KAROMAH Anregurutta KH Djunaid Sulaiman tidak terbantahkan. KH Djunaid Sulaiman bahkan diyakini memiliki kemuliaan setara waliyullah.
Dalam bahasa Indonesia, karomah biasa ditulis sebagai karamah atau keramat yang berarti kemuliaan, kehormatan. Adalah hal atau kejadian yang luar biasa di luar akal dan kemampuan manusia biasa yang terjadi pada diri seseorang yang berpangkat wali.
Rancangan tulisan dalam buku autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, dikisahkan karomah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman yang disampaikan oleh orang orang yang pernah bersamanya.
Sekadar diketahui, rancangan buku autoboigrafi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ditulis oleh Prof Dr Alimin, M.Ag, Dr Muh Subair, M.Pi, Dr Muslihin Sultan, M.Pd, Dr Fahmi Gunawan, M.Hum. Naskah buku ini selanjutnya dalam proses akhir penyelesaian untuk masuk proses cetak.
Tulisan sebelumnya mengisahkan, karomah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ketika datang seseorang bernama Salman, mantan bupati Luwu, meminta tolong didoakan agar anaknya kembali. Sudah 3 hari anaknya hilang di Mekah.
Setelah membaca Alfatiha dan berdoa, anak dari mantan bupati Luwu itu datang ke hotel tempat Anregurutta KH Djunaid Sulaiman menginap. Seolah ada yang menuntun untuk tiba di tempat itu.
Baca Juga: Prof Firdaus Muhammad Terima KMA Guru Besar, Tulis Scopus Komunikasi Politik Syekh Yusuf
Selanjutnya dikisahkan ketika di Raudah. Tiba tiba rombongan Anregurutta KH Sulaiman sudah berada di depan makam Rasulullah, meski rombongan sekalipun tidak pernah melangkahkan kaki.
Edisi kali ini, akan ditulisakan karomah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman yang masih bagian dalam perjalanan di Mekah. Saat KH Djunaid Sulaiman berangkat menunaikan ibadah haji.
Diceritakan Prof Dr Andi Salman Maggalatung, dirinya bertugas mendampingi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman di Mekah. Kondisi kesehatan KH Djunaid Sulaiman ketika berangkat ke Mekah tahun 1989 memang kurang baik.
Baca Juga: Akbar Ali Silaturahmi dengan Mitra Kerja Dinas Sosial Kota Parepare
Kala itu, Andi Salman Maggalatung, yang saat ini merupakan salah satu guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengusulkan ke KH Djunaid Sulaiman untuk datang ke Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah.
Diketahui, saat usia remaja, KH Djunaid Sulaiman pernah menjadi santri di Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah bersama kakaknya Rafi Sulaiman. KH Djunaid Sulaiman pernah tinggah di Mekah selama belasan tahun. Bersekolah dan menjadi pengajar di Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah.
"Tapi mabela belatu (agak jauh). Ayo, jokka jokka ni (kita jalan jalan kaki saja)," kata KH Djunaid Sulaiman mengiyakan ajakan Andi Salman Maggalatung.
Selain Andi Salman Maggalatung, yang mendampingi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ke Pesantren Al-Shaulatiyah, juga ada Tahir (tenaga medis) dan seorang pengusaha kain di Bone bernama Yusuf.
Andi Salman Maggalatung dan Tahir berada di dua sisi KH Djunaid Sulaiman yang bertugas memapahnya. Tangan Anregurutta dia kepit dan pegang sambil menuntun berjalan.
Baca Juga: Pemkot Parepare Gelar Silaturahmi bersama Pimpinan Perbankan, Ini Tujuannya
Tidak berapa lama berjalan, mereka sudah berada tidak jauh dari gerbang Pesantren Al-Shaulatiyah. "Ditironi ukina pesantrengge (sudah diliat tulisan pesantren) di gerbangnya. Kita mendekat, sekitar 10 meter dari gerbang. Tiba-tiba pegangan Anregurutta terlepas," kata Andi Salman Maggalatung.
Andi Salman Maggalatung dan Tahir yang memegang KH Djunaid Sulaiman kaget. Tiba tiba KH Djunaid Sulaiman yang sedari tadi mereka pegang di dua sisi, tiba tiba lepas dan hilang dari pegangan.
"Tegai (dimana) Anregurutta," keduanya kaget. Lebih kaget lagi mereka bertiga ketika tepat di gerbang Pesantren Al-Shaulatiyah mereka melihat KH Djunaid Sulaiman yang sudah berpelukan dengan Syekh Suud Salim Rahmatullah.
Baca Juga: Selamat! Ketua NU Sulsel Jadi Profesor Akidah dan Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar
Syekh Suud Salim Rahmatullah merupakan pimpinan Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah saat itu.
Andi Salman Maggalatung, Tahir, dan Yusuf kaget bukan kepalang. Bagaimana caranya tiba tiba Anregurutta KH Djunaid Sulaiman sudah ada di gerbang dan langsung berpelukan dengan Syekh Suud Salim Rahmatullah.
Padahal, untuk berjalan saja Anregurutta harus dituntun atau dipapah. Lebih mengherankan lagi, kenapa tiba tiba Syekh Suud Salim Rahmatullah juga ada di situ seolah menyambut Anregurutta.
Baca Juga: Sosok Prof Firdaus Muhammad, Akademisi yang Fokus Rawat Jejak Rekam Ulama Kini Jadi Guru Besar
"Dewissenggi. Luttuiga atau mallajanggi ga Anregurutta (saya tidak tau. Anregurutta terbang atau menghilang)," kata Andi Salman Maggalatung.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman dan Syekh Suud Salim Rahmatullah seolah sudah punya hubungan batin untuk saling menunggu kedatangan. Setelah pelukan hangat, Anregurutta dibawa ke dalam ruangan pesantren.
Saat mereka masuk, sementara berlangsung rapat para ulama dan guru di pesantren itu. "Mereka sementara rapat. Sepertinya rapat untuk pembangunan pondok. Karena ada wadah besar untuk tempat orang memasukkan uang," kata Andi Salman Maggalatung.
Diperkenalkanlah Anregurutta KH Djunaid Sulaiman oleh Pimpinan Pesantren Al-Shaulatiyah, Syekh Suud Salim Rahmatullah kepada para ulama dan tenaga pengajar yang sementara rapat.
"Syekh Suud memperkenalkan Anregurutta sebagai guru gurunya di pesantren itu. Maksudnya, Gurutta adalah gurunya gurunya Syekh Suud itu. Gurutta adalah guru dari gurunya Syekh Suud," kata Andi Salman Maggalatung.
Seketika semua orang langsung berebutan berdiri mencium tangan dan memeluk Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Mereka bertiga pun yang menemani Anregurutta juga disalami dan dipeluk. "Semua meminta barakka'na (berkah) Anregurutta," kata Andi Salman Maggalatung.
Baca Juga: Surat Perintah Ketum Golkar, TP Dipersiapkan sebagai Bakal Calon Gubernur Sulsel 2024
Semua ulama dan tenaga pengajar di situ seolah minta berkah dari Anregurutta KH Djunaid Sulaiman. Sekadar diketahui, saat lulus di Pesantren Al-Shaulatiyah, KH Djunaid Sulaiman merupakan santri terbaik. Anregurutta KH Djunaid Sulaiman pun tidak langsung pulang ke Indonesia.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman masih tinggal di Mekah dengan mengajar di Pesantren Al-Shaulatiyah. Kitab yang berisi kumpulan tulisan karya Anregurutta pun menjadi salah satu kitab yang dipakai santri di sana. Kala itulah Anregurutta mengajar guru dari gurunya Syekh Suud Salim Rahmatullah.
Ketinggian ilmu pengetahuan Anregurutta KH Djunaid Sulaiman juga diakui Anregurutta KH As'ad (pendiri Pesantren As'addiyah Sengkang). Anregurutta KH As'ad mengatakan, jika dirinya hanya pernah menjadi santri di Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah, sementara Anregurutta KH Djunaid Sulaiman mengajar di Pesantren Al-Shaulatiyah.
Baca Juga: Prof Dr Alimin, Guru Besar UIN yang Buta, Ketika Kekonyolan Berubah Kelucuan (2-selesai)
Tapi memang kedatangan Anregurutta KH As'ad di Pesantren Al-Shaulatiyah Mekah lebih duluan dibandingkan KH Djunaid Sulaiman yang datang bersama kakaknya, KH Rafi Sulaiman. Di Bone, KH Rafi Sulaiman lebih dikenal dengan gelar Petta Kalie.
Masih dalam ruangan rapat ulama dan guru di Pesantren Al-Shaulatiyah, KH Djunaid Sulaiman pun ikut dalam rapat itu. Diceritakan Andi Salman Maggalatung, selama Anregurutta KH Djunaid Sulaiman berada dalam ruangan itu, sumbangan untuk pembangunan pesantren seolah banjir berdatangan dari berbagai negara.
"Tidak berhenti orang datang memasukkan uang ke dalam tempat besar itu. Uang sumbangan datang dari berbagai negara. Kita tidak tau dari mana," kisah Andi Salman Maggalatung.
Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1445 H Bertepatan 11 Maret 2024, Lebaran Idul Fitri 10 April 2024
Karomah lain yang dikutip dari rencana tulisan dalam buku autobiografi Anregurutta KH Djunaid Sulaiman, adalah kisah Nongkeng. Nongkeng merupakan orang dekat Anregurutta KH Djunaid Sulaiman ketika bergabung dengan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Nongkeng menceritakan bahwa suatu ketika ia dikejar pasukang Siliwangi. Pasukan Siliwangi yang dipimpin Jenderal M Jusuf memang ditugaskan khusus untuk menumpas DI/TII di Sulawesi yang dipimpin Qahhar Mudzakkar.
Termasuk pasukan yang bersama KH Djunaid Sulaiman. “Jarak kami awalnya dekat, hanya diantarai satu petak sawah. Namun, seiring dengan suara letusan senjata kami berlari kencang melampaui kemampuan normal kami. Bahkan seolah ada kekuatan lain yang mendorong kami untuk bergerak jauh lebih cepat”, tutur Nongkeng.
Namun, kondisi mereka yang dalam pengejaran kian terdesak. Tibalah pasukan yang bersama Anregurutta KH Djunaid Sulaiman di pinggir pantai. Mereka semakin terdesak. Jalan melarikan diri hanya laut di depan.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman kemudian mencari perahu. Satu satunya perahu yang ada hanya perahu bocor dan rusak. Kondisi perahu yang bocor dan rusak sangat tidak mungkin untuk dipakai melarikan diri.
"Satu-satunya perahu yang ada adalah perahu yang bocor, sehingga terasa mustahil untuk digunakan," cerita Nongkeng.
Anregurutta KH Djunaid Sulaiman pun mengajak orang orangnya untuk menggunakan perahu. Meski awalnya mereka ragu akan kondisi perahu rusak tersebut.
Anregurutta kemudian membaca akhir surat al-Taubah. Setelah itu menyuruh orang yang mengikutinya naik ke perahu.
"Air nampak kelihatan dari sela-sela lobang perahu bocor itu. Tapi setetes pun tidak masuk ke perahu," kisang Nongkeng.
Baca Juga: Reses di Dua Lokasi, Anggota DPRD Makassar Rezki Janji Kawal Aspirasi Warga Soal PKH hingga Drainase
Berdasarkan data-data tentang kesalehan Anregurutta serta karamah-karamah yang terjadi padanya, maka penulis dengan sangat yakin mengatakan bahwa Anregurutta KH Djunaid Sulaiman adalah seorang waliyullah.(***)
