SEKITAR akhir 2000-an saya ditanya soal jalur Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) '92 itu, tentang sebuah tempat bernama “Batu Komodo” di pegunungan Lompobattang. Ketika itu saya bingung untuk langsung menjawabnya.
Dengan pengalaman terlibat di perintisan jalur ditambah beberapa perjalanan setelah itu, saya memang otomatis jadi cukup akrab dengan detil topografi di area tersebut.
Saya dahulu bahkan mengenal warga Panaikang penggembala sapi dan kuda di kawasan Ramma dan warga Lengkese yang menggembala di kawasan Lemballowe. Tapi untuk nama itu, saya sama sekali tidak pernah mengetahuinya.
Baca Juga: Bupati Indah Lepas Empat Paskibraka Ikuti Seleksi di Tingkat Provinsi Sulsel
Nanti setelah mengkonfirmasikan ciri-cirinya baru saya sadar bawa yang dimaksud Batu Komodo itu sesungguhnya adalah Makkayya, akses “teraman” kami ke kawasan Lemballowe dulu. Saya merasa miris ketika mengetahui yang bertanya ternyata tidak mengetahui nama asli pemberian penduduk kepada tempat itu.
Kok nama Makkayya diusik? Siapa yang merubahnya? Nihil jawaban.
Tahun 2014 hal sama terulang dalam versi sedikit berbeda. Saya tertahan di Makassar beberapa minggu karena urusan adminstrasi kepindahanku ke kantor lain. Jadi cukup waktu bagi saya untuk menjawab rasa penasaran terhadap kondisi kawasan Ramma atau kawasan Lemballowe saat itu.
Baca Juga: Bupati Maros Keluarkan Imbauan Tidak Lakukan Study Tour di Luar Kota
Anak-anak muda yang bugar - Arif, Rambo dan Andy Nower - bersedia menemani. Saya akhirnya memilih Ramma sekalian agar bisa bernostalgia dengan penduduk Lembanna.
Sehari sebelum berangkat, saya coba akses mesin pencari di internet dan memasukkan keyword Ramma. Betapa terkejutnya saya ketika menyaksikan halaman pertama Google dipenuhi dengan artikel tentang Ramma berlabel kata awal “Lembah”. Hal sama juga berlaku pada Lemballowe. Semua menyebutnya dengan Lembah.
Lebih terkejut lagi, ketika saya membaca beberapa artikel dan menemukan keseragaman penamaan Puncak Talung untuk tempat datar di atas kawasan Ramma. Apa-apaan ini?
Baca Juga: Inilah 3 OPD Baru di Pemkab Maros Hasil Perombakan, Mulai Berlaku Tahun Depan
Ketiga anak muda yang menemani saya juga cuma diam ketika saya katakan bahwa dalam perspektif Navigasi Darat, Ramma dan Lemballowe bukan “Lembah”. Di peta yang dulu kami gunakan keduanya jelas tertulis dengan B. Ramma dan B. Lemballowe plus keterangan ketinggian masing-masing.
Saya lalu tunjukkan puncak Ramma kepada mereka. Saya juga mengajak mereka untuk melakukan Resection di tempat terbuka di atas Ramma itu. Saya tunjukkan puncak Talung yang sebenarnya dan membiarkan mereka yang menghitung sendiri jaraknya dari tempat terbuka itu. Hasilnya sekitar 500 meter dalam jarak datar atau kira-kira 1 karvak di peta Bakosurtanal. Tentu bukan jarak yang dekat.
Tahun 1996 ada tiga orang yang melakukan summit attempt ke Everest. Satu orang berhasil menyentuh triangulasi, satunya berhasil tiba sekitar 16 meter dari puncak dan yang terakhir hanya mampu tiba sekitar 30 meter. Orang terakhir ini kemudian tidak diberikan sertifikat sebagai summiter di Everest.
Jika menggunakan kaidah ini, tentu penamaan tempat terbuka di atas Ramma sebagai puncak Talung sungguh sebuah kesalahan besar. Tapi siapa yang begitu semberono melakukannya? Nihil jawaban juga.
Hal ini nampaknya terus terjadi. Bahkan lebih parah. Bulan lalu saya menonton salah satu channel Youtube yang mengisahkan pendakian ke Bulu Baria oleh beberapa anak muda. Awalnya asyik saja melihat semangat mereka. Pengambilan gambarnya juga oke.
Baca Juga: Polrestabes Makassar Akhirnya Berhasil Tangkap Pelaku Pencurian Perangkat di Data Center XL Axiata
Tapi lagi-lagi saya dibuat terkejut oleh narasinya. Di satu scene sempat disebutkan sebuah nama sebagai “puncak tusuk gigi”. Setelah memperhatikan lebih jauh, saya jadi yakin itu adalah tonjolan batu tegak menjulang yang oleh penduduk sekitar disebut dengan “Tau-tauwa”.
Kacaunya lagi, dalam keterangan selanjutnya di channel itu disebutkan bahwa Ko’bang adalah Moncong Lompobattang. Padahal itu jelas dua tempat yang berbeda, baik merujuk pada keterangan penduduk sekitar mau pun dari informasi di peta. Siapa yang merubahnya?
Saya pikir cuma singgasana Ratu Balqis yang bisa dipindahkan dari istana beliau di Saba’ ke istana Nabi Sulaiman AS. Ada generasi pendaki gunung yang ternyata juga bisa memindakan Moncong Lompobattang ke Ko’bang. Hebat sekali!
Baca Juga: Begini Konsep Stadion di GOR Sudiang yang Akan Dibangun Pakai Anggaran APBN
Kalau tidak percaya, silahkan akses Google Map via HP dan ketikkan keyword Moncong Lompobattang maka akan muncul satu nama yang sama untuk dua tempat berbeda.
Mengapa begitu lancang memindahkannya? Mengapa tidak mencontoh Conrad Anker, Dave Hahn dan tim mereka yang tidak sembarang mengutak-atik sesuatu di gunung? Padahal mereka bukan nama-nama sembarang di dunia pendakian gunung.
Penduduk di kaki gunung tentu tidak sembarang menamakan sebuah tempat di gunung. Ada dasar dari segala aspek kehidupan yang mereka anut ratusan tahun yang bisa kita telusuri hanya dari sebuah nama tempat - pun untuk nama yang berdasar dari bentuknya seperti Tau-tauwa.
Baca Juga: Sterilisasi Parkir Liar depan Asrama Haji Sudiang Makassar, Camat Biringkanaya Gerak Cepat
Kita bisa belajar banyak hal dari nama-nama yang mereka berikan. Mengapa harus menamakannya puncak tusuk gigi atau mengganti Makkayya dengan batu komodo?
Kalau tidak tahu, mengapa tidak bertanya ke penduduk sekitar? Mengapa tidak meneladani Doug Scott, Peter Boardman dan Joe Tasker yang sangat menghormati penduduk di kaki gunung dengan segala aspeknya? Padahal kita ini dibanding mereka hanya “kacangan” dalam pengalaman dan prestasi di dunia pendakian gunung.
Kalau belum keluar dari Google Map di HP Anda, coba zoom untuk melihat lebih detil. Maka akan muncul nama-nama seperti lembah Ramma, lembah Lohe, danau Tanralili, danau Slank, danau Ramma atau puncak lembah Perahu. Menurut saya, ini juga sebuah penyematan yang keliru - untuk tidak dikatakan sebuah kedunguan.
Pelabelan lembah pada Ramma dan Lemballowe menjadi bertentangan jika diperhadapkan pada ciri-ciri lembah di diktat-diktat Navigasi Darat karena di peta keduanya adalah nama gunung. Kalau yang dimaksud adalah kawasan cenderung datar dan luas di sekitar keduanya, maka itu pun belum bisa langsung dibenarkan. Masih dibutuhkan kajian berdasar ilmu pengetahuan.
Label danau juga idem. Bagaimana kalau itu telaga atau bahkan cuma genangan yang temporer? Semua istilah itu punya karakteristik yang berbeda. Butuh legitimasi dari para ahli Geomorfologi untuk label lembah atau danau pada tempat-tempat itu. Makanya kami-kami dulu tidak pernah melakukannya.
Tapi mengapa mereka-mereka sekarang serampangan melabelinya? Mengapa tidak mengembalikan hak tersebiut ke “pemilik” ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan itu? Mengapa tidak mengikuti sikap kawan saya yang mengembalikan hak hanger di MIA kepada pemiliknya?
Baca Juga: Tomas Galesong Sebut Sulsel Butuh Sosok Ilham Arief Sirajuddin, IAS Minta Didoakan
Lantas apa hak kita seenaknya memberi, mengganti atau melabeli tempat-tempat di gunung dengan nama atau istilah semau kita?
Kalau beralasan bahwa Qomolangma juga dulu diubah menjadi Everest, itu salah besar. Pemberian nama Everest sangat berdasar. Sir Andrew Waugh, pimpinan Surveyor India-Inggris yang menemukan gunung itu sebagai yang tertinggi di dunia, tidak dapat menemukan nama yang umum digunakan akibat banyaknya nama lokal untuk gunung itu.
Dia mempertimbangkan aspek sosial yang akan terjadi bila memilih satu nama. Di sisi lain pihak Tibet dan Nepal tidak membuka wilayahnya untuk orang asing ketika itu sehingga kordinasi tidak dapat dilakukan. Komitmen tim survey itu sejak awal memang tetap menggunakan nama lokal bagi gunung-gunung yang mereka ukur ketinggiannya.
Baca Juga: Kloter 1 Embarkasi Makassar Tiba di Kota Madinah, Jemaah Sujud Syukur
Uniknya lagi, nama Everest yang diusulkan Waugh untuk menghargai pejabat pendahulunya itu justru ditentang oleh Sir George Everest sendiri. Dia beralasan bahwa namanya tidak dapat ditulis dalam bahasa Hindi dan sulit diucapkan oleh penduduk asli India.
Jelas, hanya satu pertimbangan bagi dua argumen berbeda dari ilmuan-ilmuan itu; penghormatan terhadap penduduk sekitar. Butuh beberapa tahun hingga nama Everest akhirnya bisa disepakati sebagai nama gunung itu dengan cara yang sangat bermartabat.
Dan martabat itu yang tidak terlihat pada kita sekarang. Saya sengaja mencantumkan cerita perintisan jalur di kawasan Ramma dan Lemballowe dengan menyebut nama-nama yang berkontribusi ketika itu hanya untuk mempertegas bahwa puluhan tahun lalu sudah ada yang ke tempat-tempat itu tanpa seorang pun dari mereka yang punya niat untuk memberi, mengganti atau melabeli tanpa ilmu nama tempat-tempat yang ada di atas sana.
Baca Juga: Reaksi Bahtiar Baharuddin Soal Kabar Pergantian Pj Gubernur Sulsel
Kami tahu tempat yang punya nama dan tidak di kawasan itu. Saya yakin hanya sedikit - bahkan mungkin tidak ada lagi - sekarang yang mengetahui letak B. Polobotting, B. Lampementeng, B. Taboeakang, B. Timbalajarak, B. Lorongbale atau bahkan S. Djampeedja.
Padahal beberapa dari tempat itu letaknya sangat dekat dari rute yang ada di sana. Kami tahu letaknya, tapi sekaligus juga tahu bahwa kami tidak berhak mengganti namanya!
Tindakan ini bagi saya - sengaja atau tidak - sudah mengarah kepada vandalisme teradap antropologi.
Jika terus berlangsung, kita bisa saja kehilangan gambaran utuh tentang interaksi masyarakat sekitar selama ini dengan pegunungan itu. Akar sosial budaya yang sudah tertanam dalam mungkin berabad-abad lamanya, seolah-olah dicabut dengan sangat brutal.
Yang paling “berhak” terhadap gunung itu di antara kita semua tentu penduduk sekitar kakinya; masyarakat adat. Mereka hidup turun temurun di sekitarnya sejak lama. Kita semua tak lebih dari pengunjung; tamu yang sewaktu-waktu bisa diusir bila macam-macam di rumah orang.
Sebuah ironi tentu bila ini dilakukan oleh mereka yang membawa atribut Mahasiswa Pencinta Alam (MPA)/Kelompok Pencinta Alam (KPA) pada dirinya. Kalau pun dilakukan oleh mereka yang mendaki gunung “sekali seumur hidup”-nya, tetap saja menjadi ironi.
Ke mana fungsi kontrol MPA selama ini? Kenapa tidak ada upaya untuk meluruskan? Dulu ketika mulai ramai teman-teman dari Jawa berekspedisi ke puncak Rante Mario, seringkali mereka menamainya dengan “Ekspedisi Gunung Latimojong”.
Baca Juga: Bahtiar Baharuddin Bawa Kabar Gembira dari Musrembangnas, Stadion Masuk Dokumen Pembangunan Nasional
Kalangan MPA lah yang menjelaskan bahwa Latimojong adalah nama pegunungan di mana puncak itu bersemayam. Puncak tertinggi di Sulawesi itu oleh penduduk sekitar disebut Rante Mario atau Batu Bolong.
Puncak Latimojong sendiri memang ada tapi jauh terletak dekat puncak Aruan dan Tallu di tenggara pegunungan itu. Kekeliruan pun akhirnya padam.
Apakah kita sekarang sudah begitu defisit literasi terhadap kegiatan ini? Atau lebih banyak memainkan mobile legend ketika di kota dibanding mengakses informasi tentang sejarah pendakian gunung, antropologi kita sendiri atau hal bermanfaat lain yang mendukung kegiatan kita? Atau kita cuma menjadikan gunung sebagai ajang jago-jagoan saja sehingga tidak membutuhkan referensi?
Se-distopia itu kah kita sekarang? FYI, generasi pendahulu kita bukan orang-orang berotak kerdil. Sebut saja Horace-Benedict de Saussure, Edward Whymper, Clinton Dent, A.M. Kellas, George Mallory, Soe Hok Gie atau Norman Edwin.
Baca Juga: Momen Zudan Arif Fakrulloh Pamit di Pembukaan MTQ Sulbar: Ini Berkah Bagi Saya
Bahkan orang yang dianggap pencetus pendakian gunung dalam bentuk paling umum sekarang ini - yang memuat aspek olah raga dan rekreasi atau sebagai hobi - Alfred Wills, bukan seorang yang bertipikal koboi sok jago. Dia adalah seorang hakim di Pengadilan Tinggi Inggris.
Bagaimana pun, saya harus menyisakan sedikit optimisme bahwa kondisi ini bisa berubah. Atau diubah. Terutama oleh kalangan MPA. Mungkin yang diperlukan cuma mereset mind set kita terlebih dahulu. Menganggap gunung sebagai museum atau perpustakaan di mana ketika mengunjunginya kita bebas mengambil pelajaran dari benda-benda yang dipajang tanpa harus mengutak-atik figuranya dan tidak mencuri buku yang sudah kita baca untuk dibawa pulang.
Menganggap gunung sebagai sekolah dengan kelas tanpa dinding, jam belajar tanpa lonceng dan diktat tanpa judul. Gurunya adalah gunung dan diri kita sendiri. Soal ujiannya adalah pertanyaan hasil kontemplasi benak kita.
Baca Juga: Momen Zudan Arif Fakrulloh Pamit di Pembukaan MTQ Sulbar: Ini Berkah Bagi Saya
Tidak ada jawaban yang salah, hanya benar atau mengulang lagi – jika masih ada kesempatan. Tidak ada upaya curang untuk menyontek karena setiap orang akan mengambil pelajarannya masing-masing. Dan karena setiap pendakian selalu menyajikan pelajaran berbeda, meski dilakukan di gunung yangt sama.
Terlalu banyak pertanyaan di benak sebelum doa tidurku malam ini. Semoga saja bisa nyenyak dan bermimpi indah. Agaknya saya harus menambah satu doa untuk mereka yang telah memberi, mengganti atau melabeli tempat-tempat di gunung dengan nama atau istilah secara semberono.
Semoga saja mereka juga bisa nyenyak dan bermimpi indah. Setidaknya bermimpi basah. Agar mereka tidak menyalurkan libidonya di tempat-tempat damai di atas sana.(Selesai)(***)
WDG, Watampone saat hujan, 9 April 2024
Penulis:
M Taqwim
(Anggota Aktif Korpala Unhas - K.193)
