SUATU kesempatan di primo Juni 2025 saya berjumpa Muhammad Danial, dosen Unsulbar, teman yang sedang riset disertasi tentang penggunaan AI di perguruan tinggi.
Saya terlibat diskusi membincang kecerdasan buatan yang dalam benak saya menggelayut pertanyaan apakah AI benar mencerdaskan kita atau justru membodohkan? Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) selama beberapa dekade terakhir telah menjelma menjadi simbol kemajuan teknologi dan peradaban manusia.
Dari mesin pencari, asisten virtual, algoritma media sosial, hingga mobil tanpa pengemudi, AI hadir untuk memudahkan kehidupan manusia.
Namun, di balik segala kemudahannya, muncul satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: apakah AI sedang mencerdaskan kita, atau justru membodohkan kita secara perlahan?.
Baca Juga: WASpada! Sapi Hilang di Pagi Hari, Warga Desa Sumberjo Temukan Tali Terpotong di Kandang
Dalam keseharian, kita menyaksikan bagaimana orang-orang semakin bergantung pada AI dan teknologi pintar untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana.
Mulai dari menjawab pertanyaan matematika dasar, menulis esai, membuat desain, hingga mengambil keputusan pribadi. Ketika manusia terus-menerus menyerahkan proses berpikir pada mesin, tanpa disadari otak kita menjadi malas bekerja.
Kreativitas, logika, dan intuisi yang selama ini menjadi ciri khas manusia, perlahan tergantikan oleh kecanggihan algoritma.
Fenomena ini tak jauh beda dengan otot yang tidak dilatih: lama-lama melemah dan menyusut. Begitu pula dengan kecerdasan manusia jika tak diasah karena terlalu mengandalkan AI, ia akan mengalami kemunduran.
Baca Juga: 30 Jemaah Haji Embarkasi Makassar Wafat Hingga 19 Juni, Sulsel Paling Banyak
Bahkan, ketergantungan dengan AI dapat melemahkan daya pikir.
Ilusi Pengetahuan Instan
AI memberi kita akses cepat ke informasi, namun sering kali tanpa proses pemahaman yang mendalam.
Generasi muda kini bisa mengerjakan tugas sekolah dalam hitungan detik berkat chatbot cerdas atau mesin pencari. Tapi apakah mereka benar-benar memahami apa yang mereka tulis? Ataukah mereka sekadar menyalin jawaban tanpa berpikir? Ini menciptakan ilusi bahwa kita pintar karena tahu banyak hal-padahal sesungguhnya, kita hanya tahu sedikit tentang banyak hal, tanpa benar-benar menguasai apa pun secara mendalam. AI memberi jawaban, tapi tidak mengajarkan cara berpikir.
Dalam dunia yang dipenuhi konten otomatis, deepfake, dan manipulasi algoritma, manusia juga menghadapi krisis etika baru. AI bisa digunakan untuk menyebar hoaks, memanipulasi opini publik, bahkan menciptakan realitas palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan.
Jika tidak dibarengi dengan pendidikan moral dan literasi digital, AI dapat mempercepat pembodohan massal-bukan karena kekurangan informasi, tapi karena kelebihan informasi yang salah arah.
Tak hanya itu, penggunaan AI dalam komunikasi seperti chatbot dan avatar digital juga mulai mengurangi interaksi manusia secara langsung. Kemampuan kita untuk berempati, mendengar, dan berinteraksi secara emosional kian tumpul, tergantikan oleh interaksi dingin dengan mesin.
Realitas ini dapat mengerosi etika dan kemampuan sosial kita.Lalu, apa yang harus kita lakukan?.
Masalahnya bukan pada AI itu sendiri. Seperti pisau, AI adalah alat. Ia bisa menjadi alat pendidikan, atau alat pembodohan massal-tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa.
Maka, tanggung jawab ada pada manusia: bagaimana kita menggunakan AI secara bijak, bukan sebagai pengganti otak, tapi sebagai pendamping belajar.
Pendidikan harus mengajarkan cara berpikir kritis, bukan hanya mencari jawaban cepat.
Sekolah dan perguruan tinggi harus mengarahkan penggunaan AI untuk eksplorasi, bukan jalan pintas. Dan yang terpenting, masyarakat harus tetap memanusiakan manusia, di tengah kecanggihan mesin. Intinya, kita yang harus tetap mengendalikan.
Baca Juga: Lolos Nasional, Syafri Siap Tunjukkan Kekuatan Dakwah Humanis ala Kedai Penyuluh di PAI Award 2025
Jadi, apakah AI tidak membodohkan?
Bila dikatakan AI yang membodohkan sebetulnya adalah cermin untuk kita semua. AI tidak memiliki niat atau moral. Dia adalah kecerdasan buatan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Manusialah yang memilih untuk berpikir atau tidak berpikir, berusaha atau sekadar menyalin, belajar atau sekadar menekan tombol. Kitalah yang membiarkan diri dibodohi.
Maka, jangan jadikan AI sebagai alasan kemunduran intelektual. Jadikan ia sebagai mitra untuk melompat lebih tinggi, bukan sebagai tongkat yang membuat kita lupa cara berjalan.
Tak ada jalan untuk menjauh apatah lagi membuta dengan kehadiran AI. Jurus yang paling ampuh ‘berdamai’, pungkas Danial mengakhiri diskusi.
Penulis: Husain Alfulmasi (Dosen STAIN Majene dan Universitas DDI Polman)
Tulisan Husain Alfulmasi menyoroti paradoks penggunaan kecerdasan buatan AI yang makin meluas di kehidupan sehari-hari

