POJOKSULSEL, PANGKEP - Destinasi wisata bukan selalu soal seberapa indah pemandangannya. Di Geosite Belae, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, daya tarik itu justru tersembunyi di balik bentang karst dan gua-gua.
Cerita panjang tentang kehidupan manusia masa lalu terpotret dari jejak kehidupan dalam Geosite Belae.
Potensi tersebut menjadi titik awal mahasiswa KKN-T Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam mengembangkan branding digital Geosite Belae.
Mahasiswa Unhas tidak hanya melihat Belae sebagai sebuah kawasan wisata yang perlu dipromosikan.
Mereka mencoba mencari identitas yang dapat membuat masyarakat memahami bahwa Belae memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar panorama alam.
Baca Juga: PPM Parepare Turut Meriahkan HUT ke-81 RI, Sekda Amarun Hamka: Gelorakan Semangat Nasionalisme
Ada sejarah, arkeologi, bentang geologi, hingga potensi edukasi yang dapat dirangkai menjadi satu cerita.
Sekretaris Tim KKNT Desa Biraeng, Pangkep, Riyanti Rahmania Putri Damran mengatakan posisi Geosite Belae memberikan modal penting dalam pengembangan kawasan.
"Geosite ini bagian dari geopark Karst Maros Pangkep, bagiannya taman nasional Bantimurung Bulusaraung juga," ujar Riyanti pada Senin (17/8/2026).
Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa Belae tidak berdiri sendiri.
Kawasan ini merupakan bagian dari lanskap karst dan memiliki kekayaan alam yang telah menjadi bagian penting dari karakter wilayah Pangkep.
Baca Juga: 50 Anak Binaan LPKA Maros Terima Remisi HUT ke-81 Kemerdekaan RI Di Lapangan Pallantikang Maros
Ada lapisan cerita lain yang membuat Belae semakin menarik. Di dalam sejumlah leang, tersimpan bukti keberadaan manusia pada masa prasejarah.
"Jadi disitu banyak leang-leang yang dalamnya ada jejak prasejarah, kayak kemarin dari Leang Sakapao banyak jejak tangan manusia purba sama gambar babi rusa," lanjutnya.
Jejak tersebut memberikan dimensi berbeda bagi Belae. Gua tidak lagi sekadar menjadi ruang di antara bebatuan.
Di dalamnya terdapat cerita tentang manusia yang pernah hidup, beraktivitas, dan meninggalkan tanda yang masih dapat dilihat hingga sekarang. Bahkan, terdapat 27 titik situs prasejarah dalam kawasan tersebut.
Fakta itu menjadi salah satu modal storytelling yang dinilai penting untuk membangun identitas digital Geosite Belae.
Dalam memperkenalkan destinasi melalui media sosial, foto pemandangan memang dapat menjadi pintu pertama untuk menarik perhatian.
Namun, bagi mahasiswa KKN-T Unhas, branding Belae tidak berhenti pada persoalan visual. Informasi mengenai apa yang berada di balik lanskap tersebut justru perlu diperkuat.
Karena itu, cerita mengenai situs prasejarah, jejak tangan manusia purba, gambar babi rusa hingga karakter batuan karst dapat menjadi bagian dari konten yang membuat masyarakat penasaran.
Baca Juga: 2 Srikandi Madrasah Isi Posisi Strategis Paskibraka Sulsel di HUT RI ke-81, Ghaisan Jadi Pembentang
Konsep tersebut memungkinkan Geosite Belae memiliki narasi yang lebih spesifik. Ketika orang berbicara mengenai Belae, yang diingat bukan hanya tempat wisata di Pangkep, tetapi kawasan karst yang menyimpan jejak perjalanan manusia.
"Lokasi ini biasa juga jadi tempat penelitiannya mahasiswa arkeologi, ada juga paling ujung itu kalibbong aloa, isinya stalagmit stalaktit begitu," jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas tersebut.
Kalibbong Aloa, misalnya, dapat dikembangkan menjadi materi edukasi mengenai bentang alam karst.
Cerita mengenai stalagmit dan stalaktit dapat dikemas dalam bentuk konten sederhana yang menjelaskan proses pembentukannya.
Sementara keberadaan situs arkeologi dapat dikembangkan melalui konten sejarah yang mengajak audiens mengenal jejak manusia masa lalu.
Baca Juga: Sambut HUT Kemerdekaan, Tasming Hamid Ajak Masyarakat Jaga Semangat Persatuan Lewat Kirab Obor
Dengan strategi tersebut, akun digital Geosite Belae tidak sekadar menjadi tempat mengunggah dokumentasi.
Mahasiswa KKN-T mengembangkan informasi tersebut melalui akun Instagram @geosite.belae.
Pengelolaan akun menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Geosite Belae dengan identitas yang lebih terarah.
Belae memiliki modal cerita begitu kuat.
Bentang karst menjadi identitas alam. Leang menjadi pintu menuju sejarah.
Situs prasejarah menjadi bukti perjalanan manusia. Kalibbong Aloa menghadirkan kekayaan geologi. Sedangkan aktivitas penelitian menunjukkan bahwa kawasan tersebut juga memiliki nilai akademik.
Seluruh elemen itu kemudian dapat dirangkai menjadi satu identitas, Belae sebagai ruang pertemuan antara alam, sejarah, dan pengetahuan.
Ketika sebuah kawasan semakin dikenal, muncul pula tantangan baru untuk memastikan daya tarik yang dipromosikan tetap terjaga.
Baca Juga: Profil 4 Paskibraka Sulsel Emban Tugas Penting pada Pengibaran Bendera HUT RI ke-81
Riyanti berharap Geosite Belae mendapatkan ruang promosi yang lebih luas sehingga masyarakat mengetahui potensi yang dimiliki kawasan tersebut.
Namun, pengenalan tersebut juga perlu diikuti dengan kesadaran untuk menjaga lokasi.
Sebab, nilai sebuah situs prasejarah tidak hanya berada pada kemampuannya menarik wisatawan.
Nilai itu juga terletak pada kemampuannya mempertahankan cerita yang telah bertahan selama ribuan tahun. Begitu pula dengan bentang karst dan gua-gua yang ada di dalamnya.
Semakin kuat branding Belae dibangun, semakin penting pula masyarakat memahami bahwa kawasan tersebut memiliki ruang dengan nilai sejarah, ekologis dan edukatif.
Baca Juga: Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945
Pada akhirnya, strategi branding Geosite Belae bukan sekadar tentang membuat sebuah akun Instagram.
Lebih jauh, mahasiswa KKN-T Unhas mencoba menerjemahkan kekayaan sebuah kawasan menjadi cerita yang dapat dipahami masyarakat di ruang digital. ***




