SECARA Konotatif, maupun Denotatif, kata Press (Pers) bermakna Jurnalis dan Media. Konotasi adalah sebuah kata yang mengandung makna kias atau bukan kata sebenarnya, sedangkan denotasi merupakan kata yang memiliki arti sebenarnya dan apa adanya seperti sehari-hari kita gunakan. Makna konotatif dipengaruhi nilai dan norma dipegang masyarakat.

Secara Etimologis (Ilmu linguistik yang mempelajari asal-usul suatu kata), kata Pers (Belanda), atau Press (Inggris), atau Presse (Prancis), berasal dari bahasa latin, 'Perssare' diambil dari kata 'Premere', yang berarti 'Tekan' atau 'Cetak' definisi terminologi adalah 'media massa cetak' atau 'media cetak'.

Media massa atau Pers adalah istilah yang mulai digunakan pada era 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain mencapai masyarakat luas.
Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media (surat kabar, radio, televisi dan online media-portal berita). Fungsi keseluruhan media itu sama di seluruh dunia.

Baca Juga: Bawaslu Kota Makassar Akan Rekrut 4.004 Pengawas TPS, Ahmad Ahsanul Fadhil Ajak Warga Berpartisipasi, Berikut Timelinenya

Lihat 'The Press' surat kabar harian diterbitkan di Christchurch, Selandia Baru, dimiliki jaringan bisnis media Stuff Ltd. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1861, surat kabar itu merupakan media harian dengan sirkulasi terbesar di Pulau Selatan dan terbit dari Senin hingga Sabtu.

Ada juga catatan sejarah Johann Carolus berkeinginan menambah penghasilannya. Dengan ide menulis dan mencetak tulisan yang memuat beberapa berita saat itu dan akhirnya tulisannya diterbitkan pada tahun 1605 dari situlah koran 'Relation' pertama kali lahir.

Untuk Press, catatan sejarah Nusantara (Indonesia) menyebutkan pada 1744 dilakukan percobaan pertama menerbitkan media massa dengan diterbitkannya surat kabar pada masa pemerintah Gubernur Jenderal Van Imhoff, dengan nama "Bataviasche Nouvelles", namun surat kabar itu hanya mampu hidup dua tahun.

Baca Juga: Seleksi Tahap II Calon Petugas Haji Akan Digelar di Aula Kanwil Kemenag Sulsel, Ada Info Penting untuk Para Peserta!

Setelah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff menjabat, terbitlah surat kabar "Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen" yang artinya "Berita dan Penalaran Politik Batavia" pada 7 Agustus 1744. Pers era Hindia Belanda itu akhirnya memicu kemunculan Pers Pribumi.

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo, lahir di Blora, 1880-1918, dikukuhkan sebagai 'Bapak Pers Nasional' karena jasanya sebagai perintis jurnalistik nasional. Beliau mendirikan surat kabar pertama yang dimiliki dan dikelola pribumi, yaitu Medan Prijaji di Bandung, 1907-1912.

Secara keilmuan dikenal empat teori pers yang dikemukakan tiga profesor komunikasi Amerika Serika, Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm. Teori pers itu dikemukakan ketiganya sekira 80 tahun silam. Keempat teori pers itu adalah; a) Teori Pers Otoritarian; b) Libertarian; c) Komunis Uni Soviet, dan; d) Tanggung Jawab Sosial di Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Pantau Gereja Katedral di Makassar, Plh Dirjen Adwil Kemendagri Apresiasi Pengamanan Natal di Sulsel

Press (tekan) berkorelasi pada fungsi dan sifatnya sebagai pengontrol. Kisah kecemerlangan tekanan pers sebagai pengontrol sosial juga pemerintah, menjadi catatan sejarah kelam bagi Negara AS. Karena pemberitaan Presiden Richard Milhous Nixon, Presiden AS ke-36 & 37, meletakkan jabatan presiden dan memicu krisis konstitusi AS pada tahun 1970-an.

Di Indonesia Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Pers di Indonesia menganut sistem khas Indonesia, yakni "Pers Pancasila" oleh Dewan Pers dalam sidang ke-25 didefinisikan sebagai “pers yang orientasi, sikap dan tingkah lakunya berdasarkan pada nilai- nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945”. Apakah Pers Pancasila sudah melakukan fungsinya?

Malino, 24 Desember 2023

Penulis:
Zulkarnain Hamson
Direktur ZH Konsultan Jurnalisme & Media