TIDAK SEMUA perjalanan dimulai dengan langkah kaki. Ada perjalanan yang lahir dari doa, air mata, dan keteguhan hati. Dalam sejarah kenabian, Isra Mikraj bukan sekadar kisah tentang jarak dan ketinggian, tetapi tentang kedekatan—antara hamba dan Tuhannya.

Ia hadir pada saat manusia pilihan Allah berada di titik paling sunyi dalam hidupnya, ketika bumi terasa menolak, dan manusia seakan berpaling. Dari titik itulah langit dibuka, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai penguatan risalah.

Isra Mikraj mengajarkan bahwa ketika manusia tidak lagi memiliki sandaran dunia, Allah menghadirkan sandaran langit. Dan dari peristiwa itulah, umat manusia hingga hari ini menerima satu anugerah agung: shalat, sebuah ikatan suci yang menjaga hubungan manusia dengan Tuhannya agar tidak pernah benar-benar terputus.

Dari Kesunyian Luka Menuju Dibukanya Langit

Ada peristiwa besar dalam sejarah Islam yang tidak lahir dari euforia kemenangan, melainkan dari kesunyian panjang dan luka yang dalam. Peristiwa itu adalah Isra Mikraj. Ia datang bukan ketika Rasulullah ﷺ berada di puncak kejayaan, tetapi justru setelah kehilangan dua penopang hidupnya: Khadijah dan Abu Thalib, serta penolakan menyakitkan dari Thaif. Ketika bumi terasa sempit, Allah membukakan langit.

Baca Juga: Basarnas Tanggapi Temuan Serpihan Dikaitkan Pesawat Jatuh di Maros, Utus Tim ke Rumah Kepala Dusun

Peristiwa ini ditegaskan langsung oleh Al-Qur’an dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1:

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isrā’: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa Isra’ bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani yang penuh makna, yang tujuan utamanya bukan pamer keajaiban, tetapi memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada seorang hamba yang sedang diuji dengan beratnya kehidupan.

Isra Mikraj mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan tidak selalu diawali keberhasilan, tetapi sering kali didahului oleh keteguhan dalam penderitaan.

Dalam dunia yang hari ini memuja kecepatan, hasil instan, dan pengakuan publik, Isra Mikraj hadir sebagai pengingat: tidak semua perjalanan penting terlihat oleh mata manusia.

Rasulullah ﷺ tidak langsung diangkat ke langit. Beliau terlebih dahulu diperjalankan ke Baitul Maqdis, lalu shalat. Di tempat suci itu, para nabi dari berbagai zaman berdiri dalam satu saf, dan Muhammad ﷺ menjadi imam mereka.

Baca Juga: Helikopter TNI AU Temukan Titik Merah, SAR Gabungan Fokus Cari ATR 42-500 Pada Empat Titik di Maros

Sejarah yang terpisah oleh ruang dan waktu dipertemukan dalam satu kepemimpinan spiritual. Seolah pesan itu ingin menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari amanah dan ketundukan kepada Allah, bukan dari garis keturunan atau kekuasaan.

Ketika Rasulullah ﷺ naik ke langit demi langit, beliau tidak disambut dengan kemegahan duniawi. Yang ada adalah sapaan iman, doa, dan pengakuan atas tugas yang berat.

Bahkan Musa a.s. seorang nabi besar yang pernah berbicara langsung dengan Allah SWT menangis ketika melihat kemuliaan Rasulullah ﷺ. Tangis itu bukan karena iri, tetapi karena kepedulian terhadap umat manusia.

Di sinilah Isra Mikraj mengajarkan etika besar yang sering hilang dalam kehidupan modern: orang beriman sejati tidak sibuk membela gengsi diri, tetapi memikirkan keselamatan orang lain.

Shalat sebagai Mi‘raj Harian Orang Beriman

Puncak Isra Mikraj bukanlah visual langit atau kedahsyatan Sidratul Muntaha, melainkan diturunkannya shalat. Awalnya lima puluh waktu, lalu melalui dialog penuh kasih, diringankan menjadi lima. Namun pahalanya tetap lima puluh. Allah tidak mengurangi nilainya, hanya meringankan jalannya.

Menariknya, shalat yang menjadi inti Isra Mikraj itu sendiri dibangun di atas dialog langsung antara hamba dan Tuhannya. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi yang sahih bahwa Allah berfirman:

“Aku membagi shalat (Surat al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku. Jika hamba-Ku berkata: Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn, Allah menjawab: Hamba-Ku telah memuji-Ku…” (HR. Muslim)

Baca Juga: Profil Singkat Capt Andy Dahananto, Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Hilang Kontak di Maros

Setiap ayat al-Fatihah adalah percakapan, bukan monolog. Hamba berbicara, dan Allah menjawab. Maka shalat bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan ruang komunikasi paling intim antara manusia yang lemah dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Inilah mengapa shalat menjadi hadiah langit dalam Isra’ Mi‘raj: karena ia menjaga hubungan itu tetap hidup.

Dalam bahasa sederhana, shalat adalah mi‘rajnya orang beriman. Ia tidak membawa tubuh ke langit, tetapi mengangkat hati dari keterpurukan. Ia tidak menghapus masalah hidup, tetapi memberi kekuatan untuk menjalaninya.

Hari ini, banyak orang merasa lelah, hampa, dan kehilangan arah. Teknologi semakin canggih, tetapi kegelisahan justru semakin dalam. Dalam konteks ini, Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan cermin untuk membaca keadaan kita sendiri. Ketika hidup terasa berat, Islam tidak menawarkan pelarian, tetapi ketundukan yang menenangkan.

Isra Mikraj juga mengingatkan bahwa tidak semua persoalan diselesaikan dengan naik jabatan atau memperluas kuasa, tetapi dengan memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Rasulullah ﷺ tidak pulang dari langit membawa harta atau senjata, tetapi membawa shalat; sebuah praktik sunyi yang hanya diketahui oleh hamba dan Tuhannya.

Baca Juga: Tim SAR Gabungan Bergerak dari Panaikang Maros ke Titik Koordinat Pesawat ATR 400, Ini Foto-Fotonya!

Shalat, Shalawat, dan Rahmat bagi Seluruh Alam

Pada titik inilah shalat bertemu dengan shalawat, dan shalawat bertemu dengan Rasulullah ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam. Shalat adalah hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, sedangkan shalawat adalah jembatan cinta antara umat dan Rasulnya. Dalam shalat, nama Rasulullah ﷺ tidak pernah terpisah dari syahadat dan doa. Ia hadir sebagai penghubung risalah, bukan sebagai tujuan ibadah, tetapi sebagai jalan menuju ketundukan yang benar kepada Allah.

Al-Qur’an menyebut Rasulullah ﷺ sebagai rahmatan lil ‘ālamīn (rahmat bagi seluruh alam). Para ulama menafsirkan bahwa al-‘ālamīn bukan hanya manusia, tetapi seluruh ciptaan Tuhan. Bahkan dalam khazanah teologi Islam disebutkan bahwa Allah menciptakan alam dalam jumlah yang sangat banyak, dalam kitab Bahjatul Wasail disebutkan ada 100.000 alam, sementara dunia dan akhirat yang kita kenal beserta seluruh isinya baru satu alam saja. Selebihnya adalah rahasia Allah yang tidak terjangkau oleh akal manusia.

Kesadaran ini seharusnya melahirkan rasa syukur yang dalam: bahwa di tengah keluasan ciptaan Tuhan yang tak terhitung, kita termasuk umat yang mendapat risalah Muhammad ﷺ, mendapat shalat sebagai mi‘raj harian, dan mendapat shalawat sebagai ikatan cinta yang tidak terputus hingga hari akhir.

Maka setiap kali seorang Muslim bersujud, dan setiap kali lidah bershalawat, sesungguhnya ia sedang meneguhkan satu kesadaran besar: bahwa hidup ini tidak berdiri sendiri, tetapi berada dalam rangkaian rahmat Ilahi yang luas, dalam semesta yang agung, dengan Rasulullah ﷺ sebagai penuntun jalan keselamatan.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Isra Mikraj bagi kita hari ini: "bahwa di alam yang begitu luas dan misterius, kita tidak dibiarkan berjalan tanpa cahaya. Kita diberi shalat untuk menguatkan jiwa, shalawat untuk menumbuhkan cinta, dan seorang Rasul yang membawa rahmat, bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk seluruh alam."

Isra Mikraj pada akhirnya bukan hanya tentang Rasulullah ﷺ yang naik ke langit, tetapi tentang umatnya yang diajak naik dalam kesadaran. Shalat, shalawat, dan risalah kenabian bukan sekadar ritual, melainkan jalan untuk menempatkan diri secara benar di tengah keluasan ciptaan Allah yang tak terhingga.

Baca Juga: Beredar Foto Serpihan Hingga Kertas Petunjuk Prosedur Pengoperasian Pesawat

Di antara ratusan ribu alam yang hanya Allah mengetahui batasnya, kita hidup dalam satu alam kecil bernama dunia, membawa amanah besar bernama iman. Maka bersyukur bukan sekadar ucapan, tetapi ketundukan yang terus diperbarui dalam shalat, cinta yang diteguhkan dalam shalawat, dan akhlak yang meneladani Rasulullah ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Dan selama sujud masih kita jaga, serta shalawat masih mengalir dari lisan, kita tidak pernah benar-benar jauh dari langit karena mi‘raj itu, sesungguhnya, terus berlangsung dalam diri orang-orang yang beriman.

Penulis: Dr. Hamzah, S.S., M.Pd.I., S.BA., C.M.BA.
(Dosen Pascasarjana IAIN Parepare)