POJOKSULSEL, MAKASSAR - Prof Dr Alimin sejenak terdiam. Dirabanya cangkir kopi dan perlahan dihirup. Dia melanjutkan menyentuh pinggir meja untuk menemukan bungkusan rokok putihnya. Dari raut wajahnya, Prof Alimin terlihat butuh waktu sejenak merangkum perjalanan donasi sepuluh ribu rupiah yang digagasnya bersama teman alumni di pesantren dimana dia dulu mondok.
Sekadar diketahui, Prof Alimin saat ini sudah buta total. Penyakit yang dideritanya membuat fungsi penglihatannya terus menurun hingga buta total sejak beberapa tahun terakhir.
Gerakan Sepuluh Ribu yang disingkat dengan GSR Aljunaidiyah berawal sekitar tahun 2007. Kala itu, Alimin (masih berstatus doktor, belum profesor), yang merupakan tenaga pengajar atau dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, membangun komunikasi dengan sesama alumni Pondok Pesantren Modern Aljunaidiyah Biru, Kabupaten Bone yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Pemkot Parepare Diganjar Penghargaan Predikat Utama di UHC Award 2024
Prof Alimin mengatakan, gerakan ini adalah prinsip gotong royong untuk membantu tumbuh kembang pesantren dimana mereka berasal. Pesantren Modern Aljunaidiyah Biru merupakan pesantren yang dirintis oleh Anregurutta KH Djunaid Sulaiman.
"Namo cedde' narekko diammaneng manengi (biar sedikit jika dilakukan bersama sama), Insya Allah akan ringan dan bisa jadi sesuatu. Sepuluh ribu rupiah akan berkah dan bermanfaat untuk kita semua dan pesantren kita," cerita Prof Alimin mengulang ide yang digagas bersama alumni lainnya.
GSR Aljunaidiyah juga sebagai wadah ladang ladang amal sedekah bagi alumni dan semua pihak yang ingin bergotong royong. Rumusan konsep kemandirian ekonomi lembaga pendidikan atau pondok pesantren juga mengemuka sebagai dasar acuan. Dana yang terkumpul dipergunakan untuk pengembangan kebutuhan dan ekonomi pondok yang akan dikelola mandiri.
Baca Juga: Indah Putri Indriani Luncurkan 12 Inovasi Aksi Perubahan Bertajuk Indah Tanpa Batas
Kenapa namanya GSR atau Gerakan Sepuluh Ribu? Diketahui, tahun 2007, teknologi sistem perbankan dalam transfer dana belum seperti sekarang. Transfer via internet banking dan transfer elektronik lainnya. Seperti fasilitas Dana dan lain sebagainya, belum ada.
Kala itu, transfer uang masih melalui anjungan tunai mandiri (ATM) dan melalui tranfer manual di bank. Minimal transfer melalui ATM adalah Rp10 ribu. Angka Rp10 ribu juga dipilih sesuai dengan prinsip gotong royong, biar sedikit dan sesuai keikhlasan pun bisa jadi bukit.
Nominal Rp10 ribu juga ini memberikan ruang kepada semua orang untuk bisa berpartisipasi. Ibaratnya, setelah dia melakukan transaksi via ATM terkait urusan bisnis atau lainnya, bisa kemudian melakukan transfer ke rekening donasi.
Baca Juga: Realisasi Investasi Triwulan II di Sulawesi Selatan Capai 3,483 Triliun
Handphone kala itu masih Blackberry. Jadi teknologi belum semaksimal hari ini. Teknologi yang masih serba terbatas, tidak menghalagi GSR terus bergerak melalui media sosial. Memaksimalkan grup Blackberry Messenger dan Facebook sebagai wadah komunikasi virtual dan pertemuan langsung sebagai wadah silaturrahim.
Gagasan GSR Aljunaidiyah kemudian menghasilkan komunitas silaturrahim sesama alumni Pesantren Aljunaidiyah Bone. Dibuatlah momen tiap bulan berkumpul untuk silaturrahim. Seperti "arisan" tapi hanya nama saja.
Dana yang dikumpul atas nama "arisan" itu sebenarnya sebagai biaya kopi, teh, minuman lain dan makan saat bertemu. Beberapa Alumni yang terlibat sebagai influencer awal, di antaranya Satyah Samad, Musfira Djunaid, Suwarni, Hasniati, Rizda Novendri Danial, Andi Chenk Amrani, Nuraeni Sokku, Nurhaeni, Jumriah, Alimin, Muh Zubair, Muhaemin, Muhammad Fahruddin, Muslihin Sultan, dan Idchan Pasinringi.
Sedekah atau donasi dari berbagai alumni terus masuk dari berbagai penjuru. Dana GSR Aljunaidiyah beberapa kali dipergunakan sebagai support kebutuhan santri di pondok. Seperti untuk kegiatan lomba dan pemenuhan fasilitas.
Misalnya, kegiatan Pekan Bahasa yang saat itu dikoordinir oleh Syamsu Alam. Dana support kegiatan diambil dari dana GSR.
Baca Juga: 87 Calon Mahasiswa Baru Berebut Tiket Masuk Pascasarjana IAIN Parepare Tahap II
"Setiap akhir tahun, dana sisa dari 'arisan' dimasukkan dalam kas GSR. Pernah juga ada pembelian AC (pendingin ruangan) untuk pondok karena waktu itu ada permintaan," kata Satya Samad.
Alumni Pesantren Aljunaidiyah yang rutin bertemu maupun berkomunikasi tiap bulan pun terus bertambah. Termasuk Rahmatunnair, Mawardi, Abdul Malik, Jusman Arrahman yang sudah masuk sebagai influencer GSR. Komunitas jaringan silaturrahim semakin bertambah. Apalagi setelah wadah ini kemudian saling support dengan organisasi alumni Pesantren Aljunaidiyah Bone yang sudah ada.
Diketahui, Rabitatul Khirrij Ma'had Hadits (RHMH) Aljunaidiyah merupakan payung organisasi alumni Pesantren Modern Aljunaidiyah Bone.
Baca Juga: Pasar Tani Pemkot Parepare Bantu Petani dan UMKM Pemasaran Produk Berkualitas dengan Harga Murah
Sekitar tahun 2015, semangat alumni Pesantren Aljunaidiyah Biru semakin membuncah untuk berdonasi di GSR Aljunaidiyah saat ada wacana pembelian lahan untuk kampus 2 pondok pesantren. Kampus 1 Pesantren Aljunaidiyah sudah perlu perluasan lahan. Rencana lahan kampus 2 berada di daerah Desa Passippo, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone.
Lahan kampus 2 berjarak sekitar 10 kilometer dari kampus 1 Pesantren Aljunaidiyah sekarang yang berada di pusat Kota Watampone, tepatnya di Jalan Jend Sudirman, Kelurahan Biru. Lahan yang "diincar" itu diketahui seharga Rp100 juta.
Lahan dengan luas kurang lebih 2 hektare itu menjadi penyemangat alumni untuk berdonasi. Alhamdulillah, lahan yang berada di lokasi berbukit di Passippo berhasil dibeli pada 10 Januari 2017.
Baca Juga: Andi Sudirman dan Fatmawati Bertemu Airlangga Hartarto, Begini Respons Ketua Golkar Sulsel
Prof Alimin mengatakan, dana GSR yang diserahkan ke Yayasan Pesantren Aljunaidiyah sekitar Rp80 juta-an yang dicukupkan oleh yayasan menjadi Rp100 juta untuk beli lahan kampus 2 di Passippo.
Usai momentum pembelian lahan Kampus 2 Pesantren Modern Aljunaidiyah Biru di Passippo, Bone, perjalan GSR Aljunaidiyah seolah stagnan. Seperti biasalah perjalanan, kadang terjadi pasang dan surut. GSR Aljunaidiyah seperti mati suri.
Momentum dimulainya pembangunan kampus 2 di Passippo tahun 2020 yang ditandai dengan peletakan batu pertama masjid, kembali menggelitik. Wacana GSR Aljunaidiyah kembali dihidupkan dalam ruang ruang diskusi offline maupun dalam ruang virtual sesama alumni.
Mulailah diramu konsep baru GSR Aljunaidiyah dengan pola berbeda dari sebelumnya. Realisasi bangunnya kembali GSR dari mati suri ditandai pada 22 Januari 2023 dengan pembuatan grup Whatsapp. Diskusi panjang sekitar dua tahun untuk melahirkan pola baru yang lebih efisien akhirnya berbuah.
Konsep dasar GSR Aljunaidiyah yang nantinya akan menjadi satu bagian pilar penopang kemandirian ekonomi pondok tetap dipertahankan. Tetap menjadi rumusan konsep masa depan.
Mulailah influencer GSR Aljunaidiyah kembali bergerak mengumpulkan donasi. Jika pada awalnya rekening memakai rekening pribadi sebagai tempat pengumpulan donasi (rekening Idchan pasinringi dan Alimin), kini rekening sudah memakai rekening dari Yayasan Pesantren Aljunaidiyah.
Baca Juga: UMI dan NUS Perkuat Riset Warisan Maritim dengan 5 Kerja Sama Proyek, Apa Saja?
Sinergitas antaralumni semakin terjalin. Tidak kurang dalam tempo setahun berjalan, terkumpul dana sekitar Rp100 juta lebih. Dana kemudian diperuntukkan untuk membangun Guest House GSR Aljunaidiyah di kampus 2.
"Alhamdulillah, dalam waktu satu tahun setengah, dua unit guest house dengan luas enam kali dua belas meter selesai terbangun," kata Prof Alimin sesaat sebelum menyerahkan kunci guest house tersebut kepada pengurus yayasan, Senin (5/8/2024).
Hadir dalam serah terima kunci Guest House GSR Aljunaidiyah tersebut, di antaranya pada alumni Pesantren Aljunaidiyah, Prof Alimin, Dr Rahmatunnair, Henri Susanto (ketua RHMH Bone), Jamaluddin Bennu, Sapriadi, Irhanuddin, Kaharuddin, Masda, Ahmad Genda, Syamsul Bahri, Sitti khadijah, Mastati, Andi Ilmiah Makmur, Hj Hilyah Hamzah, Hajrah, Andi Silvia Wahyuli, Diana Hasan, Dr Kasmawati, Jumriah, Reni syarifuddin, Andi Sarwo, Ismail Yakub, dan Sutarmi.
Baca Juga: 114 Mahasiswa Nobel Indonesia Siap Mengabdi di Kabupaten Bantaeng
Mewakili pengurus yayasan dan pimpinan Pondok Pesantren Aljunaidiyah, di antaranya Drs Maharajuddin, Dr Muslihin Sultan, H Jusman, H Buhari Nurdin, H. Salman Hudzaifah, Syarifuddin (imam Masjid Lapawawoi).
Mereka yang hadir dalam penyerahan, yang diawali dengan doa syukur bersama dan barzanji sebagai tradisi, juga merupakan donatur tetap GSR Aljunaidiyah.
Guest house itu nantinya akan dipergunakan sebagai penginapan yang diperuntukkan untuk tamu yang datang ke pondok. "Juga untuk orangtua santri yang datang menjenguk anaknya, bisa istirahat dan menginap di sini," kata Maharajuddin usai menerima kunci guest house.
Jusman mengatakan, anggaran pembangunan dua unit Guest House GSR Aljunaidiyah sekitar Rp150 juta-an. Rencananya, guest house masih akan ditambah unitnya.
Baca Juga: Daftar 9 IAIN Segera Alih Status Jadi UIN, Satu di Antaranya di Sulawesi Selatan
Donatur "tetap" GSR Aljunaidiyah saat ini sudah berjumlah lebih 100 orang. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah. Donasi bulanan tidak bersifat wajib, hanya jika ada keluasan rejeki dari para donatur. Jumlah tiap bulan pun tidak ditentukan, tergantung keikhlasan dan keluasan rejeki masing masing donatur.
Sementara ini, alumni Pesantren Aljunaidiyah Biru masih merumuskan bidang usaha terkait pengelolaan dana GSR Aljunaidiyah nantinya. Beberapa bidang yang menjadi usulan, di antaranya usaha jasa, percetakan, penginapan, pertanian, peternakan, kuliner, dan lain-lain.
Saat ini, Kampus 2 Pesantren Modern Aljunaidiyah Bone sudah berdiri megah. Masjid besar, ruang ruang belajar berlantai 2, asrama berlantai dua, dapur, laboratorium, rumah pembina, dan bangunan asrama bantuan dari Kementerian PUPR. Semua berdiri megah di lahan sekitar 2 hektare tersebut.(***)
