PERJALANAN seseorang menjadi rahasia Sang Khaliq. Seperti itu juga perjalanan Alimin. Tidak ada yang menyangka seorang Alimin mencapai puncak gelar akademik sebagai profesor atau guru besar dan hafiz Alquran 30 juz dalam kondisi mata buta total.
Pencapaian Prof Dr Alimin sebagai seorang guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta dan hafiz Alquran 30 juz sudah diceritakan dalam tulisan sebelumnya.
Prof Dr Alimin memang buta total sejak 2016, atau 7 tahun terakhir. Penglihatan menurun sejak belasan tahun lalu akibat penyakit retinitispigmentosa yang dideritanya.
Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1445 H Bertepatan 11 Maret 2024, Lebaran Idul Fitri 10 April 2024
Prof Dr Alimin buta yang bukan bawaan lahir, tapi karena penyakit. Tetapi dengan kekurangan indra penglihatannya, Alimin tetap bersemangat mengejar apa yang ingin dicapainya.
Banyak hal hal yang dianggap konyol yang terjadi dalam perjalanan hidup Prof Dr Alimin ketika melakoni hidup sebagai orang buta atau tunanetra.
"Kenikmatan tertinggi ketika kita bisa menikmati takdir kita. Apa yang dianggap orang sebagai kekurangan itu kita pandang sebagai kelebihan yang kadang lucu," kata Prof Dr Alimin.
Banyak "kekonyolan" yang terjadi, namun kemudian bisa dinikmati menjadi hal yang lucu. "Nikmat itu. Kekonyolan kita kita nikmati sebagai hal yang lucu. Orang lain juga menikmatinya sebagai hiburan," kata Alimin.
Dalam keseharian, Prof Dr Alimin kadang mengeluarkan celetukan celetukan yang mungkin sebagain orang dianggap konyol, tapi tetap bermakna yang dalam.
Kebiasaannya rutin menulis masih dia lakoni sampai hari ini. Setiap hari, di tengah kesibukan mengajar di kampus dan aktivitas sosialnya, Prof Dr Alimin masih menyempatkan waktu untuk menulis.
Baca Juga: Reses di Dua Lokasi, Anggota DPRD Makassar Rezki Janji Kawal Aspirasi Warga Soal PKH hingga Drainase
Prof Dr Alimin pun punya cara mengakali kondisinya yang buta agar tetap bisa menulis. Papan pengalas menulis dia ikat dengan karet gelang.
"Jumlah karet dua pulu empat (24) atau dua puluh lima (25). Berbaris ke bawah. Itulah sebagai pembatas garis tulisan saya," kata Prof Dr Alimin.
Pengalaman yang mungkin konyol soal rutinitasnya menulis dia ceritakan kepada penulis. Suatu malam dia menulis seperti biasa dengan bidang papan tulisan yang sudah diikat karet.
Di bawah karet, diisi dengan kertas kosong yang akan ditulisi. Malam itu, Prof Dr Alimin mulai menulis sekitar pukul 21.00 WIB.
Prof Dr Alimin menulis sekira hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Perkiraan Prof Dr Alimin, dirinya menyelesaikan 20 lembar tulisan.
Seperti kebiasaannya, besoknya tulisan itu akan diserahkan ke anaknya yang akan men-translate tulisan untuk dipindahkan diketik di laptop.
Baca Juga: Anggota DPRD Makassar Galmerrya Kondorura Janji Kawal Aspirasi Warga Soal Infrastruktur di Dapil III
Keesokan harinya, lembaran kertas itu diserahkan ke anak Prof Dr Alimin untuk dipindahkan ke laptop.
"Apa ini?" tanya anaknya kepada Alimin saat menyerahkan kertas. Seperti biasa, Prof Dr Alimin menjelaskan jika itu tulisannya semalam yang akan diketik untuk dipindahkan ke laptop.
"Ada 20 lembar itu," kata Alimin kepada anaknya. Ternyata, anaknya semakin bingung. Apa yang dia mau tulis, semua kertas yang diserahkan bapaknya (Prof Dr Alimin) semua kosong.
"Kosong ini kertas. Tidak ada tulisannya," kata Alimin menirukan jawaban anaknya.
Astaga, ternyata dalam 20 lembar kertas itu tidak ada satupun tulisan. Masih berupa kertas kosong. Ternyata, pulpen yang dipakai menulis semalam tintanya habis.
Jadilah kejadian "tragis" itu seolah menjadi kekonyolan yang menjadi tertawaan semua orang. "Saya menikmati kejadian kejadian yang dianggap konyol itu," kata Prof Dr Alimin.
Terkadang juga oleh beberapa orang Prof Dr Alimin juga dianggap sombong karena tidak menyapa. Hal itu dialami Prof Dr Andi Salman Manggalatung yang sama sama menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Baca Juga: Anggota DPRD Makassar Apiaty Amin Syam Tampung Curhat Warga Sola Keamanan hingga Drainase
Diceritakan Andi Salman Maggalatung, yang juga guru besar di UIN Syarif Hidayatullah, dirinya kala itu baru pindah dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon. Saat berpapasan jalan dengan Prof Dr Alimin, dia tidak menyapanya.
Padahal, dia mendapat informasi kalau Alimin adalah juniornya yang sama sama sebagai murid Anregurutta KH Djunaid Sulaiman di Bone, pernah tinggal di Panti Asuhan Masjid Raya, dan juga boleh dikatakan sebagai alumni Pesantren Aljunaidiyah Biru.
Padahal, biasanya jika orang satu kampung dan pernah hidup bersama pada saat bertemu di tanah rantau akan langsung akrab. Tidak kenal pun akan akrab, apalagi memang sudah kenal.
"Sombong sekali itu Alimin. Kok dia tidak menyapa. Senyum pun tidak," kata Andi Salman Maggalatung yang secara usia memang jauh lebih tua dari Alimin.
Baca Juga: Besse Rasida Dilantik sebagai Dokter Ahli Utama Pemprov Sulsel, Ini 27 Poin Tugas yang Diemban
Belakangan baru kemudian dia mengetahui jika Prof Dr Alimin itu buta. "Astagafirullah, saya berdosa sama Beliau. Ternyata dia tidak melihat saya," kata Prof Dr Andi Salman Maggalatung.
"Betul, Beliau (Andi Salman Maggalatung) itu pindahan dari Ambon. Kalau saya memang terangkat mengajar di sini (UIN Syarif Hidayatullah) sejak selesai S2," kata Alimin.
Kekonyolan lain yang kemudian menginspirasi Prof Dr Alimin untuk membuat kitab penuntun fiqih untuk orang buta atau orang difabel ketika dirinya salat berjamaah.
Baca Juga: Besse Rasida Dilantik sebagai Dokter Ahli Utama Pemprov Sulsel, Ini 27 Poin Tugas yang Diemban
Kala itu, dia ikut sebagai jamaah salat berjamaah. Takbir imam salat semua panjangnya sama. "Biasanya, contoh yah, ini contoh saja. Kalau takbir berdiri dari sujud itu biasanya panjang. Kalau takbir antara dua sujut biasanya pendek. Itukan kebiasaan kita," kata Prof Dr Alimin.
Tapi, saat itu, imam yang memimpin salat, semua takbirnya sama panjang. Tiba di sujut rakaat terakhir, konsentrasi Alimin buyar. Kosong, entah memikirkan apa. Dia tidak mengingat ini sudah sujud rakaat berapa.
"Saya langsung berdiri. Lama saya berdiri, menunggu suara imam untuk rukuk. Tidak ada. Saya coba menggerakkan bahu kiri saya, mau merasakan orang berdiri di samping saya. Tidak ada orang. Begitu juga saya gerakkan bahu kanan, juga tidak ada orang. Harusnya saya sudah sentuh jika ada orang berdiri di samping saya," kisah Prof Dr Alimin.
Baca Juga: 2.192 Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Siap Mengabdi di 10 Kabupaten. Lihat di Sini Daftar Lokasinya
Barulah dia sadar jika dirinya salah ketika imam salat mengucapkan salam. Ternyata jamaah sudah tahiyat, sementara dia berdiri.
"Ternyata saya salah. Saya bingung mau sujud sahwi atau bagaimana? Akhirnya saya memilih mengulangi salat," kata Prof Dr Alimin.
Insiden ketika salat itu kemudian menjadi ide Prof Dr Alimin untuk menyusul kitab fiqih difabel.
"Misalnya, jika orang salat jamaah. Jika jamaah lain mengetahui di samping orang buta, besarkanlah niatnya supaya kita dengar ini salat apa. Karena kadang kita lupa dan kami tidak bisa liat jam. Kami ini rasakan gelap terus. Tidak pernah terang," kata Alimin berseloroh.
Sebagai seorang akademisi, Prof Dr Alimin sudah menyusun beberapa catatan bagaimana memerlakukan orang seperti dirinya yang buta dalam kehidupan sehari hari. Misalnya jika akan menuntun.
Menurutnya, idealnya jika orang buta di tuntun, jangan dipegang di atas sikunya atau diarahkan dari belakang. Ada makna lain yang dirasakan ketika Prof Dr Alimin di tuntun seperti itu.
Baca Juga: Momentum Hari Kesadaran Nasional Diharap Jadi Motivasi ASN Meningkatkan Pelayanan
"Pappadaki sedding tau ditikkengge (kita seperti orang yang ditangkap). Seperti tersangka atau narapidana ki," kata Alimin.
Sebaiknya, saran Prof Dr Alimin, yang akan menuntun cukup berjalan di depannya dan memberikan benda atau tangan untuk dipegang. "Dikasi ingat saja misalnya di kiri atau kanan ada lubang, undakan, tiang. cukup seperti itu," kata Alimin.
Pengalaman kepalanya menjadi korban kipasan pintu mobil sudah sering dia rasakan. Orang yang biasa berlomba loma membukakan dirinya pintu mobil ketika akan naik mobil justru menjadi bencana.
Dia yang berada dekat dengan pintu mobil dan tidak melihat, akhirnya terhantam kipasan pintu. Karena orang biasanya buru buru bukakan pintu.
Baca Juga: Komite Medik RSUD Andi Makkasau Bahas Waspada Bahaya Penyakit Stroke di acara Talkshow
Padahal, kata Alimin, yang sebaiknya dilakukan adalah mengarakan tangan orang buta memegang gagang pintu mobil dan selanjutnya serahkan pada dia untuk membuka pintu dan naik mobil sendiri untuk mengambil posisi duduk.
Pengalaman sakit kejedot pintu mobil pun terkadang menjadi kelucuan bagi dirinya. "Untung pintu mobil ini besi, Kalau kayu atau tembok, pasti patah atau hancur," seloroh Alimin.
Ungkapan jenaka itu kadang menjadi tertawaan orang orang yang berada di sekitarnya. Kejadian tragis itu diarahkan menjadi kelucuan ketika dirinya sementara menahan sakit.
Begitu juga misalnya ketika dia berjalan, tiba tiba kepalanya terantuk palang kayu atau pintu ruangan. Kalimatnya kadang mengambil sisi jenakanya.
Baca Juga: BPBD Terima Laporan 7 Lokasi Terdampak Angin Kencang di Kabupaten Maros
"Coba periksa itu kayu, de to nacippe (tidak rusak ji)," kata Alimin memaknai kekonyolan atas kondisinya yang diramu dalam ruang ruang jenaka yang menjadi kelucuan bagi orang lain.
Kondisi kebutaan permanen seorang Alimin juga tidak pernah berhenti melakukan kegiatan sosial. Di sela kesibukannya mengajar sebagai dosen, Prof Dr Alimin juga tidak pernah menolak panggilan mengajarkan Metode Muntaz.
Metode Muntaz adalah metode yang disusun Alimin dalam mempelajari ilmu nahwi dan saraf lebih mudah. Dengan Metode Muntaz orang akan lebih mudah dan menyenangkan membaca kitab kuning.
Metode Muntaz diajarkan dalam bentuk syair syair dan nyanyian yang mudah dipahami. Metode Muntaz ini dinakan metode belajar milenial.
Baca Juga: IKN Akan Berdampak Positif Terhadap Perekonomian Masyarakat Kota Parepare
Kegiatan sosial lainnya, Prof Dr Alimin tidak pernah berhenti menginisiasi alumni Pesantren Aljunaidiyah untuk melakukan apa saja di bidang masing masing untuk berkiprah membangun dan memajukan almamaternya.
Beberapa gerakan kemandirian ekonomi pesantren, khususnya di pondok dimana dia berasal, Pesantren Aljunaidiyah Biru, terus Alimin dorong.
Beberapa waktu lalu, bersama keluarganya membangun masjid di kampung halamannya. Masjid yang diberi nama Masjid Bani Tenratu di Mallari, Dusun Barae, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengabadikan nama kakeknya.
Baca Juga: Chaidir Syam Buka MTQ Kabupaten Maros, Bupati Harap Musabaqah Jadi Motivasi Cinta Alquran
"Kami cucu dan anak, kakek saya bernama Tenratu, bersatu saling berdonasi membangun masjid di kampung. Makanya namanya Masjid Bani Tenratu yang berarti keturunan Tenratu," kata Alimin.
Hari ini, Kamis (18/1/2023), Alimin resmi dilantik sebagai guru besar. Capaiannya hingga hari ini dengan kondisinya yang buta rencana dia dokumentasikan dalam tulisan.
"Kita harus lebih bersahabat dengan takdir. Perjalanan saya dari kampung, keluarga bisa dibilang kekurangan, bukan anak siapa siapa, alhamdulillah bisa sampai ke titik ini," kata Prof Dr Alimin.
Baca Juga: Pj Wali Kota Parepare Harap Sosialisasi Manfaat dan Prosedur BPJS Ketenagakerjaan Dimaksimalkan
Prof Dr Alimin mengatakan, takdir sudah ditentukan. Hanya saja bagaimana manusia sebagai hamba bersyukur pada semua kondisi dengan bersahabat dengan takdir yang sudah ditentukan.
Selamat Prof Dr Alimin. Selamat menyandang status sebagai guru besar "sang maha terpelajar." Semoga ilmu dan apa yang direncakan berikutnya segera bisa diwujudkan.(***)
