BONE, SULSEL.POJOKSATU.id - Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Ompala) Mappesompae Institut Agama Islam Negeri Bone (IAIN Bone) menuntaskan Pendidikan Dasar (Dikdas) Basecamp XXVII dengan melibatkan delapan peserta.
Mengusung tema “Menapak Perubahan, Menjaga Kelestarian”, pendidikan tersebut berlangsung dalam dua tahap, yakni pembekalan materi di dalam ruangan pada 25-30 September 2026 dan praktik lapangan pada 13-18 Oktober 2026.
Sebanyak delapan peserta, terdiri dari enam laki-laki dan dua perempuan, mengikuti rangkaian pendidikan tersebut. Pada tahap lapangan, peserta menyusuri rute Palacari, Salebba, Lonrong, Tinco, Bacu, hingga Lampoko.
Kepulangan peserta setelah menyelesaikan pendidikan disambut jajaran pimpinan kampus. Wakil Rektor III IAIN Bone, Dr. Rahmatunnair yang mewakili pimpinan kampus, menyampaikan apresiasi kepada pembina, pengurus, dan panitia yang telah mendampingi peserta selama proses pendidikan.
Ia secara khusus mengapresiasi dedikasi koordinator lapangan yang bertanggung jawab mendampingi peserta selama menjalani kegiatan di alam terbuka.
Menurut Rahmatunnair, selesainya pendidikan dasar bukanlah akhir dari proses pembinaan, melainkan awal bagi anggota baru untuk menjalankan tanggung jawab dalam organisasi.
Pengalaman selama mengikuti pendidikan diharapkan menjadi bekal untuk membangun karakter disiplin, mandiri, tangguh, serta mampu bekerja sama dalam berbagai situasi.
Nilai-nilai tersebut, kata dia, perlu diterapkan tidak hanya dalam aktivitas organisasi, tetapi juga dalam kegiatan akademik dan kehidupan bermasyarakat.
Rahmatunnair juga mengingatkan pentingnya peran mahasiswa dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia berharap Ompala Mappesompae dapat menjadi ruang pembinaan mahasiswa yang mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan pengalaman lapangan, sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Sebagai organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang kepencintaalaman dan advokasi ekologis, Mappesompae diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang tidak hanya memiliki ketangguhan fisik, tetapi juga wawasan luas dan kesadaran terhadap persoalan lingkungan.
Sementara itu, Pembina Mapala Mappesompae, Sylviah, meminta anggota baru yang telah menyelesaikan pendidikan agar menjalankan amanah keanggotaan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Ia menegaskan, keanggotaan dalam organisasi tidak cukup sebatas identitas. Komitmen harus diwujudkan melalui kesediaan untuk terus belajar, menjaga solidaritas, saling melindungi, serta berkontribusi dalam kegiatan organisasi.
“Harapan saya, setelah dikukuhkan, anggota baru semakin memahami arti menjadi bagian dari keluarga besar Mappesompae. Ini adalah proses awal. Ke depannya, jangan jadikan Mappesompae hanya sebagai identitas belaka, tetapi tunjukkan komitmen, solidaritas, dan loyalitas melalui kesediaan belajar, saling menjaga, dan berkontribusi dalam kegiatan organisasi,” ujar Sylviah.
Ia juga mengingatkan bahwa ketangguhan seorang pencinta alam harus berjalan beriringan dengan kepedulian dan pertimbangan yang matang dalam setiap tindakan.
Menurut Sylviah, nilai-nilai dalam kode etik pencinta alam perlu diwujudkan melalui perilaku dan karya nyata, bukan sekadar diucapkan.
“Ketangguhan seorang pencinta alam perlu berjalan bersama kepedulian dan pertimbangan yang matang. Buktikan buah karya dari kode etik pencinta alam, bukan sekadar kata yang terucap,” tegasnya.








