MAKASSAR, SULSEL.POJOKSATU.id - Jejak penggunaan zat psikoaktif oleh manusia ternyata jauh lebih tua dari yang selama ini diperkirakan. Penelitian terbaru mengungkap, manusia purba di Sulawesi telah mengonsumsi pinang sekitar 25.000 tahun lalu, atau pada masa Pleistosen Akhir.
Temuan kebiasaan konsumsi pinang berasal dari analisis sisa biologis pada gigi manusia purba dari situs Leang Bulu Bettue, Maros, Sulawesi Selatan. Hasil penelitian yang melibatkan peneliti internasional dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.
Jejak tersebut terdeteksi melalui analisis biomolekuler menggunakan metode Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS). Peneliti menemukan senyawa arecoline, alkaloid utama pada biji pinang (Areca catechu) yang memiliki efek psikoaktif dan bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman untuk menghasilkan efek fisiologis tertentu telah dilakukan manusia jauh sebelum berkembangnya pertanian dan peradaban menetap.
Penelitian berawal dari kondisi gigi manusia purba yang menunjukkan pola keausan tidak biasa. Pada individu dari Leang Bulu Bettue, gigi geraham mengalami circumferential wear atau keausan melingkar yang sangat parah.
Awalnya, pola tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas menggunakan gigi sebagai alat bantu pekerjaan. Namun, analisis lebih lanjut mengarah pada dugaan bahwa individu tersebut terbiasa mengulum benda keras berbentuk bulat berukuran sekitar 1-2 sentimeter.
Dugaan itu kemudian diperkuat melalui pemeriksaan biomolekuler terhadap kalkulus atau karang gigi purba. Senyawa yang ditemukan menunjukkan jejak arecoline yang konsisten dengan konsumsi pinang.
Peneliti BRIN, Fakhri, menjelaskan analisis penelitian dilakukan bertahap, mulai dari pengamatan makroskopis terhadap kondisi gigi hingga pemeriksaan mikroskopis dan biomolekuler.
Selain Leang Bulu Bettue, pola keausan serupa ditemukan pada individu dari situs Leang Cappa Lombo, Bone. Spesimen CPL-R2 diperkirakan merupakan laki-laki dewasa berusia sekitar 33-50 tahun yang hidup pada Holosen Tengah, sekitar 7.600-6.300 tahun lalu.
Eksperimen laboratorium kemudian dilakukan untuk menguji apakah pinang utuh dapat melepaskan arecoline tanpa campuran bahan lain seperti kapur sirih.
Hasilnya menunjukkan bahwa mengulum pinang dapat melepaskan senyawa tersebut dalam jumlah yang berpotensi menimbulkan efek fisiologis.
Arecoline diketahui memiliki efek stimulan dan dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung serta sensasi kebas di rongga mulut. Efek inilah yang membuat konsumsi pinang memiliki karakter psikoaktif.
Temuan di Sulawesi menjadi penting karena usianya jauh lebih tua dibanding sejumlah bukti penggunaan zat psikoaktif yang sebelumnya dikenal dalam sejarah manusia.
Bukti penggunaan ganja di Asia tercatat sekitar 8.100 SM, sementara penggunaan opium di Eropa diketahui sejak sekitar 5.700 SM. Bukti minuman beralkohol hasil fermentasi di kawasan Levant bahkan diperkirakan berusia sekitar 13.000 tahun.
Jika bukti penggunaan pinang sekitar 25.000 tahun lalu dikonfirmasi melalui keseluruhan rangkaian analisis penelitian, maka tradisi tersebut menjadi salah satu bukti paling awal mengenai pemanfaatan tanaman berkhasiat psikoaktif oleh manusia.
Temuan ini juga menantang pandangan lama mengenai asal-usul tradisi mengunyah pinang.
Sebelumnya, tradisi menyirih dan mengunyah pinang kerap dikaitkan dengan penyebaran masyarakat penutur bahasa Austronesia ke kawasan Asia Tenggara pada periode Neolitikum, sekitar 4.000-3.000 tahun lalu.
Namun, bukti dari Sulawesi menunjukkan bahwa pemanfaatan pinang telah berlangsung jauh sebelum periode tersebut.
Fakhri menyebut temuan itu membuka kemungkinan bahwa tradisi penggunaan pinang di Sulawesi memiliki sejarah lokal yang jauh lebih tua.
Menariknya, gigi manusia purba yang menjadi objek penelitian juga menyimpan tanda-tanda gangguan kesehatan.
Pada individu dari Leang Cappa Lombo, peneliti menemukan indikasi periodontitis parah, abses kronis, hingga kehilangan gigi semasa hidup.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa manusia pada masa itu telah menghadapi persoalan kesehatan mulut yang serius.
Konsumsi pinang kemungkinan berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk memperoleh efek tertentu dari tanaman. Namun, penggunaan berulang benda keras di dalam rongga mulut juga meninggalkan dampak mekanis berupa keausan gigi.
Budianto Hakim, peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi, melihat pemanfaatan pinang tersebut sebagai bagian dari kemampuan manusia prasejarah dalam mengenali dan memanfaatkan khasiat tumbuhan di lingkungan sekitarnya.
Menurut dia, pemanfaatan tanaman yang dapat memberikan efek stimulasi menunjukkan adanya pengetahuan manusia prasejarah mengenai sumber daya alam dan kemampuan tubuh beradaptasi dengan lingkungan.






