PAGI tadi, saya mengikuti ujian munaqasah seorang mahasiswa Jurnalistik. Sebagaimana biasanya, seharusnya, sidang ujian seperti ini diikuti oleh minimal lima orang dosen: dua pembimbing, dua penguji, dan satu pimpinan sidang.
Namun, ada yang berbeda pagi ini. Ujian hanya dihadiri empat orang: dua penguji, seorang pembimbing, dan satu pimpinan sidang. Ada satu kursi kosong yang tak terisi, bahkan tak tergantikan hingga sekarang. Pembimbing I tidak hadir. Bukan karena lupa atau berhalangan sesaat. Tapi karena beliau telah lebih dulu kembali kepada Sang Pencipta.
Ujian tetap berjalan baik. Mahasiswa mampu mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya dengan baik dan menjawab setiap pertanyaan dengan tenang. Tapi bagi saya pribadi, pada hari ini, hari pertama yang terasa hampa. Ada sesuatu yang hilang. Ada seseorang yang biasanya duduk di sisi saya, kini tinggal hadir dalam kenangan.
Baca Juga: Tembus 10 Besar, Penyuluh Agama Islam Wakil Sulbar Amankan 3 Kategori PAI Award 2025. Ini Daftarnya
Bukan dari saya. Ada isak tangis yang terdengar. Beberapa butiran air mata menetes jatuh membasasi pipinya teman sejawat. Tak mampu menahan kepedihan yang mendalam. Kepada seorang sahabat yang telah bersama selama lebih dari dua dekade.
Dalam sidang tadi, saya duduk sebagai Pembimbing II. Sementara Pembimbing I, Bang Dr. Abdul Halik, tidak lagi di antara kami secara fisik. Namun saya yakin, tentunya ilmu yang beliau tanamkan dan nasihat yang sering ia bisikkan di saat bimbingan, tetap hidup. Akan terus mengalir dalam setiap karya mahasiswa yang pernah ia dampingi, dalam setiap pikiran yang pernah ia bentuk.
Selamat jalan, Bang Halik. Berbahagialah dapat beristirakat di kampung halamanmu, tempatmu lahir dan dibesarkan, Samasundu. Tenanglah dalam pelukan Allah Swt., Sang Khalik. Tugas kita telah kuteruskan sebisaku.
Baca Juga: 7 Penyuluh Agama Islam Wakil Sulsel Tembus 10 Besar PAI Award 2025, Ini Nama-Namanya
Mahasiswata yang kita bimbing bersama sudah menuntaskan perjalanannya. Meski tanpamu secara langsung, namun tidak tanpa kehadiranmu dalam ilmu dan semangat yang kau wariskan.
Hari ini, satu sidang selesai. Tapi rinduku, rindu kami, padamu baru saja dimulai. Langkah kakimu dan untaian kata-katamu terus terdengar. Semoga setiap doa yang mengiringi langkahmu di alam sana menjadi penerang di jalan keabadian, dan setiap ilmu yang kau tinggalkan menjadi amal jariyah yang tak terputus hingga akhir zaman. Inshaallah husnul khatimah.
Samata Gowa, 14 Juli 2025
Penulis: Haidir Fitra Siagian (Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin)



