GOWA, SULSEL.POJOKSATU.id - Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan memperkenalkan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi paving block di Desa Bontokassi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah sekaligus pemanfaatan limbah plastik menjadi produk yang memiliki nilai guna dan potensi nilai ekonomis.

Program pengabdian ini dilaksanakan oleh tim dari Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik UMI dengan dukungan anggaran dari Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) UMI.

Salah satu dosen yang terlibat, Ir. Andi Muhammad Akram, S.Kel., M.Ling, menjelaskan bahwa inovasi tersebut tidak hanya berorientasi pada pengurangan volume sampah plastik, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan.

“Kegiatan ini dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah melalui prinsip daur ulang. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan lingkungan,” ujar Andi Muhammad Akram dalam keterangan resminya, Minggu (1/11/2026).

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan tahapan pengolahan sampah plastik, mulai dari proses pengumpulan, pembersihan, pengolahan, hingga pencetakan menjadi paving block.

Sampah plastik yang selama ini dipandang sebagai limbah dan sulit terurai diupayakan menjadi bahan alternatif yang dapat dimanfaatkan kembali. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat melihat sampah plastik tidak hanya sebagai limbah, tetapi juga memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Tahap Kedua Edukasi Pengelolaan Sampah

Kegiatan pengabdian tersebut merupakan tahap kedua dari program yang telah dilakukan sebelumnya. Pada 2024, tim juga memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Bontokassi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik.

Melalui kegiatan sebelumnya, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya agar sampah anorganik, termasuk plastik, dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang.

Namun, persoalan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan bagi masyarakat setempat.

Sekretaris Desa Bontokassi, Nurdin, mengungkapkan masyarakat masih memiliki kebiasaan membakar sampah karena armada pengangkut sampah dari pemerintah jarang datang ke wilayah tersebut.

“Hampir setiap hari masyarakat di sini membakar sampahnya sendiri dikarenakan jarangnya armada atau mobil pengangkut sampah dari pemerintah. Sampah yang dibakar macam-macam, seperti daun, kertas sampai plastik,” ujar Nurdin.

Berpeluang Jadi Produk Bernilai

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya edukasi mengenai pengelolaan dan pemanfaatan sampah secara berkelanjutan.

Pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block diharapkan tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang kegiatan produktif dan ekonomi kreatif berbasis lingkungan bagi masyarakat.

Meski memiliki potensi untuk dikembangkan, produk paving block berbahan sampah plastik tetap memerlukan perhatian terhadap kualitas dan keamanannya. Pengujian kekuatan, daya tahan, ketahanan terhadap cuaca, serta aspek keselamatan dalam proses produksi menjadi hal yang perlu diperhatikan.