POJOKSULSEL, TAKALAR - Tim Riset MORA Air Fund dan LPDP UIN Alauddin Makassar melakukan uji lapangan Smart IoT Tracking and Utility for Ruminant Understanding (Situru) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (25/8/2026).
Teknologi Situru tim peneliti UIN Alauddin Makassar memanfaatkan sensor Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) untuk memantau kondisi sapi secara real-time.
Ketua Tim Riset UIN Alauddin Makassar, Prof. Muhammad Basir Paly, mengatakan Situru dirancang untuk membantu peternak mendeteksi masa birahi dan gangguan kesehatan sapi lebih cepat.
Baca Juga: Sulsel 100 Persen Terapkan Manajemen Talenta, Tasming Hamid Ikuti Ekspose Tahap II
“Dengan data yang diperoleh secara real-time, peternak dapat mengambil keputusan lebih cepat dan tepat, baik dalam mendeteksi masa birahi maupun mengidentifikasi gejala penyakit sejak dini,” kata Prof. Muhammad Basir.
Situru bekerja dengan merekam sejumlah parameter penting pada ternak. Di antaranya suhu tubuh, pola pergerakan, aktivitas harian, serta perubahan perilaku sapi.
Data tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan waktu optimal pelaksanaan inseminasi buatan (IB) sekaligus mendeteksi potensi gangguan kesehatan sejak awal.
Baca Juga: Wali Kota Tasming Hamid Pantau Pengerukan Sungai di Lapadang Pero, Target Kurangi Risiko Banjir
Dalam pengujian di Takalar, tim memasang perangkat SITURU pada sapi dengan tiga kondisi berbeda. Yakni sapi sehat dalam kondisi normal, sapi yang sedang birahi atau oestrus, dan sapi yang sedang sakit.
Hasil pemantauan dari masing-masing sapi dikirim ke sistem digital untuk melihat kemampuan perangkat dalam membedakan kondisi fisiologis ternak.
Perwakilan Tim IT sekaligus anggota Tim Riset, Dr. Ir. A. Muhammad Syafar, A.Md., S.T., M.T., IPM., mengatakan pengujian lapangan penting dilakukan sebelum teknologi diterapkan lebih luas.
Baca Juga: Relawan Universitas Muslim Indonesia Datang ke Pengungsian Gempa Manggarai, Puluhan Warga Diperiksa
Menurutnya, tim perlu memastikan perangkat keras, sensor, dan sistem transmisi data berbasis IoT dapat bekerja secara optimal dalam kondisi peternakan sebenarnya.
“Melalui pengujian langsung pada ternak sapi di Kabupaten Takalar, kami dapat memastikan bahwa perangkat keras, sistem sensor, dan transmisi data berbasis IoT yang dirancang dapat berjalan optimal dan andal di kondisi lapangan yang sebenarnya,” ujar Dr. Syafar.
Uji SITURU merupakan bagian dari penelitian nasional bertajuk “Bioteknologi Reproduksi Sapi Berbasis Precision Livestock Farming untuk Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”
Penelitian tersebut mendapat dukungan hibah MORA Fund LPDP Tahun 2025.
Prof. Basir mengatakan pengembangan teknologi peternakan presisi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas sapi lokal.
Konsep Precision Livestock Farming memungkinkan pengelolaan ternak dilakukan berdasarkan data sehingga keputusan terkait reproduksi dan kesehatan dapat dilakukan lebih cepat dan terukur.
Baca Juga: MTQ KORPRI Nasional 2026 Pulang Kampung ke Makassar, Gubernur Sulsel: Kami Berikan yang Terbaik
Penelitian ini melibatkan tim lintas keahlian dari bidang peternakan, teknik informatika, dan sistem informasi.
Selain Prof. Basir dan Dr. Syafar, tim terdiri dari Dr. Inna Novianty, M.Si. dari IPB University, Rasyidah Mappanganro, S.Pt., M.Si., Muhammad Arsan Jamili, S.Pt., M.Si., Ayu Lestari, S.Pt., M.Si., Rahman, S.Kom., M.T., serta Andi Muhammad Nur Hidayat, S.Kom., M.T.
Uji lapangan di Takalar menjadi salah satu tahapan pengembangan SITURU sebelum teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung pemantauan reproduksi dan kesehatan sapi lokal secara lebih luas. ***




