DALAM dunia politik modern yang penuh persaingan dan terkadang disertai praktik-praktik yang jauh dari etika, membudayakan nilai-nilai etika politik yang berakar pada kearifan lokal menjadi sebuah kebutuhan.

Di Sulawesi Selatan (Sulsel), masyarakat Bugis telah lama menjunjung tinggi nilai-nilai etika yang kuat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik dan kepemimpinan.

Konsep-konsep seperti siri’ (harga diri), lempu’ (kejujuran), dan pesse (solidaritas) bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi fondasi moral yang relevan untuk membangun tatanan politik yang bermartabat dan berintegritas.

Membudayakan etika politik Bugis dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk memperbaiki iklim politik dan kepemimpinan di Indonesia.

Baca Juga: Dewan Adat 12 Kedatuan Luwu: Dia Danny Pomanto Anak Kami, Bukan Tamu

Nilai-Nilai Utama Etika Politik Bugis

Kearifan lokal Bugis kaya akan ajaran moral dan etika yang relevan dalam membangun komunikasi dan praktik politik. Di antara nilai-nilai tersebut, siri’, lempu’, dan pesse menjadi pilar yang paling menonjol.

Siri’ (harga diri) dalam tradisi Bugis adalah prinsip yang menjunjung tinggi kehormatan dan martabat. Ini bukan hanya tentang harga diri individu, tetapi juga menyangkut keluarga dan komunitas yang lebih luas.

Dalam politik, siri’ mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus menjaga martabatnya dengan tidak melakukan tindakan yang memalukan, seperti korupsi, penipuan, atau pelanggaran lainnya.

Pemimpin yang memiliki siri’ akan selalu berusaha menjaga kepercayaan publik dan bertindak dengan integritas.

Baca Juga: Politeknik Negeri Ujung Pandang Kembali Buka 3 Program Magister Baru. Apa Saja?

Lempu’ adalah kejujuran dan kelurusan hati. Ini adalah nilai yang mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus bersikap jujur dan adil dalam setiap tindakannya. Lempu’ menekankan pentingnya transparansi dalam kebijakan dan keputusan politik.

Seorang pemimpin yang mengedepankan lempu’ akan mengutamakan kebenaran, bahkan ketika itu mungkin tidak menguntungkan secara politis.

Pesse (Solidaritas): mencerminkan rasa empati, kepedulian, dan solidaritas terhadap orang lain. Dalam politik, pesse berarti bahwa pemimpin harus memiliki kepedulian yang tulus terhadap kesejahteraan masyarakat. Ini berarti mendengarkan aspirasi rakyat, memahami kebutuhan mereka, dan bekerja untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Etika Politik Bugis Penting untuk Dipraktikkan

Di tengah kondisi politik yang sering diwarnai oleh persaingan ketat dan berbagai praktik yang tidak etis, etika politik Bugis menawarkan solusi yang relevan untuk menciptakan iklim politik yang lebih sehat. Etika politik Bugis mengingatkan kita bahwa kekuasaan bukan sekadar alat untuk mencapai ambisi, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Politik yang dijalankan dengan prinsip siri’ dan lempu’ akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemimpin. Masyarakat akan lebih mudah percaya pada pemimpin yang jujur, menjaga martabat, dan bertindak sesuai dengan kepentingan umum.

Etika politik Bugis dapat mengurangi konflik dan polarisasi dengan nilai pesse yang menekankan solidaritas di masyarakat. Ketika pemimpin menunjukkan empati dan memahami kebutuhan rakyat, ketegangan sosial dapat diredam, dan kerukunan dapat ditingkatkan.

Baca Juga: Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi Sultanbatara Bertekad Perkuat Publikasi di Media

Dengan mengedepankan etika politik yang santun dan bermoral, seperti yang diajarkan dalam siri’, praktik politik akan menjadi lebih bermartabat. Hal ini akan menciptakan lingkungan debat dan diskusi politik dilakukan secara konstruktif dan tidak merendahkan martabat lawan politik.

Strategi Membudayakan Etika Politik Bugis

Membudayakan etika politik Bugis tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan upaya yang berkelanjutan dan kolaboratif.

Membudayakan etika politik dapat diterapkan dengan melakukan edukasi dan pelatihan dengan mengintegrasikan nilai-nilai etika politik Bugis. Ini bisa dilakukan dalam bentuk workshop, seminar, atau pelatihan khusus yang mengajarkan pentingnya siri’, lempu’, dan pesse dalam menjalankan peran kepemimpinan.

Membangun etika politik juga dapat dilakukan dengan melestarikan budaya lokal, seperti acara adat dan pertemuan komunitas, sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai etika politik Bugis. Tokoh-tokoh masyarakat dan pemimpin adat dapat mengambil peran aktif dalam menyebarkan pemahaman ini kepada generasi muda dan masyarakat umum.

Baca Juga: Sindiran RMS ke Azhar Arsyad Jadi Bumerang, Naikkan Militansi DIA di Pilgub Sulsel

Media massa dan media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi dan edukasi tentang pentingnya etika politik yang berlandaskan nilai-nilai lokal. Konten yang inspiratif, seperti cerita tokoh-tokoh Bugis yang mempraktikkan siri’, lempu’, dan pesse, dapat menginspirasi publik untuk meneladani prinsip-prinsip ini.

Membudayakan etika politik Bugis tentu tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah mengadaptasi nilai-nilai tradisional ini dalam praktik politik modern yang sering kali keras dan kompetitif.

Globalisasi dan arus informasi yang cepat juga membawa pengaruh luar yang kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip lokal.

Namun, di balik tantangan tersebut, ada peluang besar. Masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, memiliki kekayaan budaya yang bisa dijadikan sebagai modal sosial. Keinginan untuk kembali pada nilai-nilai luhur dan membangun politik yang lebih etis mulai dirasakan oleh banyak kalangan, terutama generasi muda.

Pemimpin yang mampu mengedepankan etika politik Bugis akan memiliki keunggulan moral dan bisa menjadi panutan di tengah masyarakat yang semakin kritis.

Membudayakan Etika Politik Bugis untuk Kepemimpinan yang Berintegritas

Membudayakan etika politik Bugis adalah upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur. Nilai-nilai siri’, lempu’, dan pesse bukan hanya sekadar konsep yang ada di dalam buku-buku sejarah atau cerita-cerita rakyat, tetapi prinsip yang relevan dan dapat diimplementasikan dalam kepemimpinan modern.

Dengan membudayakan etika politik Bugis, tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menciptakan politik yang lebih bermartabat, adil, dan berlandaskan kepercayaan serta kepedulian.

Etika politik Bugis mengajarkan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap rakyat. Inilah esensi kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi pengabdian tulus untuk kesejahteraan bersama.

Penulis:
Zaenuddin Endy
Aktivis Penggerak NU Sulsel dan Direktur Pangadereng Institute (PADI)