POJOKSULSEL, MAKASSAR - Debat pertama Pilgub Sulsel 2024 sudah berlangsung. Debat yang dilaksanakan di Hotel Four Points By Sheraton, Jalan Andi Djemma, Kota Makassar, Senin (28/10/2024), seolah menjadi ajang "saling serang" pasangan yang bertarung di Pilgub Sulsel.

Adalah pasangan nomor urut 1, Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Danny Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) versus pasangan nomor urut 2, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (Andalan Hati), saling jual beli bertanyaan pada sesi ketiga debat.

Termasuk saat giliran pasangan Andalan Hati bertanya Danny Pomanto-Azhar Arsyad. Andi Sudirman bertanya mengenai banyak yang harus dibangun secara mendesak di Kota Makassar, termasuk mengatasi masalah kemacetan.

Baca Juga: OTT Hakim, Mahkamah Agung Harus Lakukan Pembenahan dan Pengawasan Berjenjang

"Pertanyaan saya sebenarnya simpel saja. Ada Barombong (jembatan) nih. Dalam aturan, kalau jalannya provinsi, maka jembatannya adalah provinsi. kebetulan dia jalan kota, maka jembatannya menjadi kota. Pertanyaan saya, apa yang menjadi kendala sehingga itu tidak diselesaikan. Terima kasih," kata Andi Sudirman Sulaiman.

Diketahui, periode sebelumnya, Andi Sudirman Sulaiman menjabat wakil gubernur mendampingi Prof Dr Nurdin Abdullah. Tapi karena Nurdin Abdullah terjerat kasus korupsi, Andi Sudirman selanjutnya ditetapkan sebagai gubernur Sulsel.

Kemacetan di jalan dan Jembatan Barombong sudah menjadi pemandangan setiap hari. Kemacetan selalu terjadi tiap jam jam sibuk, seperti pagi dan sore hari.

Baca Juga: 86 Pengusaha Ramaikan Bazar UMKM BerKRIYAsi di Trans Studio Makassar Selama 4 Hari

Pertanyaan mengenai kemacetan di Jembatan Barombong tentunya menjadi strategi pasangan Andalan Hati untuk memenangkan debat terbuka itu. Apalagi ini merupakan pertanyaan langsung dari kandidat, bukan dari panelis.

Pertanyaan itu menjadi "serangan" ke Danny Pomanto sebagai walikota Makassar. Danny Pomanto pun langsung menjawab.

"Pak Andi sudirman yang saya muliakan. Jembatan itu (Barombong) betul jalan kota, tapi bentang jembatan yang lebih 400 meter itu menjadi kewajiban pusat, tapi diusulkan lewat provinsi. Provinsi tidak pernah masukkan usulan itu. Itu masalahnya," jelas Danny Pomanto.

Artinya, ada aturan teknis mengenai pengerjaan jembatan dengan kualifikasi panjang jembatan yang mencapai 400 meter yang tidak dipahami.

Baca Juga: HMJ BPI UIN Alauddin Sukses Gelar Bazar Cafe, Tiket dan Merchandise Counfest 2024 Diborong Peserta

Danny Pomanto mengatakan, jika seandainya pembangunan Jembatan Barombong tidak diusulan oleh Pemprov Sulsel, maka Pemkot Makassar akan melakukan pembangunan.

"Pemerintah kota bisa bikin sendiri. Pemerintah kota ini banyak uangnya," kata Danny Pomanto.

"Kita bisa biayai itu, tapi kita tidak mau, kita menghargai bahwa provinsi itu adalah bagian koordinasi kita. Kita sudah koordinasi dengan pemerintah pusat, tapi disampaikan tidak masuk dalam list oleh pemerintah provinsi. seandainya dikasi surat ke Kota Makassar, insya Allah, Kota Makassar akan selesaikan," kata Danny Pomanto.

Tidak sampai disitu, pertanyaan soal Jembatan Barombong pun seolah menjadi "bumerang" ke Andi Sudirman Sulaiman terkait aturan teknis mengenai bentangan jembatan yang mencapai 400 meter yang menjadi tanggungan pemerintah pusat yang diusulkan oleh Pemprov Sulsel.

Baca Juga: Wardah Lip Fest 2024 Sukses Besar! 30 Peserta Beruntung Belajar dari Giyar Previa

"Banyak uang kok. Kita banyak uang. Kita tidak ada utang. Kita tidak ada utang, kita banyak uang. alhamdulillah, terima kasih," kata Danny Pomanto yang menyentik soal utang.

Diketahui, isu mengenai utang Pemprov Sulsel yang ditinggalkan pemerintahan Andi Sudirman Sulaiman menjadi perbincangan hangat. Diawali dari Pj Bahtiar yang mengatakan bahwa Pemprov Sulsel devisit, termasuk adanya utang yang ditinggalkan pemerintahan Andi Sudirman yang nilainya tiliunan rupiah.

Pertanyaan yang diperuntukkan sebagai senjata, justeru berbalik menjadi bumerang. Usai jawaban Danny Pomanto, Andi Sudirman diberikan kesempatan untuk menjawab.

"Jadi begini, semua daerah strategis yang akan diusulkan ke pusat pasti sudah dicatat dalam PUPR. Secara teknis bisa ditanya ke kadisnya. Tetapi persoalannya sekarang, ketika itu menjadi kewenangan kita," kata Andi Sudirman Sulaiman.

Baca Juga: Inilah Prosesor Ryzen AI 300 Series, Generasi Terbaru AMD dengan Dukungan Fitur AI

Andi Sudirman kemudian menyampaikan perbandingan terkait anggaran Pemprov Sulsel yang hanya di angka Rp10-Rp11 triliun, dan Kota Makassar Rp4 triliun.

"Kalau tidak salah. 4 triliun hanya menangani 1 kota, kami menangani 24 kabupaten/kota yang harus kami bangun," kata Andi Sudirman Sulaiman.

Pernyataan Andi Sudirman langsung ditimpali Danny Pomanto dengan menyebut angka Rp5,6 triliun. "Apalagi kalau 5,6 tiliun," timpal Andi Sudirman Sulaiman.

"Artinya apa, ini perkiraan anggaran 100-120 miliar, dibanding kita bermacet-macet ria untuk bertahun tahun. Perlu menjadi perhatian. Kami lakukan kenapa? kami dengan anggaran sedikit pun kami membangun Jembatan Pacongkang. Kami katakan ini karena kami sudah mengerjakan. dengan bertahap. tahun ini, tahun depan. 3 tahun. kami harus sabar dengan komitmen untuk masyarakat," papar Andi Sudirman Sulaiman.

Baca Juga: TAPD Takalar Dinilai Tak Mampu Kelola Keuangan Daerah, PEN jadi Kambing Hitam

Debat semakin memanas saat kembali Danny Pomanto diberikan kesempatan untuk menjawab. Danny Pomanto mengatakan, jika Pemkot Makassar tau itu tidak diusulkan maka Pemkot Makassar bisa membangun sendiri.

"Buktinya kemarin waktu Pj Pak Bahtiar pada saat mau bangun stadion, tidak ada uangnya bangun jalanan, kita bikin 200 miliar. Kami ndak soal pak. Tapi kami tidak tau kalau kebijakan seperti ini," kata Danny Pomanto.

Suasana di lokasi debat Pilgub Sulsel, tidak hanya di atas panggung yang memanas, di luar lokasi debat pun kondisi tegang. Kedatangan massa pendukung di lokasi debat membuat suasana di pintu masuk hotel sempat bersitegang. Beruntung polisi dan petugas kemanan lainnya bisa mengatasi situasi.(***)