MAROS, SULSEL.POJOKSATU.id - Kekeringan yang melanda Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, berdampak pada 12 dari 14 kecamatan. Lebih dari 300 ribu jiwa terdampak, sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Maros terus mengintensifkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sejak awal Agustus 2026, BPBD Maros telah menyalurkan lebih dari lima juta liter air bersih ke wilayah terdampak. Saat ini, distribusi dilakukan dengan mengerahkan sekitar 30 tangki air setiap hari.

Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan setiap armada tangki memiliki kapasitas 5.000 liter. Air bersih disalurkan ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Per harinya, saat ini untuk kami saja di BPBD itu ada tiga puluh tangki. Setiap mobil armada tangki itu lima ribu liter, sehingga kita distribusikan ke beberapa wilayah,” kata Towadeng, Senin (19/10/2026).

Dari 14 kecamatan di Kabupaten Maros, hanya Kecamatan Mallawa dan Camba yang hingga pertengahan Oktober belum membutuhkan penyaluran air bersih dari BPBD. Sebanyak 12 kecamatan lainnya telah mengajukan permohonan bantuan.

Dalam upaya menjangkau masyarakat terdampak, BPBD Maros membagi wilayah distribusi menjadi dua kawasan utama, yakni wilayah pesisir serta kawasan perumahan dan perkotaan.

Kecamatan Bontoa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dengan alokasi sembilan tangki air bersih setiap hari.

Menurut Towadeng, masyarakat di kawasan pesisir menghadapi kendala dalam memperoleh air bersih. Pasokan dari pedagang juga sulit diandalkan karena mereka cenderung memprioritaskan wilayah yang lebih dekat dengan lokasi operasional untuk menekan biaya pengangkutan.

Kondisi tersebut membuat bantuan distribusi air bersih menjadi penting bagi masyarakat yang kesulitan memperoleh pasokan secara mandiri.

Penanganan kekeringan di Maros tidak hanya mengandalkan pemerintah daerah. BPBD turut berkolaborasi dengan pelaku UMKM, Pertamina, Palang Merah Indonesia (PMI), PDAM, dan sejumlah lembaga lainnya untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Koordinasi lintas sektor tersebut dilakukan untuk menjaga kelangsungan distribusi, terutama di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan.

Upaya penanganan diperkirakan masih diperlukan dalam beberapa pekan mendatang. Berdasarkan informasi BMKG yang disampaikan dalam rapat koordinasi di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, curah hujan di Kabupaten Maros diperkirakan mulai turun pada pertengahan Desember 2026.

Dengan kondisi tersebut, BPBD memastikan penyaluran air bersih akan terus dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat.

Towadeng menegaskan, sesuai arahan Bupati Maros, distribusi bantuan tidak akan dihentikan sebelum kebutuhan dasar warga terpenuhi.

Pemkab Maros daerah bersama BPBD juga terus memperkuat koordinasi agar penyaluran air bersih dapat menjangkau wilayah terdampak, terutama kawasan yang paling membutuhkan bantuan selama kekeringan berlangsung.