ISLAM dan Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dalam sejarah, budaya, dan orientasi keilmuan. Islam tidak hanya datang sebagai agama, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan yang menyatu dengan kebudayaan lokal.

Dalam konteks ini, Indonesia memegang posisi strategis dalam peta keilmuan Islam dunia. Dengan populasi Muslim terbesar, negeri ini memiliki potensi luar biasa untuk menjadi mercusuar ilmu, bukan hanya dalam lingkup nasional tetapi juga global.

Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata terhadap peradaban ilmu pengetahuan Islam global. Selama ini, Indonesia lebih banyak menjadi konsumen ilmu daripada produsen.

Baca Juga: Berminat Daftar Beasiswa Pemprov Sulbar 2025? Simak Info Penting Kepala Biro Pemkesra

Literatur, teori, dan wacana keislaman masih banyak yang mengacu pada produk pemikiran dari Timur Tengah atau Barat. Padahal, akar kultural dan intelektual Islam di Indonesia sangat kaya dan bisa menjadi dasar bagi lahirnya diskursus dan ilmu baru.

Kondisi ini mengharuskan adanya lompatan paradigma dalam dunia pendidikan dan keilmuan Islam di Indonesia. Pendidikan Islam tidak boleh lagi semata-mata menjadi pabrik penghasil guru, dai, atau mubalig. Lebih dari itu, pendidikan Islam harus mulai membentuk ulama-ulama mu’assis—para pendiri ilmu, bukan sekadar pengajar ilmu. Ulama semacam ini bukan hanya ahli dalam mengajarkan, tetapi juga kreatif dalam merumuskan teori dan metodologi keilmuan baru.

Untuk melahirkan ulama mu’assis, diperlukan pendekatan pendidikan yang lebih integral dan interdisipliner. Ilmu-ilmu keislaman klasik seperti tafsir, hadis, fikih, dan tasawuf harus dikontekstualisasikan dengan ilmu-ilmu sosial modern, seperti antropologi, sosiologi, dan filsafat. Inilah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam seperti Ibnu Khaldun yang mengawinkan sejarah dengan sosiologi, atau Imam Syafi‘i yang membangun sistematika hukum Islam yang kokoh.

Baca Juga: Yuk Daftar Beasiswa Pemprov Sulbar 2025, Link Pendaftaran Lengkap Pesyaratan Cek di Sini

Gagasan tentang “Islam Nusantara” semestinya tidak berhenti pada aspek budaya dan dakwah, tetapi dilanjutkan ke ranah keilmuan yang kokoh dan dapat bersaing di kancah global. Konsep-konsep lokal seperti kearifan lokal, gotong royong, atau musyawarah, bila dikaji secara ilmiah dan filosofis, dapat menjadi dasar lahirnya teori-teori sosial Islam yang khas Indonesia. Dengan demikian, Islam di Indonesia tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga produktif secara epistemologis.

Di sinilah pentingnya membangun pusat-pusat keunggulan keilmuan di berbagai wilayah Nusantara. Tanah Bugis bisa melahirkan Ibnu Khaldun baru jika diberi ruang dan ekosistem intelektual yang mendukung. Madura bisa menghasilkan Imam Syafi‘i baru jika pesantren-pesantren di sana diberdayakan sebagai pusat riset dan publikasi ilmiah. Jawa bisa menjadi tempat kelahiran Sibawaih baru jika pendidikan bahasa Arab digabungkan dengan kajian linguistik modern.

Langkah-langkah konkret harus segera dilakukan oleh negara, organisasi keagamaan, dan lembaga pendidikan Islam. Kurikulum harus direformulasi, riset harus difasilitasi, dan publikasi ilmiah harus diperluas jangkauannya. Kita harus membangun tradisi akademik yang mengakar secara lokal tetapi menjulang secara global. Indonesia harus memiliki jurnal ilmiah bereputasi internasional yang mengangkat khazanah keilmuan Islam dari perspektif Nusantara.

Baca Juga: Ada Perempuan, Inilah 4 Kepala Desa yang Baru Dilantik Chaidir Syam Siap Tancap Gas dalam 20 Bulan

Selain itu, regenerasi intelektual harus dirancang secara sistematis. Para santri dan mahasiswa tidak hanya diajarkan hafalan, tetapi juga diajak untuk berpikir kritis, menulis, dan membangun argumentasi ilmiah. Ulama masa depan harus mampu berdialog dengan dunia akademik internasional, menulis dalam berbagai bahasa, dan berani menggagas teori-teori baru berdasarkan khazanah lokal yang mereka miliki.

Peran pesantren sebagai pilar pendidikan Islam tradisional harus diperluas fungsinya. Pesantren jangan hanya menjadi pusat penghafalan kitab kuning, tetapi juga menjadi laboratorium ilmu yang melahirkan karya-karya ilmiah visioner. Pesantren harus diberi dukungan untuk membentuk pusat kajian multidisipliner, menggelar konferensi internasional, dan menjadi pelopor publikasi ilmiah Islam.

Demikian pula dengan perguruan tinggi Islam. Harus ada orientasi baru dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengedepankan riset-riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman. Kolaborasi antara kampus dan pesantren akan memperkuat basis epistemologis dan kultural ilmu yang dikembangkan. Inilah saatnya membangun simfoni antara tradisi dan modernitas dalam lanskap keilmuan Islam Indonesia.

Islam tidak pernah mati di tangan umatnya yang cinta ilmu. Sejarah mencatat, peradaban Islam justru berjaya ketika para ulama dan cendekiawan tidak hanya mewarisi, tetapi juga menciptakan ilmu. Indonesia dengan seluruh kekayaan intelektual dan kulturalnya bisa menjadi episentrum kebangkitan keilmuan Islam di abad 21, jika memiliki keberanian untuk bergerak melampaui zona nyaman.

Kebangkitan keilmuan Islam dari Indonesia juga merupakan jalan menuju peradaban yang lebih manusiawi. Ilmu yang lahir dari rahim kearifan lokal akan lebih kontekstual dan solutif terhadap berbagai persoalan umat. Ilmu tidak lagi asing dari kehidupan, melainkan hadir sebagai jawaban atas problematika sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual masyarakat.

Baca Juga: Gara-Gara Ini Salim S Mengga Sentil Kepala Bagian: Jangan Seperti Orang Buta Tuli!

Dengan arah baru ini, Islam di Indonesia tidak lagi hanya diposisikan sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai kekuatan masa depan. Sebuah kekuatan yang dibangun dari kerja intelektual, kerja budaya, dan kerja kolaboratif antar generasi. Di pundak para ulama dan sarjana masa depan, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk menjadi pionir dalam peta keilmuan dunia Islam.

Maka, jangan tunda. Mulailah dari ruang-ruang kecil: kelas, musholla, pesantren, kampus. Semai benih keilmuan, pelihara dengan diskusi dan karya tulis, dan panenlah peradaban. Sebab, masa depan keilmuan dunia bisa saja lahir dari desa kecil di Sulawesi, dari pondok sederhana di Madura, atau dari perpustakaan kampus sunyi di Yogyakarta. Dan ketika itu terjadi, dunia akan menoleh ke Indonesia—bukan hanya karena jumlah Muslimnya, tetapi karena kejayaan ilmunya.

Oleh: Zaenuddin Endy
Ketua DPP Ikatan Alumni Pesantren Modern (IKAPM) Aljunaidiyah Bone