POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H, Hamdan Juhannis, PhD merespons pidato pengukuhan guru besar Prof Dr Andi Aderus LC MA, di gedung Auditorium Kampus II Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Romang Polong, Kabupaten Gowa, Sulsel, Rabu (9/7/2025)
Hamdan Juhannis mengawali sambutannya degan mengapresiasi para tamu yang hadir pada pengukuhan Andi Aderus sebagai guru besar UIN Alauddin Makassar.
Hamdan Juhannis menilai, pengukuhan Andi Aderus sebagai profesor Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, bertaraf internasional.
Bagaimana tidak, para tamu yang hadir menyaksikan pengukuhan Andi Aderus, ada yang dari Mesir, Brunei Darussalam, maupun Singapura.
Baca Juga: Unhas Kukuhkan Empat Guru Besar Teknik, Bahas Infrastruktur Tangguh hingga Eksplorasi Mineral
Termasuk sejumlah tokoh pendidikan maupun tokoh nasional di antaranya TGB Muhammad Zainul Majdi.
"Saya amati ini, pengukuhan berskala internasional. Tamunya ada dari Mesir, dari Singapura, dari Brunie, dari Saudi Arabia," kata Hamdan Juhannis.
Selanjutnya, Rektor merespons pidato pengukuhan Andi Aderus berjudul Teologi Wasathiyah: Solusi Kehidupan Berbangsa dan Beragama.
Ia menilai, pidato Andi Aderus telah dipersiapkan dengan baik. itu sangat luar biasa, karena dihadiri para tokoh yang memadati auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar
Baca Juga: Tasming Hamid Sambut Kapolres Baru, Harap Keamanan Parepare Makin Terjaga
Ia menggarisbawahi terkait makna, batasan, defenisi teologi wasathiyah perlu untuk diperkaya dalam pidato.
"Kenapa saya mengatakan ini yang perlu diperkaya, karena para hadirin ingin mengambil sesuatu secara cepat apa sebenarnya itu teologi wasathiyah," katanya.
"Nah itu yang tidak muncul, batasannya itu apa?"
Selanjutnya, prof Hamdan Juhannis juga merespons prinsip-prinsip dasar teologi Wasathiyah.
Ia mengatakan, nilai kemanusiaan bisa didahulukan dari nilai ketuhanan bila itu untuk kemaslahatan.
Tidak perlu mendahulukan salat bila yang dihadapi itu adalah kedaruratan.
"Paling umum kita bisa mengatakan seperti ini, segala sesuatu yang mengganggu kekhusyuan salat, dahulukan," katanya.
"Jadi kalau makan enak berhadapan dengan salat, makan dulu, karena na ganggu salat," tambahnya.
Baca Juga: Bikin Bangga! IAIN Parepare Panen Prodi Akreditasi Unggul di Bulan Juli, Apa Saja?
Pada kesempatan itu, Hamdan Juhannis ikut pendapat Andi Aderus yang mengatakan, makna posisi tengah dalam teologi wasathiyah adalah bukan posisi yang pasif tapi posisi aktif.
Terutama ketika Andi Aderus mencontohkan wasathiyah dalam konteks kekinian, menggunakan istilah wasit, yang harus betul-betul aktif menjadi posisi di tengah.
"Ternyata kita baru sadar, wasit itu berasal dari wasathiyah," katanya.
Menurut dia, prinsip-prinsip dasar teologi wasathiyah juga mencakup sikap kokoh dalam prinsip, namun lentur dalam bersikap.
Bahkan, ia menambahkan satu prinsip penting lainnya yang menurutnya menjadi ciri khas wasathiyah.
"Teologi wasathiyah selalu punya perspektif dua arah. Inilah yang melahirkan empati. Tidak ekstrim satu sisi, tetapi berimbang dalam cara pandang dan cara bertindak,” tegasnya.
***




