POJOKSULSEL, MAMUJU - Syafri masuk dalam daftar peserta yang lolos seleksi administrasi Penyuluh Agama Islam Award tingkat nasional tahun 2025. Dirinya mewakili Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) di PAI Award 2025.

Syafri membawa gagasan besar bertajuk Kedai Penyuluh - akronim dari Konten Dakwah Islam Penyuluh di PAI Award 2025. Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bala-balakang, itu masuk dalam kategori Metode Penyuluhan Baru.

Syafri bersama 23 Penyuluh Agama Islam lainnya dari seluruh Indonesia akan mempresentasikan Metode Penyuluhan Baru, yang mereka gagas di ajang PAI Award 2025.

Baca Juga: Innalillahi, Jemaah Haji Asal Polewali Mandar Wafat di Pesawat Jelang Tiba di Makassar

Gagasan Kedai Penyuluh yang dipelopori oleh Syafri terinspirasi dari terbitnya Permenpan-RB No. 9 Tahun 2021 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Agama.

Dalam regulasi tersebut, penyuluhan tidak lagi dibatasi pada metode konvensional, namun juga meliputi penyebaran konten dakwah melalui media sosial dan platform digital.

Lahir di Balabonda—kini dikenal sebagai Sarjo, Kabupaten Pasangkayu— pada 27 September 1997, Syafri membawa semangat dakwah yang tak hanya menyentuh podium, tapi juga menyentuh hati umat.

Baca Juga: Pemkot dan Pengadilan Negeri Parepare Teken MoU Demi Pelayanan Hukum Berkeadilan

Bertugas di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) tidak membuatnya patah arang. Justru dari keterbatasan itulah lahir inovasi: KEDAI Penyuluh—akronim dari Konten Dakwah Islam Penyuluh. Sebuah kanal dakwah digital berbasis Google Sites, media sosial, dan video pendek edukatif.

Melalui platform ini, Syafri menyampaikan konten keislaman yang sejuk, moderat, dan membumi. Mulai dari bimbingan ibadah, edukasi keluarga, hingga isu-isu sosial keagamaan, semuanya dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami dan sesuai dengan konteks masyarakat kepulauan.

“Teknologi itu alat, bukan tujuan. Tapi kalau digunakan dengan bijak, ia bisa jadi jembatan dakwah yang luar biasa,” ujar alumnus UIN Dato Karama Palu itu.

Baca Juga: Penyebab WNA Asal Malaysia Dideportasi dari Sulsel Hingga Masuk Daftar Penangkalan

Syafri tak hanya berceramah. Ia hadir di tengah masyarakat sebagai pendamping, penggerak, sekaligus sahabat umat.

Ia aktif dalam pembinaan keluarga, penyuluhan sosial-keagamaan, kampanye anti pernikahan dini, hingga edukasi moderasi beragama.

Ia juga mengangkat isu-isu nasional seperti pencegahan stunting dan penguatan literasi digital untuk remaja.

Dalam setiap interaksi, pendekatan yang ia kedepankan adalah humanis dan kontekstual. “Dakwah bukan untuk menghakimi, tapi untuk menuntun dan memanusiakan,” tuturnya.

Sebagai penyuluh yang mengusung prinsip dakwah solutif, Syafri menjalin kemitraan lintas sektor: mulai dari KUA, tokoh masyarakat, aparat desa, hingga pemuda. Ia turut memfasilitasi kegiatan keagamaan, gotong royong sosial, dan edukasi keumatan berbasis komunitas.

Baca Juga: Innalillahi... Gurutta KH Abdul Salam Latarebbi Wafat, Kemenag Pinrang Sampaikan Duka Mendalam

“Agama harus hadir bukan cuma di mimbar, tapi juga di dapur, di halaman rumah, dan di sekolah. Di mana pun umat membutuhkan cahaya,” ucapnya.

Meski berasal dari wilayah yang jauh dari sorotan, Syafri membuktikan bahwa dari pulau terpencil pun, kontribusi besar untuk bangsa bisa dimulai.

Kini, namanya tercatat sebagai peserta Penyuluh Agama Islam Award 2025 tingkat nasional.

Bagi Syafri, ajang itu bukan sekadar lomba, tapi bagian dari gerakan penyuluhan yang menginspirasi.

Baca Juga: Polina Ribka Catat IPK Sempurna, Ini Nama-Nama Wisudawan Terbaik Unsulbar

“Semoga ini jadi pemantik semangat bagi penyuluh lain, bahwa dari tempat sunyi pun, kita bisa jadi cahaya bagi sesama,” pungkasnya.

Dari Bala-balakang, Syafri mengirim pesan sederhana: Islam itu rahmat bagi semua, bahkan dari pulau-pulau yang jarang dijangkau, dakwah tetap harus menyala.

Dari Bala-balakang, cahaya dakwah digital kini bersinar ke seluruh penjuru.

***