Gubernur Andi Sudirman Sulaiman yang berakhir masa jabatannya digantikan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, pisang cavendish ramai dibicarakan.

Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin memberikan harapan baru akan komoditi pisang cavendish sebagai tanaman buah yang menjanjikan secara ekonomi. Baik untuk memenuhi kebutuhan pasokan pasar nasional, maupun ekspor alias internasional akan pisang cavendish.

"Porang kami sudah tanam dan sekarang tidak ada harganya. Kita masih rugi, datang lagi pisang cavendish. Jangan-jangan nanti mate colli' ji," begitulah kira kira ciutan di sosmed petani di Sulsel.

Baca Juga: Peduli Lembaga Penyiaran Lokal, IDP Terima KPID Awards 2023

Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin sepertinya sangat bersemangat dengan pisang cavendish. Langkah cepat sudah dilakukan. Setelah ide menjadikan Sulsel sebagai salah satu sentral budidaya pisang cavendish, Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin pun langsung membuat program Gerakan Gemar Menanam Pisang (G2MP).

Kenapa Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin begitu bersemangat mengembangkan pisang cavendish di Sulsel. Bagaimana perhitungan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin bahwa pisang bisa menyejahterahkan masyarakat Sulsel.

Baca Juga: Bikin Bangga! STIE Tri Dharma Nusantara Terima School of Management Award

Dalam beberapa kesempatan, Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin mengatakan, dengan luas lahan 500 ribu hektare bisa ditanami pisang cavendish sebanyak 1 miliar pohon.

Perhitungan selanjutnya adalah, satu hektare lahan ditanami 2.000 pohon pisang cavendish. Jika dikalkulasi, kata Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, 2.000 pohon pisang cavendish per hektare, sama dengan 2.000 tandan pisang cavendish. Jika dikalikan Rp100.000, akan menghasilkan Rp200 juta per hektare. wow!

Hitungan yang sangat menggiurkan. Hitungan yang di atas kertas dan jika program itu berjalan. Sebagaimana yang sudah disampaikan di atas, Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin sudah melakukan langkah cepat demi mencapai target program tanam pisang cavendish di Sulsel.

Baca Juga: Bupati Maros AS Chaidir Syam Resmikan Pabrik Air Minum H Plus dan Raumah Plus, Terbesar di Indonesia Timur

Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin sudah mendatangkan ahli pisang, menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membangun ekosistem bisnis budidaya pisang cavendish, mendatangkan PT Great Giant Food (GGF) yang sekaligus bekerja sama dalam budidaya pisang cavendish di Sulsel.

Langkah teknis cepat pun sudah di lakukan Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin dengan memastikan pelabuhan peti kemas baru atau New Port Makassar mampu untuk menjadi jalur pengiriman pisang cavendish dari Sulsel ke luar. Baik untuk pasar nasional maupun internasional.

Tidak hanya itu, Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin sudah melakukan penanam pisang cavendish di Sulsel, tepatnya di daerah Bone. Di Kecamatan Mare, Kabupaten Bone, lahan yang disiapkan sekitar 200 hektare dengan 40 ribu bibit pisang cavendish.

Baca Juga: Panitia Luncur Logo Hari Jadi Sulsel 2023, Berikut Filosofi Angka 354 Ditulis Font Mirip Huruf Lontara

Si kuning pisang cavendish sungguh sangat seksi di Sulsel kini. Apa sih sebenarnya pisang cavendish ini sehingga begitu bersemangatnya Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin mengembangkannya dan dengan iktisar perhitungan ekonomi nyang sangat menjanjikan?

Pisang cavendish merupakan salah satu jenis pisang dari sekitar 500 varietas pisang di seluruh dunia. Cavendish diabadikan dari nama penemu jenis pisang ini. Adalah William Cavendish, Duke of Devonshire ke-6, sekitar tahun 1834.

Awalnya, William Cavendish mendapat kiriman pisang dari Mauritius di Afrika pada 1834. Selanjutnya, William Cavendish berhasil membudidayakan pisang tersebut. Jadilah pisang tersebut di beri nama cavendish sesuai nama William Cavendish.

Baca Juga: Mendag Zulkifli Hasan Kunjungi Pasar Sentral Makassar, Dorong Pedagang Manfaatkan Digital untuk Berjualan

Pisang cavendish ini merupakan salah satu jenis pisang yang populer di dunia. Yang membuatnya populer karena pisang cavendish kaya sebagai sumber serat, potasium, vitamin B6, vitamin C, berbagai antioksidan dan fitonutrien.

Kandungan pisang cavendish memiliki 400 miligram potasium per 100 gram, dapat membantu mengatur tekanan darah dan mengontrol aktivitas jantung. Selain itu, pisang cavendish adalah bahan bakar yang baik untuk otot, karena memiliki sumber karbohidrat mentah yang baik. Dan tentunya masih banyak kandungan lain pisang cavendish yang sangat bermanfaat.

Baca Juga: Anggota DPRD Makassar Hasanuddin Leo Sebut Rumah Susun Bisa Meminimalisir Kepadatan Penduduk

Di beberapa daerah, pisang cavendish sudah dikembangkan. Utamanya di daerah Lampung dimana PT GGF berpusat. Selain itu, pisang cavendish juga sudah dikembangkan di daerah Kabupaten Pasuruan, Bondowoso, serta beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Bagaimana dengan Sulsel, apakah cocok untuk ditamami pisang cavendish? Menurut Dr Baharuddin Burhan, program penanaman pisang di Sulsel sangat tepat untuk meningkatkan taraf ekonomi petani. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) ini mengatakan, semua daerah di Sulsel cocok ditanami pisang, termasuk jenis pisang cavendish.

Baca Juga: Bupati Indah Launching DASHAT, Pertama di Tana Luwu untuk Upaya Atasi Stunting

Secara bisnis, kata Dr Baharuddin Burhan, potensinya sangat besar. Jangankan untuk konsumsi ekspor, kebutuhan dalam negeri saja sangat memungkinkan.

"Untuk nasional saja kan masih kurang," kata Dr Baharuddin Burhan yang juga memiliki pabrik produksi pupuk cair organik ini.

Obrolan dengan senior di Unhas itu kemudian mengingatkan saya pada kiriman pisang yang bisa menyeberang di warkop tempat kami nongkrong di daerah Jalan Anggrek Raya, Toddopuli, Makassar. Sekitar tahun 2013-2014. Kadang saat tengah malam, datang kriman pisang cavendish beberapa biji di meja kami.

Baca Juga: Money Politics: Popularitas, Kredibilitas, dan Kualitas Nomor 10, Isi Tas Nomor 1

"Silakan dimakan-makan sambil bergadang," kata orang yang memberikan. Ternyata, di ruko seberang jalan tempat saya biasa bergadang hingga dini hari itu juga difungsikan sebagai tempat penyimpanan pisang cavendish sebelum didistribusikan.

Teringat kiriman pisang cavendish itu, mengantarkan saya pun bertemu dengan orang yang bisa "mensedekahi" kami dengan pisang cavendish sebagai penghalau lapar dini hari.

Saya memanggilnya Pak Heri. Kami pun bertemu di salah satu warkop di Makassar, belum lama ini. Mulailah saya bercerita soal rencana Pemprov Sulsel mengembangkan pisang cavendish di Sulsel. Ternyata, Pak Heri pun mengikuti tema dan rencana pengembangan pisang cavendish di Sulsel.

Baca Juga: Hari Santri 2023, Ada Apa dengan Santri? Sebuah Rekonseptualisasi

Pak Heri bercerita bahwa dulunya dia mendatangkan pisang cavendish dari Lampung sebanyak tiga kontainer tiap bulan. Pak Heri mengatakan, pisang cavendish tiga kontainer itu kemudian dia distribusikan di toko toko di Makassar dan beberapa daerah di Sulsel.

Jatah tiga kontainer tiap bulan pisang cavendish, kata Pak Heri, sebenarnya masih kurang dari kebutuhan. Tapi kenapa kemudian dia berhenti memasukkan pisang cavendish dari Lampung di Makassar?

Pak Heri menceritakan, kadang pengiriman pisang cavendish dari lampung tidak stabil. Permintaan tiap bulannya sebanyak tiga kontainer, tapi karena kebutuhan ekspor lebih didahulukan maka tentunya jatah mereka di Makassar dikurangi.

Baca Juga: Festival Takabonerate 2023 Target Gaet Seribu Pengunjung

"Jadi saya rugi di gaji karyawan dan operasional. Tidak stabil pengiriman," cerita Pak Heri.

Selain itu, kata Pak Heri, dirinya pun juga mengalami masalah dengan beberapa toko karena tidak mampu memenuhi stabilitas permintaan tiap bulan.

Pak Heri mengatakan, jika program itu berjalan, tentunya menjadi angin segar bagi pelaku bisnis seperti dirinya. Diapun sepakat bahwa untuk kebutuhan lokal saja sangat banyak, belum bicara ekspor.

Harapan pada pisang cavendish sebagai sumber penghasilan demi kesehateraan masyarakat di Sulsel sangat dinantikan. Tapi tentunya masyarakat masih butuh paparan detail mengenai program penanaman pisang cavendish dan harapan bisnisnya kedepan.

Baca Juga: Bacaan Doa Qunut Nazilah untuk Palestina, Diajarkan Rasulullah, Begini Tata Caranya

Di hari-hari mendatang, mobil pikap komunitas "utti lolo" dipastikan akan semakin banyak berseliweran di jalan jalan antar daerah di Sulsel. Lihatlah misalnya di poros Maros-Bone, mobil pikap sambung menyambung membawa pisang setiap hari.

Saya kadang berceletuk jika berada di belakang iring-iringan mobil pengangkut pisang itu yang tertarik dengan nama komunitasnya. "Utti lolo" yang dalam arti bahasa Indonesia nya adalah pisang muda.

Kenapa dia memakai nama komunitas pisang muda atau Utti Lolo? "Supaya mobil mereka tidak dicegat monyet di daerah Kappang, Maros. Karena kalau monyet tau yang diangkut itu pisang masak, pasti akan menjadi korban pemalakan monyet. Untuk mengelabui monyet, ditulis lah 'utti lolo'."

Baca Juga: Yuk Kenali 42 Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang yang Ditetapkan Kemenag

Komunitas sopir pikup "Utti Lolo" tentunya menyimpan harapan besar, program pisang cavendish akan berjalan sesuai rencana Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin sehingga mereka juga menikmati dampak kesejahteraannya. salama' ki.

Penulis: 

AI.Pasinringi