POJOKSULSEL, MAKASSAR - Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis menyampaikan tiga perenungan penting kepada para guru besar agar tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga mampu memberi makna bagi lingkungan dan masyarakat.
Tiga perenungan itu disampaikan Prof Hamdan Juhannis saat pengukuhan tiga guru besar tetap UIN Alauddin Makassar, Selasa (29/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prof Hamdan Juhannis mengajak para guru besar UIN Alauddin Makassar untuk terus membangun sikap reflektif, peka terhadap persoalan sosial, serta mampu menyampaikan gagasan secara efektif.
Perenungan pertama, kata Prof Hamdan Juhannis, adalah menjadi guru besar yang “pintar merasa”, bukan “merasa pintar”.
Menurutnya, guru besar yang pintar merasa adalah mereka yang memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan selalu bersedia mendengar.
Baca Juga: Wujudkan Kampus Berkelanjutan, IAIN Bone Teken Pakta Integritas Ekoteologi Kultural
“Pintar merasa itu selalu mendengar. Yang merasa pintar adalah selalu mau didengar,” ujar Prof Hamdan Juhannis.
Ia melanjutkan, guru besar yang pintar merasa memiliki kepekaan sosial. Sebaliknya, mereka yang merasa pintar cenderung hanya berfokus pada kepentingan individual.
Perenungan kedua, Prof Hamdan Juhannis mengajak para guru besar untuk menjadi sosok yang pandai menjelaskan, bukan hanya pandai berbicara.
Ia menjelaskan, orang yang pandai menjelaskan biasanya menggunakan bahasa yang singkat dan mudah dipahami. Sementara orang yang hanya pandai berbicara cenderung sulit mengakhiri pembicaraan.
“Yang pandai menjelaskan biasanya menggunakan bahasa yang singkat. Namun yang pandai berbicara susah berakhir dengan titik, selalu panjang,” katanya.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Lantik Sekretaris dan 4 Direktur Lingkup Ditjen Pesantren, Ini Nama-Namanya
Menurut Prof Hamdan Juhannis, kemampuan menjelaskan juga memiliki kecenderungan melahirkan inspirasi. Sementara kemampuan berbicara tanpa substansi dapat mengarah pada sikap provokatif.
“Yang pandai menjelaskan kecenderungannya adalah inspirator. Namun yang pandai berbicara kecenderungannya menjadi provokator,” tuturnya.
Ia juga membedakan cara keduanya dalam melihat informasi. Guru besar yang pandai menjelaskan, kata dia, cenderung mengolah fakta. Sedangkan mereka yang hanya pandai berbicara lebih banyak mengolah kata.
“Yang pandai menjelaskan kecenderungannya mengolah fakta. Namun yang pandai berbicara kecenderungannya adalah mengolah kata,” jelas Prof Hamdan Juhannis.
Perenungan ketiga adalah ajakan untuk menjadi guru besar yang rajin merefleksi, bukan hanya rajin mengoreksi.
Prof Hamdan Juhannis menilai refleksi merupakan bagian dari upaya menemukan kesejatian diri. Sementara kebiasaan mengoreksi orang lain tanpa melihat kekurangan diri dapat memperkuat ego.
“Yang rajin merefleksi itu adalah kesejatian diri. Sementara yang rajin mengoreksi adalah ke-aku-an diri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, orang yang rajin merefleksi merupakan mereka yang memahami kekurangan dirinya. Sebaliknya, mereka yang gemar mengoreksi cenderung lebih sering menonjolkan kelebihan diri.
Baca Juga: Penasihat Menteri Kelautan dan Wali Kota Parepare Kunjungi Kampung Nelayan Cempae
“Yang rajin merefleksi adalah mereka yang paham akan kekurangan diri. Sementara yang rajin mengoreksi yang selalu menonjolkan kelebihan diri,” pungkas Prof Hamdan Juhannis.
UIN Alauddin Makassar Kukuhkan tiga guru besar tetap
Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis kembali mengukuhkan tiga guru besar tetap, yakni:
Prof. Dr. Susmihara, M.Pd., sebagai Guru Besar Tetap Bidang Pendidikan Islam Budaya Nusantara Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar.
Prof. Susmihara menyampaikan pidato berjudul “Ketika Kecerdasan Kehilangan Kemanusiaan: Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dan Spiritualitas.”
Baca Juga: PNUP dan Singapore Polytechnic Bersama Semen Tonasa Kembangkan Potensi Bandeng 4 UMKM Pangkep
Prof. Dr. Hj. Sitti Asiqah Usman Ali, Lc., M.Th.I., sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Hadis Gender Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).
Prof Sitti Asiqah Usman menyampaikan pidato berjudul “Reinterpretasi Hadis Gender: Prinsip Kesalingan dalam Kerukunan Berkeluarga”.
Prof. Dr. Usman, S.Ag., M.Pd. sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang ilmu Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK).
Prof Usman menyampaikan pidato berjudul berjudul "Kolaborasi dan Karakter: Menavigasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Koperatif-Islami di Tengah Kompleksitas Pembelajaran Abad 21". ***




