POJOKSULSEL, MAKASSAR - Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan National University of Singapore (NUS) sepakat untuk menjadikan dua universitas itu sebagai sentra riset dan pengembangan warisan maritim (maritime heritage) di Asia Tenggara.
Delegsi UMI dan NUS melakukan pertemuan di Kampus NUS di Kent Ridge Crescent, Singapore pada Selasa (6/8/2024).
Delegasi UMI diwakili Prof Muhammad Hattah Fattah dan Awaluddin Syamsu. Keduanya adalah peneliti dari Jusuf Kalla Research Center for Bugis-Makassar Cultural Studies (JK Center).
Baca Juga: 114 Mahasiswa Nobel Indonesia Siap Mengabdi di Kabupaten Bantaeng
Sementara, pihak NUS diwakili Sim Chuin Peng, PhD., Dr Effendy bin Abdul Hamid, Nur Diyana binti Abdul Kader, dan Gandhi.
Sebelumnya, pada 5 Agustus 2024, peneliti JK Center telah bertemu dengan Dr Effendy dari Southeast East Asia Department (SEASD) NUS dan Faisal Nordin (Presiden Masyarakat Bugis Melayu Singapore) di Pasir Panjang Road.
Studi telah dilakukan sejak tahun 2023 dan terus dikembangkan pada tahun 2024 melalui realisasi lima proyek kerjasama.
Baca Juga: Daftar 9 IAIN Segera Alih Status Jadi UIN, Satu di Antaranya di Sulawesi Selatan
Kerjasama dan penerjemahan manuskrip hubungan sejarah Bugis - Makassar dan Singapore menjadi titik awal dalam penyelidikan pengembangan warisan maritim di Asia Tenggara.
Mengacu pada temuan manuskrip Daeng Paduppa terungkap sejumlah informasi dan fakta peran dan kontribusi orang Bugis-Makassar dalam perekonomian Singapore sekitar tahun 1814 – 1854.
Temuan penelitian akan dijadikan koleksi perpustakaan kedua universitas sebagai bagian penting dari rencana mewujudkan UMI dan NUS menjadi Pusat Pengembangan Warisan Maritim di Asia Tenggara.
Baca Juga: Diskominfo Parepare dan Pengurus Masjid Raya Gelar Pemerintah Kota Menyapa dengan Ngopi Berjamaah
Keberhasilan orang Bugis-Makassar menjangkau berbagai wilayah Nusantara termasuk menjelajahi Asia Tenggara tidak terpisahkan dari keberhasilan penguasaan orang Bugis-Makassar terhadap teknologi perbesian. Mengacu pada temuan Bulbeck dan Caldwell (2000) yang menyebut Bumi Sulawesi sebagai daratan besi (land of iron).
Pengembangan UMI dan NUS maritime heritage akan didukung dengan pelaksanaan lima projek kerjasama, yaitu:
1. Pembuatan Film Dokumenter Keris Bugis
2. Koleksi dan Digitalisasi Manuskrip Sejarah Maritim
3. Penerjemahan Manuskrip
Baca Juga: Simak Sejumlah Tips Beri Rasa Nyaman kepada Anak Bermain di Rumah
4. Identifikasi dan Pelestarian Warisan Budaya Keris Bugis
5. Sejarah Maritim dan Interaksi Budaya Komunitas Pembuat Kapal Bugis
Poin 4 dan poin 5 merupakan kegiatan riset dengan skema dana padanan (matching grant). ***




