POJOKSULSEL, MAKASSAR - Kualitas udara di Kota Makassar dan sejumlah wilayah sekitarnya, di Sulawesi Selatan (Sulsel), terpantau berada pada kategori sedang hingga tidak sehat dalam beberapa hari terakhir.
Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, mengatakan kondisi tersebut terpantau dari hasil pengamatan kualitas udara di Stasiun Klimatologi (Staklim) Maros.
"Kalau untuk masalah kualitas udara, dari kita amati dari beberapa hari terakhir ini, di situ terpantau kita dari batas sedang hingga tidak sehat," kata Asriani Idrus kepada wartawan, Sabtu (3/10/2026).
Asriani Idrus mengatakan, beradsarkan hasil pemantauan kualitas udara, masuk dalam kategori kurang sehat mulai pada waktu dini hari hingga pukul 11.00 WITA pagi. Setelah jam 12 siang sudah kembali normal hingga sore hari dan malam.
"Tingginya itu kurang sehatnya biasanya terjadi pada dini hari tengah malam hingga pagi hari, tadi ini terpantau sampai jam 11," katanya.
Baca Juga: 19 Kapolda Berganti dalam Mutasi Polri 2 Oktober 2026, Ini Daftar Lengkapnya
Asriani Idrus mengatakan, saat ini memang arah angin dominan angin timuran. Tapi, arah angin AWS untuk wilayah Paotere, ternyata arah angin dari barat daya dan barat laut.
Sehingga, diperkirakan bahwa kualitas udara umumnya dipengaruhi oleh asap kebakaran hutan.
"Di sini bisa dilihat, kan di Kalimantan ini pusantnya, karena umumnya anginnya berasal dari barat, jadi kemungkinan terbawa dari kalimantan menuju ke wilayah Sulawesi Selatan," katanya.
Meski demikian, kondisi tersebut sangat bergantung pada perubahan arah angin. Jika angin kembali bertiup dari arah timur, konsentrasi partikulat di wilayah Sulsel berpotensi menurun.
"Kalau timuran jadi bersih lagi, turun indikatornya, PM2.5. Kalau anginnya berubah lagi haluannya dari arah barat, kemungkinan partikel asapnya masuk ke Sulawesi Selatan," katanya.
Baca Juga: 4 Kapolda di Sulawesi Berganti, Ini Daftar Nama Pejabat Baru Hasil Mutasi Polri 2 Oktober 2026
Asriani mengatakan kondisi kualitas udara tersebut berpotensi kembali terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama pada waktu tertentu.
"Fokusnya jam-jam tingginya dini hari, pagi menjelang siang. Siang ke sore hari mulai menurun," ujarnya.
Asriani juga menyebut sumber asap tidak selalu berasal dari Kalimantan.
Jika angin dominan dari timur, asap karhutla dari wilayah Papua dan Maluku juga berpotensi terbawa menuju Sulawesi.
“Kalau arah timuran bisa saja asap karhutlanya dari Papua-Maluku. Sedangkan kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan dari barat, kemungkinan yang dari Kalimantan masuk, karena lebih dekat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Asriani Idrus mengatakan, cuaca panas yang dirasakan masyarakat Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan masih tergolong normal.
Asriani Idrus, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena Sulawesi Selatan masih berada pada musim kemarau.
“Suhu udara untuk wilayah Sulawesi Selatan berkisar antara 30 hingga 35 derajat Celsius,” kata Asriani Idrus.
Baca Juga: Peminat UMI 16.530 Orang, 5.278 Jadi Mahasiswa Baru, Kampus Pasang Target Maba Sepanjang Setahun
Namun, masyarakat juga perlu memperhatikan indikator suhu udara terasa panas. Indikator ini berbeda dengan suhu udara yang diukur menggunakan termometer.
Suhu udara terasa panas merupakan hasil kombinasi sejumlah parameter cuaca, seperti arah angin, suhu udara, kelembapan, dan radiasi.
Indikator tersebut menggambarkan kondisi tubuh manusia yang dipengaruhi tekanan panas dari lingkungan.
***




