BONE, SULSEL.POJOKSATU.id - Rabu pagi kini menjadi waktu khusus bagi jajaran pimpinan IAIN Bone untuk membahas persoalan kampus. Lewat program Sabah Rabah, setiap unit kerja tidak hanya diminta melaporkan capaian, tetapi juga membuka masalah yang membutuhkan solusi bersama.
Program Sabah Rabah mulai dijalankan Rektor IAIN Bone Prof. H. Lukman Arake dalam pertemuan perdana di Ruang Rapat Senat IAIN Bone, Rabu (7/10/2026).
Sabah Rabah IAIN Bone mempertemukan unsur pimpinan dari berbagai level, mulai dari Rektor dan Wakil Rektor, Kepala Biro AUAK, para dekan, Direktur Pascasarjana, Kepala SPI, ketua lembaga, kepala UPT, hingga kepala bagian dan subbagian.
Lukman Arake mengatakan forum tersebut sengaja dirancang agar persoalan yang muncul di satu unit tidak diselesaikan secara sendiri-sendiri.
“Jadi nanti mungkin pekan depan ini kita serahkan dulu ke fakultas untuk menyampaikan apa saja yang memang menjadi masalah, sehingga kemudian kita semua di sini bisa mencarikan solusinya,” ujar Lukman Arake.
Dengan pola tersebut, laporan kinerja tidak berhenti pada penyampaian angka atau capaian program. Setiap persoalan akan dibawa ke forum untuk dibedah dan dicarikan alternatif penyelesaiannya secara lintas unit.
Lukman Arake menyebut Sabah Rabah sebenarnya telah lama dirancang. Gagasan tersebut bahkan telah muncul sebelum dirinya mencalonkan diri sebagai Rektor IAIN Bone.
“Program ini kita wacanakan sudah jauh hari dan baru bulan ini kita baru bisa mulai,” katanya.
Nama Sabah Rabah diambil dari ungkapan bahasa Arab yang bermakna pagi hari membawa keuntungan, keberuntungan, atau rezeki.
Lukman Arake juga menyebut konsep tersebut sejalan dengan pola koordinasi yang diterapkan Menteri Agama melalui Coffee Morning bersama jajaran Kementerian Agama.
Namun, Sabah Rabah akan dievaluasi secara berkala. Pelaksanaannya bisa dilakukan setiap pekan atau dua kali dalam sebulan, bergantung pada kebutuhan dan efektivitas forum.
Untuk menjaga konsistensi kegiatan, Lukman meminta Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan mengatur agar Rabu pagi tidak menjadi jadwal mengajar bagi unsur pimpinan.
Jika terdapat jadwal mengajar, kegiatan perkuliahan dapat ditempatkan setelah pukul 10.00 WITA.
Bagi Lukman, forum tersebut bukan sekadar menambah agenda rapat. Ia ingin Sabah Rabah membentuk kebiasaan baru dalam bekerja, yakni berani menyampaikan persoalan dan menyelesaikannya secara bersama.
“Sabah Rabah ini kita harapkan menjadi ruang untuk kita mengevaluasi apa yang sudah kita capai, apa masalah kita, dan bagaimana kita menyelesaikannya,” ujarnya.
Ia berharap pola tersebut dapat meninggalkan perubahan positif bagi IAIN Bone dan menjadi bagian dari budaya kerja lembaga.
“Kita ingin mewariskan mata air, bukan air mata,” tegas Lukman.








