KIRA-kira pertengahan tahun 2000-an, saya sedang cuti dan menyempatkan diri singgah ke kampus setelah sekian tahun tidak pernah bertandang. Tak dinyana, seorang kawan lama juga datang setelah beberapa saat berada di sana.
Sebaiknya saya tidak usah menyebut namanya karena belum meminta izin menuliskan kisahnya ini. Yang pasti, dia seorang pemanjat tebing di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang sangat aktif sampai saat itu. Meski dia dari kelompok lain tapi hubungan kami cukup akrab.
Setelah sedikit bereuni, dia sampaikan maksud kedatangannya. Dikeluarkannya sebuah hanger karatan dari tasnya. Ternyata dia baru pulang dari memanjat jalur MIA di tebing di belakang Depsos, Bantimurung.
Dia meminta maaf karena Hanger tua dekat top itu terpaksa dicabutnya dan diganti dengan yang baru karena pertimbangan keamanan. Dia tahu bahwa jalur itu dulu dibuat oleh senior kami, makanya barang tersebut dikembalikannya kepada kelompok kami.
Baca Juga: Momen Zudan Arif Fakrulloh Pamit di Pembukaan MTQ Sulbar: Ini Berkah Bagi Saya
Ketika itu saya lagi-lagi terhenyak. Saya memang kenal dia dengan beberapa pemanjatannya. Tapi saya tahu, dia sebenarnya berada di zona “asing” ketika memutuskan untuk mengembalikan hanger keropos itu.
Para pembuat jalur MIA adalah generasi pendahulu yang sudah tidak aktif lagi. Dan yang masih aktif adalah generasi yang jauh di bawahnya. Setidaknya, dia mungkin butuh waktu lama untuk perkenalan, jika saya tidak ada.
Tapi dengan kenyataan seperti itu dia masih bersusah payah datang. Padahal kalau mau, dia bisa saja mencabutnya, menggantinya dengan yang baru lalu pulang beristirahat di rumah. Apa yang membuat kawan itu melakukan penghormatan yang begitu “humble”?
Baca Juga: Pj Gubernur Sulbar Terpukau, Muhammad Miftah Farid Dapat Beasiswa Hingga Lulus
Pertengahan 1992, saya sedang berada di jajaran pegunungan Lompobattang, di sebuah titik yang oleh penduduk di kaki gunung disebut dengan “Makkayya”. Kami sedang melakukan survei jalur yang akan digunakan untuk kegiatan TWKM MPA se-Indonesia beberapa bulan ke depan.
Survei kala itu dipimpin oleh Nevy Tonggiroh dengan navigator Welly Turupadang. Anggota tim lainnya adalah Guntur Indonesia, Herman Halilintar, M. Ilham, Arahab Mansyur, Besse Linda dan Nur Taufik.
Kami akan menelusuri jalur ke kawasan Lemballowe yang sebelumnya sudah dirintis oleh tim yang dipimpin Agus Yani Samboja pada dekade 80-an dan akan menyambungnya menjadi satu dengan jalur yang dirintis oleh tim Bawakaraeng pada kegiatan Orienteering tahun 1991.Baca Juga: Hasil Survei, Literasi Alquran di Sulbar Rendah, Plt Kakanwil Kemenag Titip Harapan Pada Pembukaan MTQ Sulbar
Agus Yani Samboja, Efendi Djokdja, Yusran, Jeffry Tajuddin, Ismail (simpatisan), Nurdin (simpatisan), Dg. Gappa (warga Raulo) dan seorang simpatian lain naik ke tempat ini via Raulo - Bangkeng Kajang - Loko Lapang - Bungung Tujua - B. Baria.
Mereka kenudian merintis jalur baru ke celah kecil di timur laut Makkayya dekat sebuah puncak tak bernama yang terletak di barat daya pos 13 Bawakaraeng lalu ke kawasan Lemballowe dan kemudian merampungkannya dengan exit point di pos 7 Bawakaraeng. Ini tercatat sebagai rute pertama ke kawasan Lemballowe dari pegunungan Lompobattang.
Sementara tim Bawakaraeng pada kegiatan Orienteering 1991 merintis jalur baru ke kawasan Lemballowe via Lembanna - pos 3-4 Bawakaraeng - kawasan Ramma - pertemuan S. Je’neberang dan S. Tanralili - kawasan Lemballowe. Tim itu dipimpin oleh Bastian Paruki dengan anggota Sulaiman Dako, M. Ilham, Arahab Mansyur, Fauziah Djafar, Arifin Rauf, saya, Imriani Muhtar dan Nurdin (simpatisan).
Ini juga adalah rute pertama ke kawasan Lemballowe via Lembanna. Waktu itu memang belum ada rute sama sekali yang menghubungkan Lembanna, Ramma dan Lemballowe.
Sebenarnya ada dua tim lagi yang pernah membuat jalur baru ke kawasan Lemballowe via Lompobattang. Bersamaan dengan tim Bawakaraeng pada kegiatan Orienteering 1991, satu tim juga merintis jalur baru ke kawasan ini.
Baca Juga: Sosok Muhammad Miftah Farid, Pembaca Alquran pada Pembukaan MTQ Sulbar 2024 di Pasangkayu
Adi Tonggiroh, Guntur Indonesia, Ferry Gani, Hilda Putong, Rahmawati, Andi Takdir dan Iqbal Ghani naik dari Lembangbu’ne dan setelah Puncak Lompobattang menelusuri lereng Timur Laut gunung itu ke arah puncak tak bernama lalu turun ke celah kecil di Timur Laut Makkayya.
Kemudian di awal 1992, Guntur Indonesia, Nur Faida, Sulaiman Dako, Roby Karel dan Agustam, mencoba membuka jalur baru ke kawasan Lemballowe via Puncak Lompobattang - Ko’bang - celah kecil di timur laut Makkayya. Mereka juga naik dari Lembangbu’ne. Rute dari Ko’bang ini sangat terjal seingga mereka harus rappeling ketika melewatinya.
Karena alasan teknis, kedua jalur terakhir disebutkan ini tidak menjadi opsi tim survei TWKM 92. Meski demikian, ternyata bukan hal mudah bagi kami untuk menemukan kembali jalur ke celah kecil dari Makkayya.
Baca Juga: Multi Fungsi Tas Paspor Jemaah Calon Haji 2024 yang Didesain Lebih Besar
Tak seorang pun dari kami yang pernah melewatinya dan juga medannya dipenuhi oleh batuan yang mudah lepas. Herman bahkan sempat terpeleset dan hampir meluncur bebas ke kawasan Lemballowe, 600 meter di bawah, jika saja frame luar ranselnya tidak tersangkut di patahan pohon.
Kami memang akhirnya berhasil merangkai “puzzle” perintisan jalur baru sebelumnya menjadi jalur Lembangbu’ne - Puncak Lompobattang - Ko’bang – Makkayya - celah kecil - kawasan Lemballowe -. pertemuan S. Je’neberang dan S. Tanralili - kawasan Ramma - pos 2-3 Bawakaraeng - Lembanna.
Minggu berikutnya Welly Turupadang kembali ke jalur itu via Lembanna. Ditemani Jusman Iring, exit point ke Lembanna yang awalnya di pos 2-3 Bawakaraeng diubah ke pos 1-2 Bawakaraeng.
Data inilah yang kami gunakan untuk menetapkannya menjadi jalur fix ketika pemasangan rambu pada survey terakhir.
Baca Juga: 4 Nama Hasil Penjaringan Bakal Calon Kepala Daerah NasDem Polman, Ada Ketua Parpol hingga Birokrat
Saat itu saya ditemani oleh Iqbal Ghani, Syarif Hamdi, Nur Taufik, Christian Paembonan, Muin Mursidi dan Hermawan. Jalur itu pun resmi menjadi salah satu ajang Kenal Medan pada TWKM 92.
Exit point jalur TWKM 92 itu beberapa tahun kemudian ternyata menjadi entry point bagi orang-orang yang hendak berkunjung ke kawasan Ramma. Awalnya saya senang karena semakin banyak anak muda menggeluti kegiatan yang banyak manfaat ini.
Namun lama kelamaan, saya menjadi kuatir juga setelah mendengar info kalau kawasan Ramma sudah menjadi tempat “hura-hura” terutama di akhir minggu. Begitu juga kawasan Lemballowe. Sayangnya, tidak ada regulasi yang diberlakukan di sana oleh pihak terkait.
WDG, Watampone saat hujan, 9 April 2024
(bersambung).(***)
Penulis:
M Taqwim
(Anggota Aktif Korpala Unhas - K.193)
