KISAH mengenai karomah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman banyak diceritakan oleh orang orang yang pernah bersamanya. KH Djunaid Sulaiman bahkan diyakini memiliki kemuliaan setara waliyullah.

Dalam bahasa Indonesia, karomah biasa ditulis sebagai karamah atau keramat yang berarti kemuliaan, kehormatan. Adalah hal atau kejadian yang luar biasa di luar akal dan kemampuan manusia biasa yang terjadi pada diri seseorang yang berpangkat wali.

Rancangan tulisan dalam buku autoboigrafi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, dikisahkan karomah KH Djunaid Sulaiman yang disampaikan oleh orang orang yang pernah bersamanya.

Baca Juga: Lagi, Alumni Pesantren Aljunaidiyah Jadi Guru Besar, Sudah 4 Profesor. Selamat!

Sekadar diketahui, rancangan buku autoboigrafi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ditulis oleh Prof Dr Alimin, M.Ag, Dr Muh Subair, M.A, Dr Muslihin Sultan, M.Pd, Dr Fahmi Gunawan, M.Hum. Naskah buku ini selanjutnya dalam proses akhir penyelesaian untuk masuk proses cetak.

Beberapa kejadian luar biasa menyertai perjalanan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman sebagai karomah yang menguatkan premis untuk menyimpulkan bahwa Anregurutta Djunaid Sulaiman adalah seorang waliyullah.

Ada beberapa tokoh yang memberikan keterangan tentang karamah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Seperti dikisahkan Prof Dr Andi Salman Maggalatung dan Nongkeng.

Baca Juga: Siapa Dr Muhaemin? Alumni Terbaik dan Tercepat IAIN Alauddin Raih Guru Besar Pemikiran Islam

Salman Maggalatung adalah kerabat istri Anregurutta KH Djunaid Sulaiman yang tinggal bersamanya dari kecil sampai sarjana. Salman Maggalatung salah seorang Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah hingga saat ini.

Sedangkan Nongkeng adalah seorang anggota pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang selalu menyertai Anregurutta Djunaid Sulaiman di hutan. Setelah DI/TII berhasil ditumpas oleh TNI, Nongkeng menjadi imam dusun di Cempalagi, Desa Malari, Awampone.

Nongkeng juga merupakan orang yang berjasa dalam mengarahkan seorang penulis dalam autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman (Prof Alimin) berguru kepada Anregurutta di Masjid Raya. Lalu apa cerita mereka?

Baca Juga: Kabar Gembira! Ketua Senat STAIN Majene Raih Guru Besar Bidang Ushul Fikih

Andi Salman Maggalatung menceritakan apa yang dirasakan dan disaksikan ketika menunaikan ibadah haji bersama Anregurutta pada tahun 1989.

Andi Salman Maggalatung bercerita kisah di luar nalarnya. Saat KH Djunaid Sulaiman sedang beristirahat, datang seseorang mengetuk pintu kamar. Andi Salman Maggalatung membuka pintu dan menemui laki laki yang datang itu.

Laki-laki paruh baya yang datang itu mengenalkan diri bernama Salman, mantan bupati Luwu. Dia meminta bertemu dengan KH Djunaid Sulaiman. Hanya saja, KH Djunaid sementara istirahat.

Andi Salman Maggalatung sempat menahan karena KH Djunaid Sulaiman sedang beristirahat. Tapi, mantan bupati Luwu itu ngotot. Mendengar suara ada tamu, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mempersilahkan Salman masuk.

"Anregurutta yang mendengar percakapan itu kemudian meminta saya agar menyuruhnya masuk," kata Andi Salman Maggalatung yang ditemui di Makassar, Senin (15/1/2023).

Baca Juga: Pemkab Maros Fokus Persiapan Logistik dan Mitigasi Bencana Hadapi Musim Hujan

Mantan Bupati Luwu Salman ternyata punya keinginan yang sangat penting. Dia meminta tolong ke Anregurutta KH Djunaid Sulaiman agar didoakan. Pasalnya, anak laki-lakinya yang ikut bersamanya menunaikan ibadah haji, sudah tiga hari hilang di Mekah.

Dia dalam kondisi panik dan bingung dimana bisa menemukan anaknya yang hilang tak diketahui rimbanya. Kepanikan sang mantan bupati Luwu itu semakin bertambah, pasalnya, berdasarkan jadwal, dirinya sudah harus pulang ke Tanah Air Indonesia, keesokan harinya.

Anregurutta KH Djunaid Sulaiman langsung menerima permintaan Salman. "Insya Allah," kata KH Djunaid Sulaiman yang dilanjutkan dengan membaca Surah Alfatiha.

Baca Juga: Rahmat Sjamsu Alam Dorong Pemkot Parepare Aktif Penuhi Kepemilikan BPJS Kesehatan Warga

KH Djunaid Sulaiman melanjutkan dengan menengadahkan tangan meminta doa. Saat KH Djunaid Sulaiman masih melamatkan doa, tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Seorang laki laki masuk kamar bagaikan dituntun. Membuka kamar. Dengan penuh kegembiraan, mantan Bupati Luwu Salman langsung berdiri dan memeluk remaja yang datang itu. Itulah anaknya yang sudah hilang sejak tiga hari di Mekkah.

Salman tak kuasa menahan tangis atas kegembiraan itu dan keajaiban yang dialaminya.

Baca Juga: Ini Harapan Pj Wali Kota Parepare Kepada Pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia

"Saya terhentak tak dapat berkata-kata melihat kejadian itu. Padahal, kamar penginapan kami ada di lantai 2. Dia datang seperti ada yang menuntun," kata Andi Salman Maggalatung.

Hanya saja Andi Salman Maggalatung tidak berbicara banyak dengan anak mantan Bupati Luwu itu, apa yang sebenarnya terjadi hingga dia datang ke kamar hotel dan langsung membuka pintu kamar di lantai dua itu. Datang dengan seolah ada yang menuntun tangannya.

Andi Salman Maggalatung mengatakan, dia secara khusus ditugaskan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Ahmad Amiruddin, kala itu, mengawal Anregurutta KH Djunaid Sulaiman berangkat haji ke Mekah. Saat itu, sebenarnya kesehatan KH Djunaid Sulaiman tidak memungkinkan untuk berangkat haji.

"Anregurutta sakit. Hasil pemeriksaan kesehatannya tidak memungkinkan. Tapi Pak Gubernur Ahmad Amiruddin bilang, diala sima'i gurrutta (dijadikan jimat guru kita)," kata Andi Salman Maggalatung menirukan ucapan Gubernur Sulsel Ahmad Amiruddin kala itu.

Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ditunjuk menjadi Tim Pembimbing Ibadah Haji (TPIH) dan Andi Salman Maggalatung sebagai Tim Pendamping Haji Indonesia (TPHI) yang sekaligus sebagai ketua kloter haji dari Kabupaten Bone.

Jadilah Andi Salman Maggalatung berangkat ke Mekah sebagai pendamping "khusus" Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. "Kalau jalan, tangan beliau pasti saya pegang. Ada juga namanya Pak Tahir, tenaga medis. Kami berdua pegang," kata Andi Salman Maggalatung.

Andi Salman Maggalatung mengisahkan, kadang dirinya tidur satu bantal dengan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Tugasnya termasuk mengingatkan untuk minum obat ketika sudah masuk waktunya.

Baca Juga: Tambah Satu Guru Besar, STAIN Majene Catat Rekor Lingkup PTKIN

Keanehan yang dirasakan Andi Salman Maggalatung adalah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman seolah ada yang menuntun. Semua yang dilakukan seperti ada yang mengarahkan.

Andi Salman Maggalatung menceritakan. Misalnya saat mereka akan salat di masjid. Terkadang masjid masih jauh, Anregurutta KH Djunaid Sulaiman langsung menggelar sajadah dan mengatakan, "konie konie (di sini-di sini)."

"Kadang saya diteriaki jamaah, kenapa di sini Salman. Diolo mopi masiji'e (masjid masih di depan). Saya hanya bilang, parenta na Gurutta," tutur Andi Salman Maggalatung.

Semua jamaah pun langsung diam dan ikut tanpa protes. Kejadian itu kadang berulang dengan beberapa kejadian. "Anregurutta itu seolah ada yang menuntun dan menunjukkan," kata Andi Salman Maggalatung.

Baca Juga: Dekan FUF UIN Alauddin Makassar Raih Guru Besar Bidang Pemikiran Islam, Muhaemin Jadi Profesor ke-10 di Ushuluddin dan Filsafat

Pengalaman lain yang dirasakan Andi Salman Maggalatung dalam perjalanannya ke Tanah Suci, ketika mereka antre untuk masuk berdoa di Raudah. Waktu itu, Andi Salman Maggalatung mengusulkan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman dan mereka masuk ke Raudah.

Raudah adalah lokasi makam Nabi Muhammad Sallahu Alaihi Wasallam. Banyak jamaah datang untuk berdoa di dekat makam Rasulullah. Dan semua mencari posisi paling dekat atau paling depan makam Rasulullah.

"Tapi maegatu ulu dikenna. Diajjulekkai taue (tapi banyak itu kepala orang kita kena karena kita harus melewati orang yang duduk)," kata Andi Salman Maggalatung menirukan ucapan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman.

Baca Juga: UIN Alauddin Makassar 'Panen' Guru Besar di Awal Tahun 2024. Ada Dekan Lho!

Kondisinya saat itu, Raudah sangat penuh orang. Jamaah berdesak desakan dan di depan mereka sudah banyak orang memilih duduk berdoa. Meski masih jauh dari makam Rasulullah karena tidak bisa tembus maju mendekat.

Kala itu, Andi Salman Maggalatung dan Yusuf mendampingi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Sementara mereka berbincang bincang, tiba tiba KH Djunaid Sulaiman menangis.

"Magaki puang, magai tateri (Kenapaki tuan, kenapa menangis)," kata Andi Salman Maggalatung dengan nada panik. Tahir pun kaget kenapa tiba tiba KH Djunaid Sulaiman sesengukan menangis.

"konie konie (di sini-di sini)," kata Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Dalam kondisi masih panik, Andi Salman Maggalatung melihat sekitar. Masya Allah, ternyata mereka sudah terpat berada di depan makam Rasulullah.

Baca Juga: SELAMAT! Firdaus Muhammad Raih Guru Besar Bidang Komunikasi Politik Islam UIN Alauddin Makassar

Mereka takjub kenapa tiba tiba mereka ada di depan makam Rasulullah. Padahal sekalipun mereka tidak pernah melangkahkan kaki. Bertiga mereka hanya berbincang di depan melihat orang orang yang berjubel antre.

Andi Salman Maggalatung dan Tahir pun menangis yang dilanjutkan dengan doa. Saat mereka keluar dari Raudah, kenapa air mata Andi Salman Maggalatung tidak mau berhenti menetes. Dia kemudian bertanya ke KH Djunaid Sulaiman, apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia terus sesengukan menagis.

"Yanatu cenninna (itulah nikmatnya) Salman," kata KH Djunaid Sulaiman.(***)

Catatan:
Kisah selanjutnya mengenai perjalanan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ke Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah dan kisah perahu bocor yang dikisahkan oleh Nongkeng.