KEBENARAN adalah kenyataan yang diperoleh dengan cara merenungkan atau memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, baik sesuatu itu ada atau mungkin ada.

Kebenaran filsafat ini memiliki proses penemuan dan pengujian kebenaran yang unik dan dibagi dalam beberapa kelompok (madzab). Ini tidaklah berarti untuk menjadi jurnalis seseorang harus melewati jalan filsafat.

Akan tetapi yang idealnya, jurnalis sadar akan pentingnya filsafat dalam menjalankan profesinya.

Kebenaran berasal dari kata 'benar' (tepat, tidak salah). Apa yang dimaksud dengan kata benar? Benar adalah suatu penyesuaian antara pikiran dan kenyataan, ketika apa yang ada di dalam pikiran kita dan kemudian menjadi nyata pada 'umumnya' atau terbukti dapat dibuktikan.

Baca Juga: Rekrutmen Pengawas TPS Mulai Dibuka Hari Ini, Berikut Syarat Pendaftarannya!

Di titik inilah seorang jurnalis dipandu menemukan kebenaran bernama 'fakta', tanpa penemuan fakta seorang jurnalis akan berjarak dengan karya dan pembacanya. Acapkali seorang jurnalis berada di area 'abu-abu' (ragu-ragu), akan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakannya.

Ujian terberat seorang jurnalis adalah 'kejujuran' (tidak berbohong), karena kejujuran akan senantiasa berjalan seiring dengan kebenaran, maka dalam cabang ilmu filsafat bernama logika, kebenaran disebutkan sebagai persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya.

Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya. Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan objek, bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yang sesuai dengan (atau tidak ditolak oleh) orang lain dan tidak merugikan diri sendiri, begitu diuraikan Dani Vardiansyah, dalam bukunya "Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar" Indeks, Jakarta 2008.

Baca Juga: Ada 2 Gazebo di Belakang Masjid Hj Sitti Mang, Ustadz Das'ad Latif: Tempat Diskusi Tema Keluarga

Pekan ini seorang jurnalis muda yang lumayan pengalaman di lapangan menghubungi saya melalui WhatsApp, ada kegelisahan dalam nada bicaranya soal 'kebenaran' pada fakta berita yang sedang dihadapinya.

Saya juga heran mengapa kepada saya dia bertanya, atau mungkin saya pernah menjadi instruktur dalam pelatihan yang diikutinya.

"Saya ragu apakah data yang ada pada saya benar" ujarnya. Keraguan akan kebenaran fakta yang ada padanya membuat saya dengan berhati-hati menyarankan kepadanya agar lebih tekun lagi menelisik fakta secara teliti. Untuk itu perlu pengendalian diri.

Baca Juga: Diresmikan Prof Nizar Ali, 5 Gedung PLHUT dan 6 Balai Nikah di Sulsel Bersumber dari Pembiayaan SBSN Tahun 2023

Stoisisme merupakan sebuah kajian filsafat Yunani Kuno yang dikembangkan oleh Zeno dari Citium. Kajian utama dari filsafat stoisisme berfokus pada pengendalian diri, terutama dalam hal-hal yang bisa dikontrol oleh manusia sebagai subjek.

Ketika menemui ketidaksesuaian antara kehendak kita dengan kehendak semesta, alih-alih menyalahkan takdir atau merasa sedih berkepanjangan, stoisisme justru mengajarkan kita tentang bagaimana meresponnya dengan mengendalikan hal-hal yang berada di bawah kontrol kita. Termasuk jika menemukan sesuatu yang membuat kita ragu.

Zulkarnain Hamson
Direktur ZH Konsultan Media & Jurnalisme