19 RAMADHAN 1447 H bertepatan 9 Maret 2026 diresmikan nama Masjid Kampus UIM Al-Gazali dengan nama Masjid Ash-Shahabah AGH Sanusi Baco, setelah sebelumnya bernama Masjid Ash-Shahabah. Peresmian dilakukan dalam acara peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama civitas UIM (Universitas Islam Makassar) dan Muslimat PWNU Sulsel di Kampus UIM.
Penambahan nama AGH Sanusi Baco sangatlah beralasan, sebab di balik berdirinya UIM Al-Gazali sebagai metamorfosis dari Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) 1984 dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) kemudian bertransformasi menjadi Universitas Islam Makassar Tahun 2000, beliau termasuk dari pelaku sejarah yang sangat menentukan perjalanan UIM dari masa ke masa.
Sejak 1998 hingga 2023 beliau sebagai Rais Syuriah PWNU Sulsel, tentu menjadi referensi manhaj dan ideologi keagamaan warga nahdhiyyin di Sulaewsi Selatan. Arah praktik keagamaan masyarakat muslim Sulsel khususnya jamaah NU (Nahdhatul Ulama) dilegitimasi oleh yang menahkodai NU dalam hal ini perwakilan ulama dalam jajaran syuriah.
Baca Juga: Musrov Digelar 28-29 Maret, Ini Empat Figur Bersaing Pimpin Igornas Sulsel
UIM yang berbadan hukum dalam suatu yayasan yakni Yayasan Al-Gazali di bawah naungan Nahdatul Ulama, maka visi keaswajaan adalah sebuah keniscayaan. Visi dan Misi Aswaja yang melembaga sudah pasti terkoordinasi oleh vigur syuriah dalam jajaran struktural Nahdhatul Ulama. Inilah salah satu dari implementasi konsep Trimatra, sebagai satu kesatuan dari tiga komponen utama yakni, Nahdatul Ulama, Yayasan dan Rektorat.
Salah satu bangunan yang nampak jelas dari arah jalan poros Perintis Kemerdekaan adalah masjid yang berdampingan dengan bangunan rektor yang memiliki khas bugis makassar dengan model timpa’laja.
Masjid dengan nuansa kubah bintang dan bulan tsabit diberi nama Masjid Ash-Shahabah bermakna sahabat. Pilihan nama sahabat secara ideologis mengandung sebuah komitmen yang dijunjung tinggi oleh kaum sunni khususnya kaum nahdhiyyin (orang-orang NU).
Baca Juga: Pemprov Sulsel Genjot Pengaspalan Jalan Pangkajene Sidrap-Rappang, Progres 9,3 Km
Penggunaan kata “Sahabat” populer di masa Nabi, mereka adalah kaum Muslimin yang hidup sezaman dengan Nabi, bertemu langsung, beriman kepada Rasulullah saw. Mereka bergaul dan berinteraksi dengan beliau, dan meninggal dalam keadaan muslim.
Selanjutnya Sahabat dimaknai secara umum sebagai teman dekat yang memiliki ikatan emosional kuat, didasari rasa saling percaya, kesetiaan, dan dukungan tanpa syarat dalam suka maupun duka. Lebih dari sekadar teman biasa, sahabat adalah keluarga pilihan yang menerima apa adanya, memahami tanpa menuntut, dan menjadi pendukung emosional yang tulus (penjelasan AI tentang sahabat).
Jika demikian, maka Masjid As-Shahabah diharapkan menjadi magnet dalam memperkuat idelogi keaswajaan sebagai episentrum nilai-nilai keagamaan berbasis ahlusunnah wal jamaah terutama nilai ke-NU-an. Nilai-nilai ini ditata, dikelola dan diramu dalam rumah ibadah bernama masjid, untuk selanjutnya ditebarkan pada civitas kampus dan masyarakat luas.
Kiranya semangat ber-aswaja itu semakin kuat, maka kampus UIM bertawassul dengan nama tokoh legendaris umat yang menjadi representasi dan referensi keagamaan di Indonesia Timur khususnya Sulsel yakni AGH Sanusi Baco.
Baca Juga: Polrestabes Makassar Intensifkan Patroli Perintis Presisi Pasca Lebaran, Sasar Titik Rawan Kamtibmas
Ketokohan almagfurlah AGH Sanusi Baco dikenal luas, bukan hanya internal Islam tapi juga sangat akrab dengan umat agama lain. Beliau banyak menginspirasi dakwah inklusif yang mengajarkan keterbukaan terhadap orang lain yang berbeda latar belakang termasuk agama sekalipun. Karena itu, beliau sesungguhnya suri tauladan bukan hanya bagi warga NU, tapi juga masyarakat Sulawesi Selatan dan bangsa Indonesia secara umum.
Dakwahnya yang khas dengan humor dan jok-jok yang sehat, selalu menyejukkan hati dan perasaan saat mendengarnya, tidak ada spasi waktu duduk bersama kecuali hadir Mutiara hikmah dari lisannya. Beliau adalah ulama yang langka, bisa jadi mencetak 100 profesor lebih mudah daripada mencetak ulama sekaliber beliau.
AGH Sanusi Baco sebagai ulama Sulsel kharismatik yang telah berjasa menanam pohon ideologi dan keilmuan Islam, kiranya tanaman itu tetap subur dan tumbuh, maka nama itu dibutuhkan untuk memastikan bahwa UIM dan Masjid Ash-Shahabah tetap dalam khittah perjuangan para pendiri kampus al-Gazali.
Sekalipun fisik telah tiada, tapi ajaran dan nilai-nilai yang pernah disampaikan harus tetap hidup dalam kehidupan generasi berikutnya, sebagaimana beliau tetap hidup di sisi Tuhan-Nya.
Penulis: Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag (Rektor Universitas Islam Makassar)

