Oleh: Cang Pasinringi
SORE 5 November 2007, Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai ramai. Riuh. Orang datang dari segala penjuru. Di ruangan pertemuan di tengah rujab, sudah berderet kursi dan layar lebar.
Sebagian besar wajah-wajah terlihat kuyu dan pias. Hari itu memang merupakan hari sibuk dan melelahkan. Pencoblosan Pemilihan Gubenur (Pilgub) Sulsel baru saja usai dilaksanakan.
Sang penghuni rujab, HM Amin Syam kembali maju bertarung sebagai incumbent untuk periode keduanya. Untuk pertarungan Pilgub Sulsel kali ini, Amin Syam bongkar pasangan. Periode sebelumnya, Amim Syam berpasangan dengan Syahrul Yasin Limpo sebagai wakilnya.
Baca Juga: Makassar, Gowa, Pangkep, Takalar, Hingga Parepare Siaga Kekeringan Ekstrem
Namun, pada Pilgub Sulsel 2007, atau pada periode keduanya, Amin Syam menggandeng Mansyur Ramli. Amin Syam memilih Mansyur Ramli yang berlatar belakang sebagai akademi, mantan rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) sebagai pasangannnya.
Asmara, itu tagline pasangan Amin Syam-Mansyur Ramli. Pasangan Asmara masuk pada hari mendebarkan, 5 November 2007. Bagaimana perolehan suara mereka di tempat pemungutan suara (TPS).
Baca Juga: PERINGATAN DINI: Kelara dan Tarowang Jeneponto Masuk Kategori Awas Kekeringan Meteorologi
Keputusan Amin Syam yang memilih bongkar pasangan itu pun membuat dirinya bertarung dengan mantan Bupati Gowa Syahrul Yasin Limpo, yang sudah mendampinginya pada periode sebelumnya. Syahrul Yasin Limpo memilih melawan dengan berpasangan dengan Agus Arifin Nu'mang.
Syahrul Yasin Limpo menggandeng Agus Arifin Nu'mang yang sebelumnya menjabat sebagai ketua DPRD Sulsel. Diketahui, pada Pilgub Sulsel 2007, maju tiga pasangan. Selain pasangan Amin Syam-Masyur Ramli, Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang, juga ada pasangan Aziz Qahhar Mudzakkar-Mubyl Handaling.
Amin Syam sebagai petahana bertarung dengan dua pasangan yang memiliki basis massa yang kuat. Pemetaan besar secara geopolitik waktu itu adalah Bugis, Makassar, dan Luwu.
Kasak kusuk di Rujab Gubenur Sulsel sejak sore mulai terdengar. Seliweran orang keluar masuk membawa kertas, pun dengan silih berganti masuk dan keluar.
Di dekat ruangan utama, ada ruangan kecil tempat di mana beberapa orang bersantai sejenak. Minum kopi dan mengisap rokok. Sepertinya hanya ruagan itu yang memberikan sedikit ruang "nyaman" bagi orang orang di sana.
Baca Juga: Terbukti Bersalah, Terdakwa Kasus Korupsi di Bulog Pinrang Divonis 8 Tahun Penjara
Awak media pun menyerbu Rujab Gubernur Sulsel. Termasuk saya yang ingin mendengarkan langsung apa respon dan tanggapan dari Amin Syam terkait hasil Pilgub Sulsel yang baru saja digelar.
Santer terdengar kabar Amin Syam kalah. Tentu ini menjadi pemantik serbuan pewarta dan kepanikan pendukung Amin Syam menuju satu titik kumpul, Rujab Gubernur Sulsel dimana Amin Syam berada.
Di layar, quick qount alias hitungan cepat dari pelbagai lembaga survei terpapar. Hingga Magrib, Amin Syam belum tampak. "Bapak masih di kamar," kata orang di sana saat ada yang menanyakan keberadaan Amin Syam.
Baca Juga: Cemburu Buta, Warga Tamalate Tusuk Teman Mantan Istrinya Pakai Obeng, Sampai 8 Kali
Tidak beberapa lama, Amin Syam terlihat keluar dan langsung mengambil tempat duduk di barisan paling depan, tepat di depannya layar besar hasil perhitungan cepat berjalan.
Suasana semakin tegang di tempat itu. Petinggi Partai Golkar terlihat banyak berseliweran di ruangan itu. Tak ada menampakkan wajah ceria, semua kusut. Diketahui, saat itu Amin Syam merupakan ketua DPD I Partai Golkar Sulsel dan Golkar menjadi partai pengusungnya bersama PKS dan Demokrat di Pilgub Sulsel 2007.
Malam semakin beranjak, seiring angka angka di layar kian tidak sesuai harapan Amin Syam dan hampir semua di ruangan itu. Dalam hitungan cepat beberapa lembaga survei, pasangan Amin Syam-Masyur Ramli kalah. Pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang tampil sebagai pemenang dalam hitungan cepat.
Baca Juga: Keren! 2 Dosen FDK UIN Alauddin Presentasi Hasil Penelitian Komunikasi di Rakornas Aspikom
Sesaat Amin Syam berdiri. Beberapa orang terlihat mengikuti Amin Syam. Suara Amin Syam masih seperti biasanya. Agak serak dan datar, tidak ada tekanan dan suara tinggi. Begitulah Amin Syam, yang suaranya tidak pernah menyakitkan hati. Selalu tenang.
"Ini jekkong. Jekkount, bukan quick count," kata Amin Syam mengomentari angka angka perhitungan cepat yang dilansir beberapa lembaga survei. Jekkong merupakan bahasa Makassar yang berarti curang. Ekspresinya masih menyisakan senyum.
Yah, Amin Syam merasa bahwa dirinya berada pada posisi yang dicurangi. Wajah Amin Syam terlihat pias dan menegang, meski masih tetap ingin terlihat setenang mungkin. Malam itu, Amin Syam berusaha menenangkan pendukungnya dengan menunggu hasil resmi dari KPU.
Baca Juga: Film Rantemario, Andi Rukman Nurdin Karumpa Adu Akting dengan Ghita Putri Catleya. Wow!
"Saya kira Bapak (Amin Syam) mau marah marah. Tidak ji, santai ji tawwa," kata seorang wartawan yang datang malam itu di Rujab Gubernur Sulsel melihat langsung perhitungan cepat bersama Amin Syam dan tim.
Diketahui, sebelum masuk politik, Amin Syam berkarir di militer dengan pangkat terakhir mayor jenderal (mayjend).
Tahun 1988 barulah masuk dalam dunia politik dengan menjadi bupati Enrekang satu periode yang dilanjutkan menjadi ketua DPRD Sulsel sekaligus ketua DPD I Partai Golkar Sulsel.
Baca Juga: Korupsi Unsulbar: Fakta Mesin Pencampur Semen Diganti Mixer Kue
Istilah jekkount yang pertama dilontarkan Amin Syam pun menjadi populer. Adalah Amin Syam yang pertama melontarkan itu atas ketidaksepakatannya dengan perhitungan cepat beberapa lembaga survei waktu itu.
Polemik hasil Pilgub Sulsel berbuntut panjang yang harus diselesaikan pada tingkat pusat. Selisih angka sangat tipis. Alhamdulillah, kondisi Sulsel saat itu tetap terjaga kondusif. Tidak ada pertikaian horizontal, semua berlangsung dalam situasi terkontrol.
Hingga saat ini, istilah Jekkount masih diingat dan menjadi kata kata yang umum jika ada kecurangan terjadi. Termasuk dalam pesta politik, kata jekkount semakin sering terdengar.
Baca Juga: Goro Arena Siap Support 17th Makassar Koi Show 2023, Ada Spesial Diskon untuk Peserta
Warga Sulsel mengenang kebesaran hati seorang Amin Syam yang kemudian tetap bersama menjaga kondisi kemanan dan ketertiban di Sulsel saat terjadi keriuhan itu.
Amin Syam pun tetap berbesar hati dengan menganggap mantan wakilnya Syahrul Yasin Limpo yang mengalahkannya dalam kontestasi politik Sulsel sebagai adiknya. Tak ada dendam. Begitu lapang dan ikhlasnya hati seorang Amin Syam.
Usai di panggung politik, Amin Syam yang lahir 12 Desember 1945, mengabdikan diri untuk agama.
Baca Juga: Konser Musik Makassar Selama September 2023, Ada Tulus, Afgan, Hingga Fourtwnty, Catat Tanggalnya!
Amin Syam banyak menghabiskan waktu mengurus masjid dengan ditunjuk sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel. Amin Syam memimpin DMI Sulsel selama 3 periode. Selain itu, Amin Syam membangun dan mengurus beberapa pondok pesantren di Sulsel. Selamat jalan Pak Amin Syam.(***)



