PADA akhir tahun 1978 Doug Scott mendekati Joe Tasker dan Peter Boardman untuk sebuah rencana luar biasa; mencoba mendaki Kangchenjunga (8.586 m) dari utara, tanpa bantuan tabung oksigen! Ini tentu langkah yang spektakuer kala itu karena gunung tersebut belum pernah didaki dari utara dan tidak ada gunung dengan ketinggian dan skala keseluruhan seperti ini yang pernah dijelajahi melalui rute perawan dan sulit tanpa menggunakan bantuan oksigen sejak awal, dengan tim sekecil itu pula.
Georges Bettembourg kemudian diajak bergabung untuk menambah satu pendaki lain ke tim. Ia adalah seorang pendaki gunung Prancis handal asal Chamonix.
Pilihan Doug Scott dan tim dengan model pendakian ringan bergaya alpine dalam jarak yang lebih jauh tentu akan menorehkan sejarah baru di gunung itu - jika berhasil. Mereka akan menjadi yang pertama tanpa bantuan oksigen pada rute baru yang sulit di Kangchenjunga. Sayangnya, opsi ini memiliki tingkat kelangsungan hidup yang cukup rendah.
Baca Juga: Respons Bencan Banjir di Wajo, Direktur PAM Parepare Kirim Air Bersih
Dan itu terbukti dalam pendakian mereka. Peter Boardman terluka akibat batu jatuh dan turun ke Camp 2 untuk memulihkan diri, Joe terpaksa turun ke Base Camp (BC) karena sangat menderita oleh ketinggian, Pete dan Doug mengalami frostbite, Georges terkena Snow Blind, sampai dua upaya summit attempt mereka yang gagal karena cuaca buruk hingga membuat Georges akhirnya memutuskan untuk mundur dari pendakian karena ‘tidak mempercayai cuaca’.
Tapi kesabaran dan sikap pantang menyerah mereka kemudian terbayar pada suatu pagi tanggal 16 Mei. Cuaca berubah cerah. Joe, Pete, dan Doug memutuskan berangkat lebih awal pada pagi yang diliputi optimisme dalam upaya summit attempt ketiga mereka.
“Ini adalah hari yang luar biasa dan kami sangat beruntung; ini satu-satunya cuaca bagus yang kami alami sepanjang perjalanan. Dan kami membutuhkannya karena bagian terakhir ini cukup rumit.” (Doug Scott, Kangchenjunga 1979, hal. 49 - Alpine Journal).
Baca Juga: Pimpinan DPRD Parepare Rakor Persiapan Pelantikan Caleg Terpilih Hasil Pemilu 2024
Meski akhirnya menciptakan sejarah saat mencapai puncak Kanchenjunga hari itu sekitar pukul 16.45, pencapaian tersebut bukan satu-satunya hal luar biasa yang dicatat sejarah. Satu yang lain adalah ketiganya memilih untuk sama sekali tak menginjak puncak!
Mereka berhenti beberapa langkah dari puncak demi menghormati masyarakat Sikkim yang mempercayai bahwa puncak Kangchenjunga adalah tempat bersemayam para dewa mereka yang tak boleh disentuh manusia dan demi melanjutkan komitmen “1955 British Kangchenjunga Expedition” sebelumnya dengan Tashi Namgyal, Chogyal (penguasa monarki bekas kerajaan Sikkim), bahwa puncak gunung tidak akan diganggu gugat.
Ya, Joe Brown, George Band, Norman Hardie dan Tony Streather anggota ekspedisi itu – orang-orang pertama yang berhasil mendaki Kangchenjunga - juga berhenti beberapa langkah dari puncak.
Baca Juga: Abdul Wahab Tahir Sosialisasikan Perda ASI Eksklusif, Hadirkan Ketua PKK Makassar
“Kami tetap berada tepat di bawah puncak, sekitar 10 kaki di bawah, dan saya mencoba berjalan tepat di sekelilingnya. Pada jam 5 kami turun dalam badai petir dan tiba di gua salju dan hari berikutnya kembali ke BC dalam pelukan bahagia Georges,” tulis Doug lagi.
Ketika dulu membaca kisah ini (versi Peter Boardman) – saat-saat awal berkenalan dengan pendakian gunung - saya langsung terhenyak. Saya membayangkan kecamuk dilema dalam diri mereka.
Setelah upaya berbulan-bulan untuk tiba di puncak Kangchenjunga, dalam pergulatan hidup mati tanpa tabung oksigen di rute sulit dan perawan, mereka masih bisa menahan diri untuk tidak menjejaki puncak. Padahal kalau mau toh tidak ada sherpa yang menyaksikan. Apa yang membuat mereka melakukan penghormatan yang begitu “mahal”?
Tahun 1999, dunia pendakian gunung dikejutkan dengan penemuan jasad George Leigh Malory, pionir pendakian Everest yang dinyatakan hilang tersapu badai pada 1924 bersama Andrew Comyn Irvine di dekat crux yang disebut dengan Second Step.
Penemuan ini sangat fenomenal karena spekulasi yang terus menggelitik dunia pendakian gunung selama 75 tahun tentang kemungkinan mereka telah mencapai puncak dan gugur dalam perjalanan turun.
Baca Juga: Pelatihan Sinergi Stakeholder Dorong Pengembangan UMKM di Maros
“Mallory and Irvine Research Expedition” diorganisir untuk mengungkap misteri besar itu; menemukan jasad keduanya dan kamera Kodak yang mereka bawa. Menurut pihak Kodak, kondisi dingin mungkin membuat film di dalam kamera awet.
Jika film tersebut menampilkan foto salah satu dari dua pria tersebut di puncak gunung, penemuan tersebut tentu akan membelokkan sejarah dan bisa membatalkan pencapaian Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada Mei 1953 yang selama ini diakui sebagai pemuncak pertama Everest.
Tim ini dipimpin oleh Eric Simonson dan terdiri dati 6 pendaki gunung, 5 asal Amerika dan satu dari Inggris serta 5 orang kru dan 12 sherpa.
Baca Juga: Pimpinan DPRD Parepare Bakal Undang Caleg Terpilih untuk Rapat Koordinasi
Mereka mendirikan Rongbuk Base Camp (Tibet) pada tanggal 30 Maret. Dan untuk bulan berikutnya, seluruh tim bekerja terus-menerus di rute North Ridge/Northeast Ridge hingga berhasil mendirikan Camp V diketinggian 7800 m pada tanggal 30 April.
Selama periode itu, cuaca cukup baik namun kesehatan Graham Hoyland (pendaki asal Inggris) mengalami masalah dengan ketinggian sehingga harus kembali ke Inggris atas saran dokter.
Conrad Anker, Dave Hahn, Jake Norton, Andy Politz, Tap Richards kemudian berhasil menemukan Camp VI Ekspedisi Tiongkok 1975 pada 1 Mei. Penemuan camp ini sangat krusial mengingat laporan Wang Hong-bao, seorang pendaki gunung China yang mengaku melihat di sebuah jurang apa yang diistilahkannya sebagai "Old English Dead" dekat Camp VI-nya ketika mendaki Everest pada 1975. Itu satu-satunya keterangan tentang jasad Mallory-Irvine yang pernah ada.
Baca Juga: RSUD Andi Makkasau Lepas Pegawai Purna Bakti, Direktur Berpesan Tetap Jaga Kebersamaan
Setelah itu motivasi mereka semakin besar dan mulai menyebar mencari ke arah barat. Beberapa jam kemudian, Anker menemukan sesuatu yang signifikan di ketinggian 8.160 m. Dia lalu mengontak rekannya via radio untuk berkumpul dengan bahasa sandi, kuatir ketahuan orang-orang di luar tim.
Awalnya mereka mengira itu jasad Irvine, namun belakangan mereka menemukan label di bagian leher baju yang tertulis “G. Mallory”.
Sayangnya, mereka tidak menemukan kamera Kodak yang dibawa kedua pionir itu. Beberapa hari kemudian tabung oksigen tahun 1924 ditemukan. Semua bukti termasuk altimeter, kacamata, pisau saku dan beberapa inventory dibawa pulang untuk diserahkan ke pihak yang berhak.
Jasad Mallory tidak diusik, tetap dibiarkan pada posisi semula; tengkurap dengan kedua tangan terbentang. Mereka hanya menguburkannya dengan batu dan berdoa kemudian meninggakannya dalam keheningan gunung itu.
Dalam sebuah wawancara dengan Britclip, Dave Hahn, bercerita ketika ditanya momen tersebut;
“Kami membutuhkan waktu beberapa menit (tentang apa yang harus dilakukan terhadap jasad Mallory). Argumennya adalah, Anda tahu, mungkin sebaiknya kita tidak mengganggunya,” ujarnya.
Baca Juga: Pj Wali Kota Akbar Ali Bangga dan Berterimakasih atas Kontribusi Warga HIKMA di Parepare
“Bagi saya, saya yakin mereka (Mallory dan Irvine) ingin dunia tahu apakah mereka berhasil atau tidak. Saya percaya bahwa cerita mereka sendiri penting dan jika kita tidak melakukan pekerjaan tersebut, jika kita hanya menemukan orang ini tetapi tidak mengetahui apa yang dapat mereka sampaikan kepada kita, maka kita mengundang orang lain untuk melakukan hal tersebut. Jadi jika kita ingin mempunyai kendali untuk ‘mengganggu’ orang ini, kita harus melakukannya sekali dan melakukannya dengan baik,” lanjutnya seolah-olah ingin memproteksi jasad Mallory dari upaya penelitian selanjutnya.
“Dan kami tidak pernah punya niat untuk memindahkan George Mallory,” katanya lagi.
Di waktu yang lain, Conrad Anker, orang pertama yang menemukan jasad Mallory, menjawab Forbes Global tentang pengalamannya.
“Sekitar 15 menit (bersama jasad Mallory sebelum memberitahu rekan-rekannya). Saya tidak menyentuh sisa-sisanya, hanya duduk di sana. Sejenak saya berpikir untuk diam. Untuk sekedar melihat, menguburnya dan tidak memberitahu siapa pun. Tapi begitu saya memanggil melalui radio, tentu saja, semua orang di perkemahan tahu ada sesuatu yang terjadi, karena mereka disetel ke frekuensi kami.”
Baca Juga: Zainal Abidin Terus Berburu Rekomendasi Bacawabup Polman, Kembali Ambil Formulir di 2 Partai
Ketika ditanya lagi apa yang ingin dikatakannya jika Mallory kebetulan membaca wawancara itu, dia menjawab;
“Saya sangat menghormati dan mengagumi siapa Anda sebagai seorang pria dan seorang pendaki. Tolong jangan marah jika saya mengganggu tempat peristirahatan Anda.”
Ketika dulu membaca kisah ini saya juga terhenyak. Saya membayangkan kecamuk dilema dalam diri mereka. Setelah upaya berbulan-bulan untuk sebuah misi “mencari jarum dalam jerami” ini, mereka masih terpikir untuk mempertimbangkan hal yang sebenarnya tidak diatur dalam ekspedisi itu.
Baca Juga: Bahtiar Baharuddin Ingatkan Tanggap Darurat Penanganan Lingkungan Tak Dilakukan Ala Kadarnya
Apalagi, meski penemuan tersebut berharga, mereka belum bisa menjawab misteri besar dari legenda besar Everest itu. Padahal kalau mau, mereka bisa saja mengutak-atik jasad Mallory untuk mencari petunjuk yang lebih terang. Apa yang membuat mereka melakukan penghormatan yang begitu “elegan”?
Baca Juga: Muh Tonang Pastikan JCH Hanya 2 Jam Pengurusan di Aula Asrama Haji, Siapkan Pengamanan Berlapis
Kira-kira pertengahan tahun 2000-an, saya sedang cuti dan menyempatkan diri singgah ke kampus setelah sekian tahun tidak pernah bertandang. Tak dinyana, seorang kawan lama juga datang setelah beberapa saat berada di sana.
Sebaiknya saya tidak usah menyebut namanya karena belum meminta izin menuliskan kisahnya ini. Yang pasti, dia seorang pemanjat tebing di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang sangat aktif sampai saat itu. Meski dia dari kelompok lain tapi hubungan kami cukup akrab. (Bersambung)
Penulis:
M Taqwim
(Anggota Aktif Korpala Unhas - K.193)
