MENDENGAR KABAR akan kedatangan Gurutta Menteri Agama RI di acara HAB Kemenag, maka kesempatan emas tak disia-siakan oleh panitia Milad Pondok Pesantren Al Junaidiyah Bone yang waktunya hampir bersamaan. "Milad Aljunaidiyah ke-56 jatuh pada tanggal 15 Januari 2026," kata pak kiyai Ahmad Genda sebagai ketua panitia Milad.
"Yakinlah, setiap kali ada Anre Gurutta hadir di suatu tempat, maka di situ ada berkah dan doa yang mengelilingi." kira-kira begitulah doktrin santri yang selalu sami’na wa atha’na pada anre gurutta.
Kiyai Muda Ahmad Genda lalu mengkonfirmasi bahwa "Insyaallah, kita akan mengundang Anre Gurutta Menteri Agama hadir dalam acara Milad dan isra mikraj dan mudah-mudahan beliau berkenan hadir karena bersamaan dengan momen HAB Kemenag Kanwil Sulsel dan memilih kabupaten Bone jadi tuan rumah, yang akan diselenggarakan pada tanggal 7 Januari 2026."
Maka pada bulan awal Desember 2025, ketika Gurutta menteri menghadiri acara wisuda IAIN Bone di hotel Novena Bone dan menyempatkan diri untuk berkunjung ke tanah waqaf pendirian sekretariat PCNU Bone di Jalan Jenderal Sudirman tepatnya dekat jembatan dan depan mesjid al-Amin.
Maka pada saat itulah undangan panitia milad disampaikan secara lisan kepada beliau, tepatnya di kantor sekretariat Ansor Bone, setelah beliau berganti pakaian untuk melanjutkan perjalanan dinasnya.
Baca Juga: Grab untuk Indonesia – Program Komitmen Rp100 Miliar: Sebuah Cerita dalam Tiga Babak
Tentu suatu harapan besar untuk menyampaikan langsung undangan kepada beliau, karena didorong oleh semangat agar Milad ke-56 Aljunaidiyah Bone berjalan meriah, penuh harapan, dan kehormatan.
Pada hari Selasa, 6 Januari 2026, kurang lebih pukul 22.15 Wita, saya meninggalkan acara makan malam bersama penuh silaturahim. Sedikit nostalgia mengenang masa-masa nyantri dengan para alumni MTs PMH 1988 – MA di rumah makan Mbak Pur di Jalan Jenderal Sudirman,
"Mohon maaf letting," saya sapa dan pamit lebih duluan ke teman-teman seangkatan di pondok. Mereka hadir untuk milad pondok tercinta. Segera saya bergegas pergi setelah menerima panggilan telepon dari Prof Andi Salman dan menuju Hotel Novena Jalan Ahmad Yani untuk membicarakan persiapan teknis acara Milad AlJunaidiyah pada 7 Januari 2026.
Akhirnya kami ketemu di lobby Hotel Novena Bone. Kami duduk bersama di kursi tamu depan lift hotel dengan staf ahli Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Andi Salman Maggalatung dengan posisi duduk di samping kiri saya. Di samping kanan saya ada sahabat Doktor Basnang Said selaku Direktur Pondok Pesantren Kemenag RI.
Di kursi sofa depan saya duduk Doktor H. Bahri Mappiasse sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Aljunaidiyah yang baru saja tiba dari Makassar. Pada posisi sofa bagian kiri duduk ibu penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama RI. Ibu Hajjah Helmi Nasaruddin Umar.
Baca Juga: KMD Pramuka UNM 2026 Perkuat Kompetensi Calon Pembina Penggalang dan Penegak
Malam itu kita duduk berbincang santai sambil menunggu info kepastian keberangkatan bapak Menteri Agama RI Anre Gurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. untuk menghadiri dan membuka acara puncak acara HAB (Hari Amal Bakti) Kementerian Agama ke-80 Sulsel di Bone.
Beberapa saat kemudian sudah dipastikan informasi keberangkatan beliau via phone bapak Kepala Kanwil Kemenag Sulsel Doktor Ali Yafid, yang telah siap setia menunggu dan akan mengawal perjalanan Gurutta Menteri dari Bandara Hasanuddin Makassar menuju Bone.
Pesan singkat Kak Kakanwil "Alhamdulillah, Bapak menteri dipastikan akan hadir di Bone setelah usai rapat di Hambalang dan sekaligus menghadiri acara Milad ke-56 tahun Pondok Pesantren Aljunaidiyah Bone di Passippo. Alhamdulillah, teriring doa bersama untuk keselamatan Gurutta Menteri."
Panitia HAB ke-80 Kanwil Kemenag Sulsel telah meliris info acara sebelumnya bahwa jalan santai bersama keluarga besar Kementerian Agama se-Sulawesi Selatan, akan dihadiri sekitar lima belas ribu peserta, yang dipusatkan di Lapangan Merdeka Kota Watampone, baik dari Kemenag kabupataen/kota, maupun dari BDK, PTK (Perguruan Tinggi Keagamaan) maupun PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) yang ada di Sulsel.
Acara sangat ramai dan meriah pada acara HAB di Kota Watampone pada Rabu, 7 Januari 2026. Mulai pukul 6 pagi telah dihadiri ribuan peserta yang antusias ikut jalan santai. Mereka telah memenuhi setiap jengkal tanah lapang yang berukuran standar lapangan sepak bola nasional ini yang terdapat di jantung Kota Watampone.
Masyaallah puji syukur walhamdulillah HAB sukses. Apalagi suasana dan kondisi cuaca alam yang cukup bersahabat. Langit cerah berawan menjadi penanda rahmat Allah telah turun di Bumi Arung Palakka bagi para tamu-tamu kontingen kemenag kabupaten/kota
Serta menandakan siratan ijabah doa dalam tema HAB ke-80 tahun ini “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”. Demikian juga tema ini memberi ruang arti bahwa terselip doa yang tulus dan niat suci yang jernih, untuk menanamkan cinta kasih dan toleransi yang jujur, hingga terwujud dalam harmoni keluarga besar Kementerian Agama RI.
Dimana-mana terdengar suasana canda tawa dan cerita, silaturahim antar kontingen, dan sepertinya juga ada perjumpaan, ada kerinduan, bahkan ada peserta reuni alumni kecil-kecilan yang tak terkira, seperti pada makan malam kami bersama angkatan 88/91 PMH, dan Patung Arung Palakka yang berdiri kokoh di tengah taman bunga lapangan Merdeka yang dikelilingi air mancur dan lampu mercu suar, menjadi saksi bisu akan kesuksesan dan kesyahduan acara HAB Kemenag ke-80 di Watampone.
Baca Juga: Terharu Usai Terpilih Lagi Jadi Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa Sampaikan Pesan Kebersamaan
Perkenalan saya dengan Anre Gurutta Menteri bukanlah baru pertama kali ini, apalagi saat di pertemuan kami di kantor sekret PC. Ansor Bone Jalan Pisang Lama Watampone di awal bulan Desember 2025.
Setelah Gurutta Menteri mengganti pakaian, kami sempat ngobrol singkat dan santai penuh keakraban, beliau menyapaku, "Lihin, kira-kira apa yang bagus dibangun di sini?" sambil menunjuk lokasi Kantor Ansor.
Saya hanya menjawab, "Bisa dibangun lembaga pendidikan, bisa juga buka usaha puang, tapi halaman parkirnya agak kurang luas puang, kalau sekolah yang mau dibangun, kecuali tanah rumah yang bagian depan atau samping lokasi ini ada yang mau dijual bisa lebih luas puang.".
Kurang lebih begitu percakapan singkat kami dan pak Kakanwil Dr. Ali Yafid, turut mengatur rencana acara sambil berkata ke Anre Gurutta dalam bahasa Bugis bercampur Indonesia, "Tabe puang, insyaallah, ko purani matu dibukka acarae HAB dan jalan santai bersama, kita berpindah ke acara Milad alJunaidiyah di Passippo." Kata Gurutta, "Ya silakan diatur saja." sambil menoleh ke Pak Akmal, staf sekertaris Gurutta Menteri.
Alhamdulillah, Pada Rabu, 7 Januari 2026 sekitar pukul 10.15 Wita, mobil patwal polisi mengawal Anre Gurutta Menteri Agama RI yang ke 25, berangkat meninggalkan rumah jabatan Bupati Bone menuju Passippo Kecamatan Palakka Bone, tempat acara Milad Aljunaidiyah ke-56 dan peringatan isra mikraj akan dilangsungkan.
Baca Juga: BREAKING NEWS: Prof Jamaluddin Jompa Oppo' Pimpin Unhas, Menang Mutlak 95,83 persen
Ratusan santri yang mengenakan baju kokoh putih berdiri di pinggir jalan masuk pondok dengan riang gembira, memberi hormat, takzim, dan ucapan salam, demikian pula para kiyai, guru, pembina dan pengasuh Pesantren Aljunaidiyah yang mengenakan sarung dan jas almamater biru Aljunaidiyah telah berdiri siap menanti kedatangan Anre Gurutta turun dari mobil.
"Assalamualaikum." demikian terdengar suara lirih ucapan salam perhormatan, dan tak lama kemudian terdengar bunyi suara gendang nasyid dengan alat musik hadrah, oleh santri Qismul Fanniy Aljunaidiyah.
Sambil melantunkan shalawat dan salam kepada Nabi SAW yang didendangkan oleh para santri aljunaidiyah Bone, sebagai petanda hormat dan takzim kepada para tamu undangan, dilanjutkan pengalungan sarung sabbe cora’ lebba yang dihiasi dengan kembang bunga ke pundak Anre Gurutta Menteri yang dikalungkan oleh pimpinan Pondok Pesantren Modern Aljunaidiyah Gurutta Dr. KH. Abul Khaer, M.Sy.
Kehadiran Anre Gurutta Menteri di pondok Passippo juga didampingi oleh Bupati Bone Andi Asman Sulaeman dan Wakil Bupati Bone Dr Andi Akmal Pasluddin, serta Ketua DPRD Bone, dan para unsur pejabat Forkopinda Bone, dan para pejabat daerah Bone, Petta Camat Palakka, Petta Desa Passippo.
Para rektor PTKIN yang sempat hadir, ada Prof. Hamdan Juhannis, para guru besar UIN Alauddin Makassar. Hadir pula Dr. Abbas langaji selaku Rektor UIN Palopo dan para guru besarnya yang mendampingi.
Hadir pula para dosen dari IAIN Bone, dan Kakandep Kabupaten Wajo Gurutta KH. Subhan, Kakandep Kabupateb Mamasa sahabat Ramli Leha, para kepala sekolah dan madrasah, serta para ketua dan pimpinan ormas Islam dan kemasyarakatan, serta para alumni Aljunaidiyah, dan selanjutnya para undangan terus naik tangga masuk ke mesjid pondok Passippo.
Karena padatnya acara Anre Gurutta Menteri maka tentu panitia melakukan setting susunan acara yang akan terfokus pada acara inti Milad dan isra mikraj. Maka setelah Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Pesantren Aljunaidiyah, Gurutta Dr. H. Bahri Mappiasse, memberi kata sambutan dan perhormatan kepada seluruh tamu dan undangan serta terkhusus perhormatan pada Gurutta Menteri, kemudian dilanjutkan sambutan Bupati Bone Andi Asman Sulaeman.
Setelah itu barulah Anre Gurutta Menteri Agama memberi ceramah milad dan isra mikraj, ada suasana bahagia dan terharu, ketika melihat Pak Menteri berdiri di atas podium menyampaikan ucapan selamat Milad Aljunaidiyah ke-56, serta menyampaikan kisah dan hikmah isra mikraj Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tafsir dan tahlil yang sangat teosofis.
Baca Juga: 6 Tokoh Eksternal Universitas Hasanuddin Ikut Jadi Penentu Rektor Unhas 2026–2030, Ini Nama-Namanya
Anre Gurutta memulai ceramah isra mikraj dengan penjelasan dialektika kata “berjalan” dalam bahasa Arab yang memiliki ragam makna terminologi dalam Mufradat Arab.
Ada kata “sara, asra”. Ada kata bermakna berjalan dari atas ke bawah namanya “tanazzala”.
Ada makna kata berjalan dari bawah ke atas "araja-mi’raj”, bermakna perjalanan spritual. Ada jalan-jalan wisata dalam bahasa arab “tamassya”.
Ada juga kata “salaka-yasluku”, sebagaimana kata itu dipakai dalam hadis nabi saw bermakna; “berjalan menutut ilmu”.
Lalu ada kata “tharaqa-yathrurqu” juga bermakna berjalan dan juga ada kata “syara’a” juga bermakna berjalan dan lain-lain.
Baca Juga: Jalan Hertasning Mulai Diaspal dengan Target Rampung Juli. Lihat Progresnya
Uraian panjang lebar beliau jelaskan sesekali dengan nada bertanya kepada para hadirin, termasuk bertanya kepada para santri Aljunaidiyah yang menjadi audience yang memenuhi area mesjid pondok passippo.
Lebih lanjut beliau menjelaskan dalam cerahmanya, bahwa kenapa ayat isra diawali dengan kata subhana (mahasuci Allah)? Ini bermakna ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh akal, salah satunya adalah peristiwa isra mikraj, perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis disebut isra. Satu bulan berangkat ke Baitul Maqdis Palestina. Dan satu bulan perjalanan pulang balik ke Makkah. Tentu akal pikiran tak dapat menjangkaunya.
Lebih lanjut Gurutta menjelaskan bahwa perjalanan naik menuju Tuhan disebut mikraj, demikian pula kata subhana, artinya menyucikan atau melakukan tanzih yang bermakna menjauhkan pikiran manusia dari apa-apa yang tak pantas untuk Allah, dari segala hal yang bermakna negatif.
Lebih jauh pula Gurutta menjelaskan bahwa tanzih ada dua jenis, yaitu tanzih subbuhiy dan tanzih quddusiy. Adapun makna tanzih subbuhiy yaitu tidak boleh berkata kepada Allah yang tdak baik, misalnya Allah tidak adil (negatif). Sedangkan makna tanzih quddusiy, yaitu menjauhkan Allah dari sifat (positif) Allah Maha Pintar. Hal ini dianggap tidak cukup, maka harus juga dibersihkan sambil mengutip ayat, “Subhanallahi amma yasifun."
Saya pribadi terkesima menyimak uraian “tanzih” itu, lalu saya bergumam sendiri "Pantas ya pada saat kita habis shalat tarawih dan witir di Ramadhan, biasanya puang imang membaca zikir, subbuhun quddusun rabbuna wa rabbul malaikati warruh." Artinya seorang hamba benar-benar mensucikan Allah dari segala sesuatu.
Dengan penuh semangat para hadirin terus menyimak ceramah Anre Gurutta, lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa kisah isra mikraj dianggap "la majaal lil aqli” artinya “tidak ada ruang bagi akal pikiran manusia untuk dapat menjakaunya."
Oleh karena itulah, akal tak perlu menanyakan “Ketika Nabi saw diperjalankan jangan tanya Nabi pakai jaket apa ya? Kok bisa berjalan?.”
Demikian pula pada ayat kenapa digunakan kata “bi abdihi”, bukan langsung saja kata nama nabi saw “Muhammad”, bukan yang digunakan kata “aabidun” karena maknanya “penyembah”, dan bukan pula dengan kata “abiidun” yang bermakna “penyembah Allah tapi musyrik, karena juga menyembah selain Allah, sedangkan kata “abdun”; rahasia maknanya berkonotasi pada makna positif, bukan konotasi pada makna negatif.
Demikina pula makna pada kata “lailan”, memiliki makna denotatif yaitu: “gelap dan malam”, dan memiliki makna konotatif yaitu: kata “lail” itu bukan hanya bermakna malam, tapi juga bermakna “hening, kehangatan, kerinduan kepasrahan”.
Baca Juga: Pemilihan Rektor Unhas Periode 2026-2030 Digelar Hari Ini, Simak Tahapan Lengkapnya!
Sehingga muncul hikmah bahwa; “amalan ibadah yang dilakukan pada malam hari, lebih banyak perintah untuk dilakukan, dibanding ibadah pada siang hari”, karena makna “lailan” yang sangat variatif dan penuh hikmah. Sehingga bisa jadi shalat yang dilakukan di malam hari, lebih khusyu dari shalat di waktu siang hari.
Terakhir Gurutta Menteri menjelaskan makna “masjidun” pada ayat isra. Beliau menjelaskan bahwa kata “masjid” berasal dari kata bahasa Arab dari akar kata “sajada”, artinya bersujud. Maka masjidun adalah tempat untuk menundukkan kepala dan mendekatkan diri kepada Allah subahanahu wa ta’ala. Terakhir beliau mengutip ayat “wasjud waqtarib”. Demikian sekelumit hikmah isra miraj dari Anre Gurutta Menteri. Terakhir beliau menutup acara dengan meminpin doa.
Selamat dan sukses Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-80 (3 Januari 2026), serta selamat dan sukses Milad Pondok Pesantren Modern Al Junaidiyah Bone ke-56 (15 Januari 2026).
Bersama Anre Gurutta Menteri Agama RI ada berkah, doa dan harmoni di antara kita. Wa Allahu a’lam bi ssawab. Wa Allahu al-Musta’an wa ilaihi qashdu sabil.
Penulis: Muslihin Sultan



