SEORANG kawan bertanya pandangan saya soal debat tempo hari. Saya jawab, saya tidak menonton debat. Saya tertidur. Mata saya sudah lelah sekali, saat itu.

Tapi buku ini, saya rasa, dapat membantu kita menguak kesalahan-kesalahan logika dalam perdebatan.

Memang dalam debat itu, bukan sekedar logika, melainkan ada persuasi, retorika, juga butuh kecerdasan. Apalagi dalam format debat dibatasi waktu bicara masing-masing kandidat.

Baca Juga: Ini Tiga Tugas Besar Menanti Pj Bupati Polman, Muhammad Ilham Borahima. Apa Saja?

Tentu, sangat tidak beralasan, kalau kita berharap setiap proposisi secara tepat dan teliti mengikuti premis awal (silogisme). Jujur saja, apakah debat tempo hari itu, untuk menemukan kebenaran ataukah kemenangan.

Kata buku ini: seringkali kita menemukan orang yang mengukur kebenaran dengan keimanan seseorang. Atau, mengukur benar-salahnya suatu pandangan dengan suara orang banyak.

Urusan salah dan benar dengan menggantungkan kepada otoritas tertentu, atau berdasarkan pengalaman pribadi semata. Pertanyaannya kemudian: apakah cara berpikir begitu dapat dibenarkan?

Baca Juga: Bahtiar Baharuddin Tanam Sukun dan Cabai di Parepare. Bukan Sekadar Ketahanan Pangan!

Jadi, untuk apa kita membaca dan mempelajari logical fallacy.

Pertama, kita akan tampak lebih keren. Kita tidak hanya bisa menunjukkan ada kesalahan penalaran dalam acara debat di televisi itu, kita juga dapat memberi nama kesalahan atau kekeliruan berpikir itu dalam bahasa Latin.

Seperti, argumentum ad populum, post hoc ergo propter hoc. Atau, ungkapan-ungkapan seperti, red herring, strawman.

Baca Juga: Suleman Akui Ada Loncatan Tanggung Jawab Jabat Kepala Biro AUPK UIN Alauddin Makassar

Kedua, kita dapat menunjukkan diri kita dalam memahami lebih jauh argumentasi dalam perdebatan. Kita dapat berpikir lebih mandiri.

Tadi pagi, di salah satu media online, saya menemukan kalimat seperti ini: tentara kita separuhnya tidak punya rumah dinas.

Baca Juga: Pj Gubernur Sulsel Apresiasi Akbar Ali yang Berhasil Kendalikan Inflasi di Kota Parepare

Sementara menterinya punya lebih 340.000 hektar tanah di republik ini. Kalimat ini, kata berita itu, muncul dalam debat.

Pertanyaannya, apakah dalam kalimat proposisi ini terdapat kesalahan penalaran (logical fallacy)? Apa yang membuat saya tertarik membaca buku ini?

Buku ini hadir sebagai upaya kecil mewujudkan cita-cita yang mulia. Bahwa, debat atau diskusi yang sehat adalah awal dari kehidupan intelektual yang bermartabat.

Baca Juga: Berapa Daya Tampung MAN IC Gowa? SNPDB Madrasah Kemenag Dibuka Hingga 17 Februari

Semua ini bisa dicapai, kalau kita tahu tentang teknik membangun sekaligus merespon argumen dengan cara-cara yang tepat.

Penulis:
Judy Rahardjo