POJOKSULSEL, MAKASSAR - Prof Firdaus Muhammad menerima Keputusan Menteri Agama (KMA) Pengangkatan Guru Besar dalam bidang Komunikasi Politik Islam UIN Alauddin Makassar di Jakarta, Kamis (18/1/2024).

Firdaus Muhammad menerima KMA Guru Besar Komunikasi Politik Islam UIN Alauddin Makassar bersama 59 dosen dari berbagai kampus di bawah naungan Kemenag RI.

Gelar guru besar Komunikasi Politik Islam diraih Firdaus Muhammad pada usia 47 tahun. Pria kelahiran Wajo, 20 Februari 1976 pernah menjadi Ketua Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar selama dua periode.

Baca Juga: Akbar Ali Silaturahmi dengan Mitra Kerja Dinas Sosial Kota Parepare

Pada perjalanan akademiknya, lulusan terbaik program doktor UIN Syarif Hidayatullah itu konsen menulis rekam jejak ulama-ulama di Sulawesi Selatan dan Barat dalam satu dekade terakhir ini.

Mantan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, itu bertekad memperjuangkan nilai-nilai politik keislaman.

"Nilai-nilai politik keislaman itu yang harus diperjuangkan. Apalagi kan branded-nya dari UIN," kata Firdaus Muhammad.

Baca Juga: Surat Perintah Ketum Golkar, TP Dipersiapkan sebagai Bakal Calon Gubernur Sulsel 2024

Ia telah menulis 200-an profil ulama. Dia juga sudah menulis 20-an. Termasuk buku tentang komunikasi politik ulama.

Tidak hanya itu, Firdaus Muhammad menulis jurnal terindeks Scopus tentang Komunikasi Politik Syekh Yusuf.

"Saya menulis Scopus Komunikasi Politik Syekh Yusuf, yang belum banyak dikaji orang," kata pimpina Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar itu.

Ia mengatakan, komunikasi politik Islam masih belum banyak dikaji. Padahal, topik tersebut adalah ikhtiar perjuangan meneladani kepemimpinan politik nabi, sahabat hingga para ulama.

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1445 H Bertepatan 11 Maret 2024, Lebaran Idul Fitri 10 April 2024

"Memang yang harus diperjuangkan adalah meneladani kepemimpinan politiknya nabi, itu di antaranya," katanya

Prof Firdaus Muhammad mengatakan, dalam perjalanannya yang fokus mengkaji komunikasi politik Islam, ia menemukan bahwa ulama-ulama itu mengembangkan komunikasi politik.

Ia menjelaskan, keberhasilan Islam itu dikembangkan melalui jalur politik. Tapi bukan politik pragmatis. Melainkan politik sebagai alat untuk dakwah.

Komunikasi politik yang dikembangkan para ulama, lanjut Prof Firdaus Muhammad, berupa jalan kekuasaan untuk pengembangan dakwah. Mulai dari nabi, sahabat, hingga ulama Sulsel Syekh Yusuf

"Bukan agama diperalat untuk kekuasaan. Tetapi jalan kekuasaan untuk pengembangan dakwah.di antaranya mulai nabi, sahabat, Syekh Yusuf," katanya.***