SETIAP tanggal 10 Zulhijah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha, atau yang akrab disebut Lebaran Kurban.

Di hari suci Idul Adha ini, jutaan hewan disembelih bukan sekadar sebagai ritual simbolik, tetapi sebagai wujud ketaatan dan kepedulian sosial.

Namun, jauh melampaui aspek ritualnya, Idul Adha sejatinya adalah proklamasi kemanusiaan—sebuah seruan abadi tentang pengorbanan, solidaritas, dan keadilan sosial yang telah diwariskan sejak ribuan tahun lalu.

Baca Juga: Unsulbar Buka Pendaftaran Jalur Mandiri Prodi Kedokteran, Simak Besaran UKT dan Biaya IPI

Peristiwa kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Ismail AS. Dengan penuh keikhlasan, Ibrahim bersiap menunaikan perintah yang sangat berat ini.

Namun Allah SWT menggantikan Ismail dengan seekor hewan, sebagai bentuk penghargaan atas keimanan dan ketaatan yang sempurna.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Saffat: 106–107).

Baca Juga: Daftar 16 Pejabat Lingkup Pemkot Parepare yang Baru Dilantik, Tasming Hamid Tegaskan Komitmen Jalankan Program Unggulan

Makna dari ayat ini melampaui kisah sejarah semata. Ia mengajarkan bahwa kurban bukan sekadar tentang menyembelih hewan, tetapi tentang pengorbanan untuk nilai yang lebih tinggi: kepatuhan, kasih sayang, dan pengabdian kepada kemaslahatan umat.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh cendekiawan Muslim kontemporer, Prof. Tariq Ramadan: “Makna terdalam dari kurban adalah melepaskan ego, melepaskan keterikatan kita pada dunia, dan menyerahkan diri untuk kebaikan bersama.”

Dalam praktiknya, kurban tidak hanya menyimbolkan pengorbanan, tetapi juga distribusi keadilan. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, mereka yang membutuhkan, dan juga keluarga pelaksana kurban.

Baca Juga: Daftar Sembilan Perguruan Tinggi Akreditasi Unggul di Sulawesi, Makassar Jadi Rujukan

Ini adalah bentuk nyata dari keadilan sosial dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28).

Tradisi ini menjadi momentum untuk membangun kembali simpul-simpul solidaritas sosial yang semakin rapuh dalam kehidupan modern.

Namun sayangnya, di tengah pelaksanaan kurban yang terus meningkat secara angka—misalnya pada 2023, dilaporkan lebih dari 1,3 juta hewan kurban disembelih di Indonesia saja—masih banyak wilayah di dunia yang jauh dari makna keadilan dan kepedulian ini.

Salah satu krisis kemanusiaan yang paling memilukan saat ini terjadi di Palestina. Menurut data OCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB) per Mei 2025, lebih dari 36.000 warga Palestina telah meninggal dunia dalam konflik terbaru di Gaza sejak Oktober 2023, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Lebih dari 70 persen infrastruktur rumah sakit dan sekolah hancur, dan akses terhadap pangan sangat terbatas. Kondisi ini mencerminkan tragedi yang bukan hanya politis, tetapi juga tragedi kemanusiaan.

Baca Juga: Wali Kota Parepare Tasming Hamid: Pancasila Adalah Pemersatu Bangsa

Dalam konteks ini, perayaan Idul Adha mengajak umat Islam untuk tidak hanya berbagi dalam konteks lokal, tetapi juga menyuarakan solidaritas global terhadap mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan.

Seperti yang pernah disampaikan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur): “Kemanusiaan jauh lebih utama daripada perbedaan identitas. Bila kemanusiaan terinjak-injak, maka agama pun kehilangan maknanya.”

Momentum Idul Adha adalah kesempatan untuk menyuarakan kepedulian, bukan hanya melalui sumbangan materi, tetapi juga melalui suara moral.

Baca Juga: Sulbar Tertinggi Nasional, Gorontalo dan Sulsel Masuk 5 Besar Pengesahan Kopdes Merah Putih

Mengangkat isu Palestina dalam khutbah Idul Adha, menyalurkan kurban ke wilayah konflik, atau menyuarakan keadilan melalui media sosial adalah bentuk ibadah kontemporer yang relevan.

Kita harus menolak gagasan bahwa ibadah hanya berhenti di masjid. Dalam konteks dunia yang semakin terhubung, ibadah harus menyentuh wilayah-wilayah yang penuh luka.

Seperti disampaikan oleh Ali Syariati, seorang pemikir Islam progresif asal Iran: “Haji dan kurban adalah pelajaran tentang keluar dari keegoisan menuju perjuangan untuk kemanusiaan.”

Baca Juga: UIN Alauddin Makassar Peringati Hari Lahir Pancasila, Soroti Tantangan Ideologi di Era Global

Jika darah hewan kurban tak sampai ke langit, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalian-lah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Maka nurani yang hidup dan kemanusiaan yang menyala adalah persembahan terbaik di hari suci ini. Kurban adalah simbol. Tetapi memihak pada yang tertindas adalah makna sejatinya.

Mari jadikan Idul Adha tahun ini sebagai proklamasi kemanusiaan—bahwa kita, umat Islam dan warga dunia, berdiri bersama mereka yang terpinggirkan, termasuk saudara-saudara kita di Palestina.

Penulis: Husain Alfulmasi (Dosen STAIN Majene dan Universitas DDI Polman)