BURNOUT. Sebuah kata yang dulu mungkin hanya akrab di kalangan pekerja kantoran, kini perlahan tapi pasti menjadi bagian dari kosakata sehari-hari mahasiswa.
Di tengah dinamika perkuliahan, tumpukan tugas, aktivitas organisasi, dan tekanan sosial yang terus membayangi, semakin banyak mahasiswa terutama dari generasi Z yang diam-diam merasa lelah. Lelah secara mental, emosional, bahkan spiritual.
Mahasiswa Gen Z tumbuh di era yang serba cepat. Mereka akrab dengan teknologi, multitasking, dan ekspektasi publik baik dari orang tua, kampus, maupun dunia maya. Mereka belajar untuk aktif, kreatif, produktif, dan selalu "on" dalam berbagai aspek kehidupan.
Namun di balik layar yang selalu menyala itu, banyak di antara mereka yang mulai merasakan kekosongan. Mereka hadir di kelas, tapi tidak benar-benar “ada”.
Baca Juga: Dulu Honorer Rajin, Kini Jadi PPPK Jangan Kendor! Chaidir Syam Warning ASN Baru di Maros
Mereka mengerjakan tugas, tapi kehilangan makna. Mereka tetap tersenyum di Instagram, namun menyimpan gelisah yang dalam.
Di berbagai kampus, realitas ini semakin terasa. Mahasiswa kini tak hanya berjuang menyelesaikan studi, tapi juga berjuang untuk bertahan hidup.
Tidak sedikit dari mereka yang kuliah sambil bekerja misal menjadi barista, ojek daring, penjual online, atau freelance digital demi membiayai kuliah, sewa kamar, dan makan sehari-hari.
Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 47 persen mahasiswa bekerja sambil kuliah. Dampaknya tidak sederhana.
Baca Juga: Beppa Pitunrupa hingga A’lammang, Kuliner Sulsel Diangkat ke Panggung Riset BRIN
Mereka harus mengorbankan waktu istirahat, menekan kebutuhan sosial, bahkan menunda penyembuhan dari luka batin yang mereka alami diam-diam. Kesehatan mental menjadi taruhan.
Banyak dari mereka mengalami gejala kelelahan mental, cemas berlebihan, depresi ringan, atau rasa hampa yang terus-menerus menghantui.
Data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mencatat bahwa 1 dari 5 mahasiswa Indonesia mengalami gangguan psikologis, dan mayoritas tidak pernah mengakses bantuan profesional karena takut distigma atau dianggap “lemah”.
Di sejumlah perguruan tinggi, layanan konseling pun mengalami lonjakan permintaan yang signifikan, menjadi tanda bahwa keresahan mental ini bukan hal yang bisa diabaikan.
Baca Juga: Penyuluh Agama Islam Sulsel Catat Sejarah Baru di PAI Award 2025
Lebih jauh, burnout juga membawa risiko akademik. Beberapa mahasiswa yang mengalami tekanan mental dan ekonomi sekaligus akhirnya terpaksa berhenti kuliah.
Mereka yang menjalani beban ganda memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi untuk drop out (DO) dibandingkan mahasiswa yang belajar penuh waktu.
Ini bukan sekadar angka statistik, tapi kisah nyata dari mimpi-mimpi yang tak sempat selesai.
Burnout kerap datang dalam sunyi. Ia menyamar sebagai kantuk berkepanjangan, kehilangan semangat, atau keengganan membuka buku.
Baca Juga: Pemkot Parepare Gandeng STIKS Makassar, Genjot SDM dan Sosial
Sayangnya, sebagian besar mahasiswa memilih untuk bertahan dalam diam.
Takut dihakimi, takut dianggap lemah, takut mengecewakan orang tua.
Namun, sesungguhnya burnout bukan bentuk kelemahan. Ia adalah sinyal bahwa sistem yang kita jalani selama ini terlalu menekan, terlalu kaku, dan mengabaikan sisi kemanusiaan.
Maka, sudah saatnya kita mulai jujur: kampus tidak bisa hanya menjadi pabrik nilai akademik. Ia harus menjadi ruang tumbuh yang memanusiakan.
Dalam ajaran Islam, menjaga jiwa bukanlah perkara sepele. Rasulullah saw. mengingatkan: "Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu" (HR. Bukhari).
Baca Juga: Pertemuan Tahunan UPP WPPNRI 713, 714, 715 di Unhas, Dorong Penangkapan Ikan Terukur
Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk menekan dirinya melampaui batas. Justru, tawazun (keseimbangan) adalah nilai luhur yang selalu dijaga. Allah Swt. pun menegaskan:
"Allah tidak membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (QS. Al-Baqarah: 286).
Artinya, tidak apa-apa untuk merasa lelah. Tidak apa-apa untuk beristirahat. Tidak apa-apa untuk meminta bantuan. Dalam Islam, merawat diri bukan bentuk kelemahan atau egoisme, tapi justru bagian dari rasa syukur atas amanah Allah berupa tubuh, akal, dan jiwa.
Kampus, khususnya kampus Islam, harus mulai membangun budaya pendidikan yang menyentuh sisi rohani.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Unhas di Desa Kalosi Sidrap Rumuskan Tujuh Program Kerja
Konseling bukan sekadar layanan teknis, tetapi juga ruang penyembuhan, tempat untuk menangis, didengar, dan dipulihkan.
Dosen pun perlu memaknai peran mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pembimbing yang memahami kompleksitas hidup mahasiswa.
Mahasiswa Gen Z bukan sekadar generasi digital. Mereka adalah generasi yang tengah mencari arah, makna, dan keseimbangan hidup.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar nilai A di lembar transkrip. Mereka perlu didengar, dipahami, dan dikuatkan.
Baca Juga: Ketika Kursi di sisiku Tetap Kosong, Tak Tergantikan
Dan kita dunia kampus, keluarga, dan masyarakat punya peran untuk menjadi tempat kembali, bukan sumber tekanan tambahan.
Karena pada akhirnya, burnout bukan hanya soal kelelahan. Ia adalah panggilan untuk kembali pada fitrah: menjadi manusia yang utuh.
Dan Islam, dengan segala keluhuran ajarannya, selalu menyediakan ruang untuk siapa pun yang ingin pulih dan menemukan kembali dirinya. ***
Penulis: Hastuti
Dosen Integrasi Keilmuan, Program Studi Sistem Informasi, UIN Alauddin Makassar dan Pemerhati Integrasi Ilmu




