"SIRUI Menre Tessirui No’" adalah sebuah ungkapan yang mendalam dari masyarakat Bugis, yang secara harfiah berarti “saling mengangkat, tidak saling menjatuhkan.”

Di balik kalimat ini, tersembunyi prinsip hidup yang menjadi pedoman bagi banyak orang Bugis dalam menjalani kehidupan, baik di lingkungan keluarga, komunitas, maupun dalam dunia kerja.

Prinsip ini mengajarkan pentingnya kebersamaan, tolong-menolong, dan sikap saling mendukung di antara sesama. Nilai luhur ini telah bertahan di tengah perubahan zaman dan masih sangat relevan di era modern yang semakin individualistis.

Baca Juga: Rapat Panitia Aljunaidiyah Futsal Tournament, Dirangkaikan Yasinan dan Doa Bersama

Di masyarakat Bugis, sirui menre tessirui no’ tidak hanya sekadar semboyan, tetapi benar-benar diterapkan dalam interaksi sehari-hari.

Filosofi ini mengajarkan bahwa hidup bukanlah tentang persaingan yang merugikan orang lain, tetapi tentang kolaborasi yang saling menguntungkan. Dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya Bugis, nilai ini menciptakan hubungan yang kuat di antara anggota komunitas dan mempererat ikatan solidaritas.

Makna Filosofis Sirui Menre Tessirui No’

Masyarakat Bugis meyakini bahwa kebersamaan dan kerja sama adalah kunci untuk mencapai kesejahteraan bersama. Filosofi sirui menre tessirui no’ tidak hanya berfokus pada manfaat individu, tetapi lebih pada keuntungan yang dirasakan oleh seluruh warga komunitas.

Baca Juga: ACE Parepare Berkomitnen Wujudkan Komitmen Peduli Lingkungan Berkelanjutan

Prinsip ini menekankan bahwa kehidupan akan menjadi lebih bermakna jika setiap individu saling mendukung, saling mengangkat satu sama lain. Sirui menre tessirui no’ juga mengandung ajaran bahwa setiap orang memiliki peran untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan dalam masyarakat.

Nilai ini menolak sikap egois atau mementingkan diri sendiri yang hanya ingin mencapai kesuksesan pribadi. Dalam filosofi ini, kesuksesan sejati adalah ketika seluruh komunitas dapat maju bersama.

Ketika seseorang berhasil mencapai kesuksesan, ia diharapkan untuk membantu orang lain agar bisa meraih keberhasilan yang sama, bukan justru merasa lebih tinggi atau bersikap meremehkan.

Baca Juga: Ini Perintah Pimpinan! Irwan Adnan Imbau Lurah dan Camat Tidak Ganti RT RW di Kota Makassar

Begitu pula, ketika ada yang sedang mengalami kesulitan, orang-orang di sekitarnya akan berusaha membantu, memberikan dukungan, dan memastikan bahwa ia tidak merasa sendirian.

Implementasi Sirui Menre Tessirui No’ dalam Kehidupan Sehari-hari

Di Lingkungan keluarga, nilai sirui menre tessirui no’ diterapkan untuk selalu mendukung satu sama lain dan tidak meninggalkan anggota keluarga dalam kesulitan. Misalnya, jika ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan finansial atau sedang mengalami masalah, seluruh keluarga akan berupaya untuk memberikan dukungan.

Keberhasilan seseorang dalam keluarga juga dianggap sebagai kebahagiaan bersama, bukan hanya prestasi pribadi.

Di luar lingkungan keluarga, sirui menre tessirui no’ diterapkan dalam bentuk gotong royong atau kerja bakti. Masyarakat Bugis sangat menghargai sikap gotong royong dalam berbagai aktivitas, seperti membangun rumah, menyelenggarakan perayaan adat, atau membantu saat terjadi bencana.

Baca Juga: Daftar 22 Guru dan Tendik Kota Makassar Juara Jambore GTK Hebat, 9 di Antaranya Melaju ke Nasional

Nilai ini menekankan pentingnya kebersamaan dalam situasi apapun. Dengan saling membantu, beban kerja menjadi lebih ringan, dan hubungan sosial antar anggota masyarakat pun semakin erat.

Dalam dunia pekerjaan, orang Bugis yang memegang teguh prinsip ini akan selalu bersikap jujur dan saling membantu. Mereka tidak hanya fokus pada keuntungan pribadi, tetapi juga berusaha menciptakan manfaat bagi orang lain.

Misalnya, seorang pengusaha yang sukses akan berbagi ilmu atau membantu pengusaha kecil lainnya untuk ikut berkembang. Dengan begitu, kesuksesan yang dicapai bukan hanya dirasakan oleh satu orang, tetapi oleh seluruh komunitas.

Baca Juga: Operasi Pasar Murah Meriahkan HUT Kota Makassar Digelar Serentak pada 5 Kecamatan

Begitupun nilai sirui menre tessirui no’ terlihat dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Ketika ada perayaan keagamaan, masyarakat Bugis cenderung melibatkan seluruh anggota komunitas untuk ikut serta. Mereka saling berbagi rezeki, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, dan mengedepankan sikap gotong royong.

Hal ini menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana nilai sirui menre tessirui no’ mengajarkan pentingnya saling memberi dan menerima dalam kehidupan bermasyarakat.

Relevansi Sirui Menre Tessirui No’ di Era Modern

Pada era modern yang semakin individualistis, nilai sirui menre tessirui no’ menjadi lebih relevan sebagai pengingat bahwa kebersamaan dan solidaritas tetap penting.

Baca Juga: HUT Kota Makassar, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Beri Layanan KB KR

Di tengah persaingan yang ketat, filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak saling menjatuhkan demi mencapai tujuan pribadi, tetapi sebaliknya, membangun kesuksesan bersama.

Filosofi ini juga menjadi landasan moral untuk selalu berbuat baik, tanpa mengharapkan balasan, serta menanamkan kepedulian pada orang-orang di sekitar.

Dalam dunia kerja yang sering kali kompetitif, prinsip ini mengingatkan kita untuk tidak hanya fokus pada pencapaian pribadi, tetapi juga saling mendukung rekan kerja atau berbagi pengetahuan dengan yang lain.

Filosofi ini menunjukkan bahwa ketika kita membantu orang lain, kita sebenarnya sedang membangun fondasi yang kuat untuk kesuksesan bersama. Nilai ini juga mengajarkan bahwa hidup akan lebih bermakna ketika kita berbagi, mendukung, dan ikut merayakan kesuksesan orang lain.


Sirui Menre Tessirui No’ sebagai Pedoman Hidup

Sirui Menre Tessirui No’ adalah warisan budaya Bugis yang penuh makna dan relevan bagi kehidupan modern. Filosofi ini mengajarkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang meraih keberhasilan pribadi, tetapi juga tentang memberi, membantu, dan saling menguatkan satu sama lain.

Baca Juga: Djusman AR Desak Kejati Sulsel Ambil Alih Kasus Pungli Traktor di Bone dan Maros

Di era yang penuh dengan kompetisi dan kadang-kadang individualistis, nilai ini menjadi pengingat bahwa kehidupan akan lebih bermakna jika dijalani bersama-sama, dengan saling mendukung dan membangun kebersamaan.

Dengan merawat dan menerapkan nilai ini, kita tidak hanya menghormati warisan budaya Bugis tetapi juga menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh dengan semangat saling mendukung.
Semoga nilai sirui menre tessirui no’ tetap hidup dalam diri setiap generasi dan menjadi pedoman bagi kita semua untuk menjalani hidup dengan penuh kebersamaan dan solidaritas.

Penulis:
Zaenuddin Endy
Aktivis Penggerak NU Sulsel dan Direktur Pangadereng Institut (PADI)