DI era modern yang penuh dinamika, komunikasi politik menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas dan harmonisasi sosial. Namun, komunikasi politik sering kali diwarnai oleh ketegangan, retorika yang keras, dan adu kepentingan yang tak jarang mengabaikan nilai-nilai keadaban.
Bagi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan (Sulsel), kearifan lokal yang berakar pada budaya luhur dapat menjadi landasan kuat untuk membangun komunikasi politik yang santun dan efektif. Tradisi Bugis yang kaya dengan nilai-nilai etika dan prinsip kejujuran memberikan contoh nyata bagaimana komunikasi dapat dilakukan dengan santun tanpa kehilangan ketegasan.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal Bugis sebagai Landasan Komunikasi Politik
Masyarakat Bugis dikenal dengan berbagai nilai budaya yang dijunjung tinggi, di antaranya adalah siri’ dan pesse. Siri’ adalah konsep harga diri dan kehormatan, sementara pesse mencerminkan solidaritas dan rasa empati kepada sesama.
Baca Juga: Pengamat Sebut Serangan Personal pada Fauzi di Debat Pilkada Lutra Malah Kuatkan Elektabilitas
Keduanya membentuk fondasi etika sosial yang memandu interaksi dan hubungan antarindividu dalam masyarakat. Dalam konteks politik, nilai-nilai ini dapat dijadikan acuan untuk menciptakan komunikasi politik yang mengedepankan kesantunan, penghargaan terhadap lawan bicara, dan komitmen pada kebenaran.
Siri’ dalam Komunikasi Politik: Menjaga Kehormatan dan Etika
Siri’ mengajarkan bahwa kehormatan adalah hal yang paling penting bagi masyarakat Bugis. Kehormatan ini harus dijaga tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam komunikasi politik. Komunikasi politik berbasis siri’ berarti menjaga martabat sendiri dan lawan bicara, menghindari sikap merendahkan, dan tidak menggunakan bahasa yang kasar atau memicu konflik.
Dengan mempraktikkan komunikasi politik yang berlandaskan siri’, politisi dan pemimpin dapat membangun citra diri yang positif dan meningkatkan kepercayaan publik.
Baca Juga: Debat Pilgub Sulsel: Pertanyaan Jembatan Barombong Jadi Bumerang, Ini Penjelasan Danny Pomanto
Dalam debat atau diskusi politik, menghormati lawan bicara dan menggunakan argumen yang konstruktif adalah wujud nyata dari penerapan siri’. Sebuah komunikasi yang menghormati lawan bicara akan menghindari fitnah, caci maki, atau serangan pribadi, karena hal itu dianggap merendahkan martabat.
Sebaliknya, siri’ mendorong pelaku politik untuk berargumentasi dengan data yang valid dan pandangan yang rasional.
Pesse: Solidaritas dan Empati dalam Komunikasi Politik
Jika siri’ berbicara tentang menjaga kehormatan, maka pesse mengajarkan tentang pentingnya solidaritas dan empati. Dalam komunikasi politik, pesse berarti memahami dan merasakan perasaan dan kebutuhan orang lain.
Ini adalah bentuk komunikasi politik yang inklusif, di mana politisi tidak hanya berbicara tentang kebijakan, tetapi juga berusaha mendekati masyarakat dengan hati dan mendengarkan keluhan mereka.
Komunikasi politik yang dilandasi pesse memungkinkan terjalinnya hubungan yang lebih hangat antara pemimpin dan masyarakat. Politisi yang menerapkan pesse akan lebih peka terhadap isu-isu yang dihadapi masyarakat dan berusaha merespons dengan kebijakan yang berpihak pada kepentingan umum.
Baca Juga: Hadir di Kota Makassar, Gerakan #DiIndonesiaAja LPS Travel Fair 2024 Target Transaksi Rp5 Miliar
Hal ini tidak hanya meningkatkan efektivitas komunikasi, tetapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin atau partai politik.
Strategi Membangun Komunikasi Politik Santun Berbasis Kearifan Lokal Bugis
Mengadopsi nilai-nilai siri’ dan pesse dalam komunikasi politik tidak hanya meningkatkan kualitas interaksi, tetapi juga mengembalikan nilai-nilai keadaban dalam ruang publik.
Beberapa strategi yang dapat diimplementasikan:
1. Mengutamakan Dialog daripada Konfrontasi: Komunikasi politik yang berbasis kearifan lokal Bugis mengutamakan dialog yang terbuka dan menghormati semua pihak. Alih-alih menggunakan pendekatan konfrontatif, para politisi bisa mengadopsi pendekatan yang lebih dialogis dan kooperatif, di mana semua pihak diberi ruang untuk menyampaikan pandangannya.
2. Menghindari Ujaran Kebencian dan Fitnah: Sebuah komunikasi politik yang baik tidak menggunakan ujaran kebencian atau fitnah. Dengan mengedepankan siri’, politisi akan menjaga etika komunikasi dan hanya menggunakan argumen yang kuat dan berlandaskan data. Hal ini membantu membangun diskusi yang sehat dan mengurangi polarisasi di masyarakat.
Baca Juga: Rangkaian HUT Kota Makassar, Andi Arwin Azis Serahkan Paket Penghargaan
3. Menunjukkan Empati dalam Komunikasi: Pesse mengajarkan bahwa komunikasi politik harus dilakukan dengan empati. Ini berarti politisi perlu lebih banyak mendengarkan aspirasi masyarakat, merespons dengan penuh perhatian, dan menunjukkan bahwa mereka memahami dan peduli terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.
4. Membangun Citra Positif melalui Tindakan Nyata: Komunikasi politik tidak hanya soal kata-kata, tetapi juga tindakan. Menerapkan nilai siri’ berarti membuktikan komitmen melalui aksi nyata yang menunjukkan integritas dan kesungguhan. Hal ini akan memperkuat kepercayaan masyarakat dan menciptakan komunikasi dua arah yang lebih efektif.
5. Menggunakan Bahasa yang Sopan dan Santun: Dalam tradisi Bugis, bahasa yang digunakan dalam percakapan haruslah sopan dan penuh penghormatan. Politisi yang ingin membangun komunikasi yang santun harus menghindari penggunaan bahasa yang kasar atau provokatif, dan sebaliknya memilih kata-kata yang membangun dan menginspirasi.
Tantangan dan Peluang Penerapan Kearifan Lokal dalam Komunikasi Politik
Tentu saja, penerapan nilai-nilai siri’ dan pesse dalam komunikasi politik bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai tradisional ini ke dalam praktik politik modern yang sering kali didominasi oleh persaingan ketat dan retorika yang keras.
Di era media sosial, komunikasi politik cenderung dipenuhi oleh konten yang viral dan provokatif, yang kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip siri’ dan pesse.
Namun, di sinilah peluang besar itu muncul. Masyarakat Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan, mulai merindukan model komunikasi politik yang lebih santun dan beradab.
Politisi yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam komunikasi politik mereka berpotensi mendapatkan dukungan yang lebih luas, karena masyarakat melihat adanya kejujuran, empati, dan komitmen pada nilai-nilai luhur.
Baca Juga: Pjs Wali Kota Makassar Andi Arwin Azis Kukuhkan Pengurus Masjid Al Abrar
Menggunakan pendekatan berbasis kearifan lokal juga dapat menjadi ciri khas dan keunikan politik di Sulawesi Selatan. Ini menunjukkan bahwa politik tidak harus selalu keras dan penuh konflik, tetapi dapat dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi dan membangun.
Kearifan Lokal sebagai Modal Politik Berharga
Kearifan lokal Bugis yang berakar pada nilai-nilai siri’ dan pesse memberikan fondasi yang kuat untuk membangun komunikasi politik yang santun dan efektif. Nilai-nilai ini mengajarkan bahwa komunikasi politik bukan hanya soal menyampaikan pendapat, tetapi juga tentang menjaga kehormatan diri dan lawan bicara, serta menunjukkan empati terhadap kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Tokoh Soppeng, Andi Jaya Sose dan Djusman AR Bersatu Menangkan DIA di Pilgub Sulsel
Dengan mengedepankan komunikasi politik yang berbasis kearifan lokal, politisi tidak hanya membangun citra yang positif, tetapi juga mengukuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap dunia politik.
Mengadopsi komunikasi politik yang santun bukanlah sekadar pilihan, tetapi kebutuhan di tengah iklim politik yang sering kali penuh ketegangan. Dengan mengambil inspirasi dari kearifan lokal Bugis, komunikasi politik di Sulawesi Selatan dan Indonesia secara umum dapat menjadi lebih inklusif, beradab, dan mencerminkan wajah politik yang lebih bermartabat.
Penulis:
Zaenuddin Endy
(Aktivis Penggerak NU Sulsel)
