POJOKSULSEL, MAKASSAR - Ketua DPRD Sulawesi Selatan (Sulsel) drg Andi Rachmatika Dewi atau akrab disapa Cicu mengajak mahasiswa baru Fakultas Hukum (FH) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar untuk berani bermimpi sekaligus berani mengambil peran sebagai pemimpin.
Pesan itu disampaikan Cicu saat menjadi narasumber dalam Seminar Kepemimpinan Mahasiswa Baru FH UMI Makassar yang berlangsung di Auditorium Al Jibra UMI, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Selasa (6/10/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa baru FH UMI, Cicu banyak menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya terjun ke dunia politik. Menurutnya, keberanian mencoba hal-hal baru menjadi salah satu kunci dalam perjalanan tersebut.
“Berani bermimpi, berani memimpin. Saya mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, tapi memilih jalur politik untuk ditekuni,” kata Cicu.
Ia mengaku, keputusan masuk ke dunia politik pada 2009 bukanlah pilihan yang lazim bagi seorang praktisi kedokteran.
Baca Juga: Andi Winarno Eka Putra Resmi Jadi Pj Sekda Sulsel, Ini Jejak Kariernya dari Bone hingga Pemprov
Namun, kesempatan tersebut justru menjadi pintu bagi dirinya untuk mengeksplorasi kemampuan sekaligus menemukan pengalaman baru di luar bidang yang selama ini ditekuninya.
Cicu pun mendorong mahasiswa baru UMI agar menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang untuk terus mengembangkan diri.
“Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk bisa meng-explore kepada adik-adik bahwa kampus inilah tempat adik-adik untuk meng-upgrade diri,” ujarnya.
Menurut Cicu, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di dalam kelas. Pengalaman berorganisasi juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter kepemimpinan.
Ia mengajak mahasiswa aktif mengikuti organisasi kampus agar terbiasa berinteraksi, menyampaikan pendapat, sekaligus menghadapi perbedaan pandangan.
Baca Juga: Gus Ipul Gerakkan Ribuan RT RW di Makassar dalam Gerakan Nasional Peduli Tetangga Perkuat Perlinsos
“Pendapat yang berbeda bukan hal yang salah,” katanya.
Cicu juga berpesan agar mahasiswa tidak takut mencoba sesuatu yang baru selama memberikan dampak positif.
Ia kemudian membagikan perjalanan dirinya yang terbilang tidak linear. Saat masih berstatus mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Cicu menjadi penyiar radio pada 2003.
Beberapa tahun kemudian, ia mulai masuk ke dunia politik pada 2008 dan mengikuti Pemilu untuk pertama kalinya pada 2009.
“Kenapa saya ikut Pemilu 2009? Karena pertama kalinya partai politik mengharuskan ada perempuan 30 persen di daftar calegnya. Saat itu susah mencari kader perempuan yang mau nyaleg,” tuturnya.
Cicu yang ketika itu tidak memiliki latar belakang organisasi politik memilih mengambil kesempatan tersebut.
“Saya berpikir, bukanji hal negatif, sekalian saya mau tambah pengalaman. Maka kenapa tidak. Akhirnya saya ikut Pemilu 2009 dengan nomor urut 6,” lanjutnya.
Baca Juga: Asap Karhutla Kalimantan Kemungkinan Terbawa ke Sulsel, Ini Waktu Kualitas Udara Memburuk
Dari keputusan mencoba pengalaman baru tersebut, perjalanan politik Cicu terus berlanjut.
Ia kemudian dipercaya menjadi anggota DPRD Sulsel dan telah menjalani empat periode sebagai legislator hingga dipercaya menduduki posisi Ketua DPRD Sulsel.
Perjalanan itu, kata Cicu, menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari latar belakang pendidikan politik.
“Saya ingin bercerita bagaimana perjalanan saya sampai bisa duduk sebagai Ketua DPRD Sulsel dengan tidak memiliki background pendidikan politik, organisasi politik, tapi akhirnya bisa menjadi seorang politisi sampai empat periode duduk sebagai anggota DPRD,” ungkapnya.
Bagi Cicu, kepemimpinan bukan sekadar teori yang dipelajari di ruang kelas. Kemampuan menjadi pemimpin justru banyak terbentuk melalui interaksi sosial sehari-hari.
Baca Juga: 19 Kapolda Berganti dalam Mutasi Polri 2 Oktober 2026, Ini Daftar Lengkapnya
“Saya mau sampaikan bahwa menjadi seorang pemimpin tidak dipelajari di kelas, melainkan dipelajari lewat interaksi sosial sehari-hari,” tegasnya.
Karena itu, ia menyebut kampus sebagai inkubator bagi mahasiswa sebelum mereka terjun lebih jauh ke tengah masyarakat dan dunia profesional.
Di kampus, mahasiswa dari berbagai latar belakang dipertemukan dalam satu ruang pembelajaran. Perbedaan tersebut, kata Cicu, justru dapat memperkaya wawasan dan pengalaman.
“Saya percaya adik-adik mahasiswa baru yang hadir di sini berasal dari SMA yang berbeda-beda dan berada di sini berkumpul bersama untuk belajar. Inilah yang akan memperkaya pengetahuan adik-adik dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Cicu juga menceritakan pilihan pendidikannya yang sempat dipengaruhi oleh keluarga.
Ia lahir dari keluarga dengan latar belakang hukum. Ayahnya merupakan seorang jaksa, begitu pula dengan adik laki-lakinya.
“Awalnya saya memilih Fakultas Hukum karena ingin mengikuti jejak ayah, tapi ibu meminta saya sebagai anak perempuan untuk menjadi dokter,” ceritanya.
Meski saat itu menganggap permintaan sang ibu sebagai sesuatu yang biasa, Cicu kemudian mengikuti keinginan tersebut dan berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Unhas.
Baca Juga: 4 Kapolda di Sulawesi Berganti, Ini Daftar Nama Pejabat Baru Hasil Mutasi Polri 2 Oktober 2026
Dari pengalaman itu, ia pun menyampaikan satu pesan sederhana kepada mahasiswa baru: jangan mengabaikan doa seorang ibu.
“Sering-sering doa ibu yang mustajab,” katanya.
Cicu juga menyinggung pentingnya literasi hukum bagi mahasiswa, termasuk mereka yang nantinya menekuni profesi di luar bidang hukum.
Menurutnya, pemahaman hukum dibutuhkan dalam hampir seluruh sektor kehidupan dan profesi.
Ia mencontohkan sejumlah dokter yang telah memiliki spesialisasi bahkan memilih kembali menempuh pendidikan hukum karena merasa membutuhkan pemahaman hukum dalam menjalankan praktik profesinya.
Baca Juga: Peminat UMI 16.530 Orang, 5.278 Jadi Mahasiswa Baru, Kampus Pasang Target Maba Sepanjang Setahun
“Teman-teman dokter yang rata-rata spesialis itu akhirnya berinisiatif mengambil S1 hukum. Kenapa? Karena menurut mereka profesi dokter yang mereka punya saat ini perlu dibackup dengan literasi hukum yang cukup dalam melaksanakan praktik sehari-hari,” jelasnya.
Hal serupa juga dirasakan Cicu dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua DPRD Sulsel.
Setiap hari, kata dia, DPRD berhadapan dengan pembahasan anggaran, peraturan daerah hingga fungsi pengawasan. Seluruhnya membutuhkan pemahaman terhadap aturan yang menjadi dasar dalam menjalankan kewenangan lembaga.
“Literasi hukum sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan pekerjaan. Contohlah saya sebagai Ketua DPRD Sulsel, setiap hari kami membahas terkait anggaran, peraturan daerah dan fungsi pengawasan. Tentu itu membutuhkan literasi hukum yang jelas,” pungkasnya. ***




