POLITIK lokal, terutama saat memasuki masa-masa pilkada, sering kali menyuguhkan “godaan” tersendiri bagi berbagai organisasi, tak terkecuali Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dengan jutaan warga NU dan jaringan luas di seluruh pelosok negeri, NU memiliki daya tarik luar biasa bagi para calon kepala daerah.
Bukan hal yang mengherankan bila para kandidat mendekati tokoh-tokoh NU, berharap mendapat dukungan dari basis massa yang dimiliki organisasi ini. Namun, bagi NU, keterlibatan dalam politik praktis tentu bukan tanpa risiko.
Di tengah berbagai godaan politik lokal, NU perlu menguatkan komitmennya untuk tetap mengabdi pada nilai-nilai luhur yang dipegangnya, bukan pada kepentingan sesaat.
Posisi NU: Godaan Politik Lokal
Godaan politik lokal datang dalam berbagai bentuk. Terkadang berupa janji-janji untuk mendukung program sosial, kesempatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, hingga peluang-peluang kemitraan ekonomi yang bisa menguntungkan warga NU di daerah tersebut.
Baca Juga: Buka Makassar S8 2024, Andi Arwin Azis: Dukung Sport Tourism dan Cetak Atlet Potensial
Ada pula yang secara terang-terangan mendekati NU dengan harapan mendapatkan dukungan langsung pada pemilu, dengan dalih kepentingan bersama. Semua godaan ini datang dengan “kemasan” menarik, seakan-akan mendukung visi dan misi organisasi.
Namun, NU harus berhati-hati. Jika NU terlena dengan iming-iming tersebut, bukan tidak mungkin organisasi ini akan terseret dalam arus politik praktis yang bisa merusak citranya sebagai organisasi sosial-keagamaan.
Posisi NU sebenarnya sangat jelas: mengabdi pada masyarakat dan agama, bukan pada kepentingan politik praktis atau kelompok tertentu. NU harus mampu menempatkan dirinya di atas godaan-godaan tersebut dan menjaga agar tetap menjadi penuntun moral, bukan alat tawar-menawar politik.
NU berdiri di atas prinsip-prinsip yang jelas dan kokoh. Prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi landasan organisasi ini mengajarkan moderasi, toleransi, dan komitmen untuk kemaslahatan bersama. Dengan prinsip ini, NU berkomitmen untuk melayani umat dan menjaga persatuan bangsa.
Baca Juga: Irwan Adnan Hadiri Paripurna Penetapan Susunan Pimpinan dan Anggota AKD DPRD Makassar
Pengabdian NU adalah pengabdian yang tulus, berorientasi pada nilai, bukan pada keuntungan politik sesaat.
Di tengah godaan politik lokal, NU seharusnya tetap berpegang pada nilai-nilai ini. Mengabdi pada nilai berarti NU harus mampu menjadi penengah dan pendamai, bukan terlibat dalam polarisasi atau perpecahan politik. NU harus terus mendorong pemahaman bahwa politik sarana untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan umat.
Pengabdian pada nilai berarti menjaga keikhlasan dalam melayani umat, tanpa memihak pada satu calon atau kelompok politik tertentu. Dengan tetap setia pada prinsip ini, NU akan tetap dihormati sebagai organisasi yang mandiri dan tidak mudah dipengaruhi oleh godaan politik praktis.
NU harus menjadi teladan dalam menjaga integritas, sehingga anggotanya juga akan menjunjung tinggi integritas dalam berperilaku di tengah godaan politik.
Peran NU sebagai Penjaga Kemaslahatan di Tahun Politik
Dalam setiap momentum politik lokal, NU memiliki kesempatan untuk menunjukkan perannya sebagai penjaga kemaslahatan umat. NU bisa mendorong para kandidat kepala daerah untuk berkomitmen pada program-program yang mendukung kesejahteraan sosial, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
NU tidak perlu terlibat langsung dalam mendukung salah satu kandidat, tetapi bisa memberikan masukan dan harapan kepada semua kandidat agar mereka benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat luas, terutama kaum lemah yang membutuhkan perhatian.
Baca Juga: Hadiri Thematic Panel of Expert CRIC, Pjs Wali Kota Makassar Tekankan Penerapan Teknologi Adaptif
NU juga memiliki peran penting sebagai edukator politik bagi masyarakat. NU bisa membantu masyarakat untuk memahami hak dan kewajiban mereka dalam pemilu, serta pentingnya memilih pemimpin yang memiliki komitmen pada nilai-nilai kebangsaan dan kemaslahatan umat.
Dengan memberikan pendidikan politik yang baik, NU bisa membantu masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh politik uang atau janji-janji kosong, melainkan benar-benar mempertimbangkan calon yang terbaik untuk masa depan daerah mereka.
Mengelola Hubungan dengan Tokoh Politik Tanpa Terseret Arus
NU memang tidak dapat sepenuhnya menghindar dari hubungan dengan para tokoh politik, apalagi jika tokoh-tokoh tersebut memiliki komitmen untuk bekerja sama dalam hal-hal yang sejalan dengan misi NU, seperti program sosial, pendidikan, atau pemberdayaan ekonomi umat.
Namun, hubungan ini harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan kesan bahwa NU berpihak pada tokoh atau partai politik tertentu.
Baca Juga: Pj Sekda Makassar Irwan Adnan Hadiri Pelantikan Pengurus Wilayah NU Sulsel
NU harus menempatkan diri sebagai mitra yang independen dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Hubungan dengan tokoh politik harus tetap dalam kerangka yang profesional dan terukur, tanpa mengorbankan integritas organisasi.
NU harus memastikan bahwa setiap kerja sama yang dijalin benar-benar bermanfaat bagi umat dan tidak membawa dampak negatif pada citra organisasi. Dengan begitu, NU tetap bisa menjalin hubungan yang positif dengan pemerintah dan tokoh politik, tanpa mengorbankan nilai-nilai yang dipegangnya.
Tantangan Menjaga Keutuhan Internal NU
Di tengah berbagai godaan politik, NU juga harus menjaga keutuhan internalnya. Perbedaan pandangan politik sering kali menjadi pemicu perpecahan di dalam organisasi.
Untuk itu, NU perlu mengedepankan kebersamaan dan mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Semua warga NU perlu memahami bahwa mengabdi pada NU adalah mengabdi pada tujuan besar organisasi, bukan pada individu atau kelompok tertentu.
NU perlu memperkuat pendidikan kaderisasi yang berorientasi pada nilai-nilai organisasi, sehingga warga NU memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya menjaga integritas dan keutuhan NU. Dengan mengedepankan nilai-nilai organisasi, NU bisa menghadapi godaan politik lokal dengan lebih kokoh dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan politik.
NU Kokoh di Tengah Godaan Politik Lokal
Menghadapi godaan politik lokal adalah tantangan yang selalu ada, terutama di masa-masa pilkada. Namun, NU memiliki prinsip dan nilai-nilai yang kuat untuk tetap teguh di tengah godaan tersebut. Mengabdi pada NU berarti mengabdi pada nilai, bukan pada individu atau kepentingan politik tertentu. Dengan berpegang pada prinsip ini, NU bisa tetap kokoh dan menjadi penuntun moral bagi masyarakat.
NU perlu menjaga integritas dan keindependensiannya, serta memastikan bahwa setiap hubungan yang dijalin dengan tokoh politik tetap dalam kerangka kemaslahatan umat. Dengan begitu, NU bisa menjadi mitra yang konstruktif bagi pemerintah daerah, tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang dipegangnya.
Baca Juga: Dispora Kota Makassar Akan Gelar Youthive Inspire Educamp Volume 3 di Malino
Pengabdian NU yang berlandaskan nilai akan membuat organisasi ini tetap relevan dan dihormati oleh masyarakat. NU akan tetap menjadi rumah besar bagi umat Islam di Indonesia, tempat di mana pengabdian didedikasikan sepenuhnya untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan politik jangka pendek.
Penulis:
Zaenuddin Endy
(Aktivis Penggerak NU Sulsel)
