BUKU ini menggenapi percakapan aktivisme dengan sohib Awi Mn. Sebermula, kami membicarakan Pak Mat. Professor Mattulada, guru besar antropologi Universitas Hasanuddin.

Hidupnya penuh warna. Seorang pejuang, nyaris menjadi korban Westerling, tentara bayaran Belanda. Kemudian, menjadi guru, kepala sekolah, dosen, Dekan Fakultas Sastra hingga Rektor Universitas Tadulako, Palu.

Ia juga pengkritik keras, di masa jaya Suharto, dengan menyebut: negara pejabat. Mattulada juga salah satu orang yang mendesakkan pendirian perguruan tinggi negeri di Makassar. Di kemudian hari, Sukarno datang ke Makassar, di gubernuran ia mengumumkan pendirian sebuah perguruan tinggi negeri, dan dinamai: Universitas Hasanuddin.

Baca Juga: Bupati Indah Harap Luwu Utara Semakin Gemilang di 2024

Karya disertasi Mattulada: Latoa, Satu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Ini merupakan magnum opus Mattulada. Dimana berpandangan, seluruh kehidupan politik orang Bugis didasarkan pada moralitas yang terintegrasi dengan nilai-nilai ada dalam Latoa.

Sohib saya ini menemukan jejak aktivisme Mattulada, sebagai aktor perubahan politik, sekaligus perannya dalam mereproduksi ilmu pengetahuan.

Mattulada disebut sebagai orang kedua doktor antropologi. Disertasinya dibawah bimbingan Pak Koen, Professor Koentjaraningrat, guru besar antropologi Universitas Indonesia.

Baca Juga: Rekrutmen Pengawas TPS Mulai Dibuka Hari Ini, Berikut Syarat Pendaftarannya!

Dalam buku ini, kita mendapatkan gambaran kuat, jalan aktivisme dalam antropologi. Keduanya, baik Pak Mat maupun Pak Koen, sudah lama berpulang, tapi mereka mewariskan jalan aktivis. Jalan seorang perintis yang melakukannya atas dasar cita-cita, yang bukan pilihan, tapi harus dijalani sebagai misi hidup.

Buku ini menyebut, ada pendapat yang menyatakan antara antropologi dan aktivisme tidak memiliki batas tegas, tapi seringkali berkelindan. Sebagian yang lain, berpendapat aktivisme bagian intergral dalam sejarah antropologi, meski tidak selalu dinyatakan secara eksplisit diakui secara terbuka. Hubungan antara antropologi, advokasi dan aktivisme, paling tidak sudah ada sejak antropologi Amerika di awal abad 20.

Hubungan ini banyak dicontohkan pada antropolog Franz Boas. Boas menentang rasisme ilmiah antropologi dengan menekankan kesetaraan ras. Ia percaya, bahwa antropologi dapat membantunya membela masyarakat yang mengalami diskriminasi di masa ia hidup.

Baca Juga: Ada 2 Gazebo di Belakang Masjid Hj Sitti Mang, Ustadz Das'ad Latif: Tempat Diskusi Tema Keluarga

Antropolog yang terkenal di abad 20, Margaret Mead, juga percaya bahwa antropologi harus berperan dalam perubahan sosial. Ucapan terkenalnya: jangan pernah ragu, sekelompok kecil warga negara yang berkomitmen dapat mengubah dunia, itulah satu-satunya hal yang pernah terjadi. Oleh publik, Mead dipandang juga sebagai salah satu tokoh pejuang politik feminisme.

Seringkali memang aktivisme dilekatkan pada gerakan sosial, ada nuansa-nuansa perlawanan, untuk perubahan nasib. Atau, dalam kata lain, terbatas pada perbaikan-perbaikan struktural untuk melawan suatu ideologi tertentu yang menindas.

Pengantar buku ini, menguatkan pandangan bahwa makna aktivisme adalah luas dan lentur. Tapi tetap fokus pada perbuatan-perbuatan sehari-hari yang didasarkan pada kepercayaan dan tujuan akan menciptakan perubahan.

Aktivisme tidak harus hadir dalam tindakan ritual heroik, tetapi dapat tersamar. Sehingga seorang aktivis dapat saja tidak menyadari peran sosialnya sebagai aktivis, akan tetapi tercermin dari konsistensi tindakan-tindakannya.

Baca Juga: Diresmikan Prof Nizar Ali, 5 Gedung PLHUT dan 6 Balai Nikah di Sulsel Bersumber dari Pembiayaan SBSN Tahun 2023

Koentjaraningrat juga menjadi pelukis poster perjuangan, dan di masa-masa damai Indonesia merdeka ia berdiri di depan untuk menyakinkan dan mencegah pemerintah Indonesia membuang antropologi ke keranjang sampah sebagai ilmu warisan kolonial. (Satu kalimat pengantar yang saya tulis kembali).

Kalaupun ada jalangkote dengan lombok cair di foto, saya hanya mau bilang pada kawan saya Luhur Hertanto bahwa harganya sudah naik berkali-kali lipat dari sewaktu ia kuliah. Colek juga kawan Idham Malik saya selalu terkesan dengan catatannya di lapangan, semacam etnografi.

Judy Raharjo