MAKASSAR, SULSEL.POJOKSATU.id - Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. Hambali Thalib, meminta Masjid Umar bin Khattab UMI dimanfaatkan secara optimal sebagai pusat ibadah, pembelajaran agama, dan pembinaan karakter mahasiswa.

Hal itu disampaikan Hambali Thalib saat peresmian hasil renovasi dan pembangunan Masjid Umar bin Khattab Kampus II Universitas Muslim Indonesia yang dirangkaikan dengan dzikir dan doa bersama bulanan keluarga besar UMI di Makassar, Jumat (9/10/2026).

Hambali Thalib menegaskan, keberhasilan pembangunan Masjid Umar bin Khattab UMI tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan, tetapi juga dari aktivitas ibadah dan kegiatan keilmuan yang berlangsung di dalamnya.

“Masjid yang bagus jangan hanya ramai ketika diresmikan. Setelah itu sepi. Tugas kita bukan hanya membangun masjid, tetapi juga memakmurkannya,” tegas Hambali Thalib.

Dia meminta Wakil Rektor IV memastikan masjid tersebut aktif digunakan untuk berbagai kegiatan sejak pagi hingga Magrib.

Selain salat berjamaah, kegiatan yang diarahkan berlangsung di masjid meliputi pembelajaran mata kuliah keagamaan, kajian ilmiah, diskusi mahasiswa, pembinaan Alquran, dan dakwah.

Menurut Hambali Thalib, masjid kampus harus menjadi ruang pembentukan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berakhlak, berintegritas, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

“Kita ingin dari masjid ini lahir calon pendakwah yang memahami Islam rahmatan lil ‘alamin, sekaligus profesional muslim yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Masjid Umar bin Khattab telah menjadi bagian dari aktivitas keagamaan UMI sejak 1984. Renovasi dan pembangunan yang diresmikan tersebut diharapkan meningkatkan kenyamanan jamaah sekaligus memperkuat peran masjid dalam kehidupan akademik kampus.

Dalam kesempatan yang sama, Hambali Thalib menginstruksikan penguatan budaya ibadah di seluruh lingkungan Yayasan Wakaf UMI. Kegiatan dzikir dan doa bersama diminta diterapkan di berbagai unit, mulai Kampus I dan II, Pascasarjana, Menara UMI, Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, hingga kawasan Lanraki.

Pelaksanaannya diarahkan mengacu pada praktik kegiatan keagamaan di Pesantren Unggulan Mahasiswa Darul Mukhlisin Padang Lampe.

“Setelah salat Dhuha, Zuhur, dan Ashar berjamaah, minimal kita berdzikir dan berdoa bersama. Jangan baru selesai salam, langsung berdiri dan meninggalkan masjid,” katanya.

Hambali menambahkan, pembiasaan ibadah harus tercermin dalam perilaku kerja, terutama kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan kualitas pelayanan. Dia juga mengingatkan seluruh jajaran untuk menjaga integritas serta mematuhi larangan gratifikasi.

“Kami ingin orang UMI dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena kejujuran, kedisiplinan, dan cara melayaninya,” tuturnya.

Terkait pelayanan kampus, Hambali meminta seluruh pimpinan fakultas, program studi, Pascasarjana, lembaga, biro, dan unit kerja meningkatkan kualitas pelayanan akademik maupun administrasi pada tahun akademik 2026/2027.

Dia menegaskan mahasiswa berhak mendapatkan pelayanan yang ramah, cepat, jelas, adil, dan bertanggung jawab.

“Jangan membuat mahasiswa merasa sedang meminta pertolongan untuk sesuatu yang sebenarnya menjadi haknya. Kita semua bekerja di UMI untuk melayani pendidikan mereka,” tegasnya.

Selain pembenahan internal, UMI juga bersiap menjadi tuan rumah Abdidaya 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 22-25 Oktober 2026. Kegiatan tersebut direncanakan diikuti 120 tim dari 60 perguruan tinggi negeri dan swasta serta enam mitra dari berbagai daerah di Indonesia.

Hambali meminta Wakil Rektor III bersama seluruh jajaran memastikan kesiapan fasilitas, kebersihan kampus, koordinasi kegiatan, dan pelayanan bagi peserta.

“Target kita jelas: sukses sebagai penyelenggara dan sukses dalam prestasi,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Rektor UMI turut menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Wakaf UMI dan seluruh pihak yang berkontribusi dalam renovasi serta pembangunan Masjid Umar bin Khattab.