RAMADHAN selalu dimaknai sebagai bulan suci: pengampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan momentum refleksi spiritual. Antusiasme umat Islam di Indonesia tak pernah surut. Namun jika dulu euforia itu terutama terlihat di televisi, hari ini pusat keramaian telah bergeser: ke linimasa, FYP, reels, live streaming, dan marketplace yang menyatu dengan media sosial.
Jika pada era televisi, Ramadhan adalah “ceruk pasar” yang menjanjikan lonjakan iklan, kini Ramadhan adalah musim panen atensi di ekosistem digital. Platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, hingga Facebook bukan sekadar menayangkan konten bernuansa religi, tetapi mengoptimalkannya melalui algoritma yang membaca pola konsumsi, durasi tonton, interaksi, hingga kecenderungan belanja pengguna.
Jika dulu televisi “menjual audiens kepada pengiklan”, kini platform digital menjual data perilaku audiens secara jauh lebih presisi. Dalam konteks ini, tesis Dallas Smythe tentang audiens sebagai komoditas menjadi semakin relevan, bahkan lebih ekstrem. Bukan hanya waktu luang yang dikomodifikasi, tetapi juga preferensi, emosi, jaringan pertemanan, hingga momentum spiritual.
Ramadhan di media sosial tampil dalam berbagai bentuk: konten dakwah singkat, podcast religi, challenge kebaikan, konten buka puasa, live shopping menjelang sahur, endorsement busana muslim, hingga “aesthetic Ramadan routine”.
Konten religi bercampur tanpa sekat dengan promosi diskon flash sale. Live streaming sahur bukan hanya ruang tausiyah, tapi juga etalase produk. Marketplace terintegrasi dengan fitur live dan keranjang kuning membuat batas antara ibadah, hiburan, dan konsumsi menjadi kabur.
Baca Juga: Atase Arab Saudi Jadi Pembicara Ramadhan Leadership Camp, Kupas Akhlak Muslim dalam Bekerja
Logikanya tetap sama seperti era televisi: bukan semata “to entertain” atau “to educate”, melainkan “to retain attention”. Atensi adalah mata uang. Engagement adalah metrik iman baru dalam industri digital. Semakin tinggi watch time dan interaksi, semakin mahal nilai komersialnya.
Di era televisi, peningkatan iklan saat Ramadhan bisa diukur dari durasi spot iklan. Kini, peningkatan itu tampak dalam: lonjakan CPM dan CPC iklan digital, peningkatan GMV live commerce, naiknya traffic e-commerce saat sahur dan menjelang berbuka, serta meledaknya kolaborasi brand dengan kreator religi.
Kreator konten pun menjadi perpanjangan tangan industri. Mereka bukan sekadar produsen makna, tetapi juga simpul distribusi komoditas. Otoritas keagamaan tak lagi monopoli ulama atau lembaga formal; algoritma ikut menentukan siapa yang dianggap “otoritatif” berdasarkan performa konten, bukan kedalaman ilmu. Di sinilah kita melihat pergeseran: dari kepakaran ke popularitas.
Masalah kualitas konten yang dulu dikritik pada variety show televisi kini menjelma dalam bentuk lain: dakwah instan, potongan ceramah tanpa konteks, komedi religi yang dangkal, atau motivasi spiritual yang dibalut hiper-konsumsi. Selama konten itu viral, ia dianggap berhasil. Parameter keberhasilan bukan lagi kebermanfaatan, tetapi performa metrik.
Ramadhan, dalam ekosistem digital, adalah momentum optimasi. Platform mengoptimasi distribusi. Brand mengoptimasi konversi. Kreator mengoptimasi engagement. Semua bekerja dalam satu ekosistem kapitalisme digital yang lebih canggih daripada era televisi.
Baca Juga: Polrestabes Makassar Gelar Tes Urine Mendadak PJU dan 11 Kapolsek, Ini 5 Parameter Diperiksa
Jika tayangan televisi Ramadhan dulu dipertanyakan dampak spiritualnya setelah bulan suci berlalu, maka pertanyaan yang sama kini relevan untuk media sosial:
Apakah banjir konten religi benar-benar meninggalkan jejak transformasi, atau sekadar menjadi tren musiman yang hilang bersama hashtag Ramadhan?
Setelah Idul Fitri usai, algoritma kembali mempromosikan konten hiburan biasa. Diskon berhenti. Live religi meredup. Masyarakat kembali pada ritme konsumsi sebelumnya. Tradisi komodifikasi ini terus berulang, hanya medianya yang berubah.
Ramadhan tetap suci. Namun ruang publik tempat ia dirayakan kini sepenuhnya berada dalam logika ekonomi atensi. Kapitalisme tak lagi hanya merambah waktu luang, tetapi juga ruang spiritual.
Penulis: Muh. Iswar Ramadhan (Pranata Humas Diskominfo Sulawesi Selatan)

