POJOKSULSEL, JAKARTA - Umat Islam dianjurkan menjalankan puasa Tasua dan puasa Asyura pada 9 dan 10 Muharram. Selain memiliki pahala besar, kedua puasa sunnah tersebut juga mengandung pesan penting tentang rasa syukur, ketaatan kepada Allah SWT, hingga menjaga identitas keislaman sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan puasa Asyura termasuk salah satu amalan sunnah yang paling dianjurkan pada bulan Muharram.
Keutamaan puasa Asyura di bulan Muharram bahkan disebut secara langsung dalam hadis Nabi Muhammad SAW sebagai amalan yang dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang telah berlalu.
"Rasulullah SAW bersabda, 'Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Dia menghapuskan dosa setahun yang lalu'," kata Arsad Hidayat mengutip hadis riwayat Muslim, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, ampunan yang dimaksud dalam hadis tersebut berkaitan dengan dosa-dosa kecil yang dilakukan seorang muslim selama setahun terakhir.
Baca Juga: Masuk Top 10 Indonesia, Unhas Naik Dua Level Sekaligus di Ranking Dunia 2026
Karena itu, momentum puasa Asyura menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri sekaligus memperbaiki kualitas ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Mengapa Puasa Tasu'a Dianjurkan?
Arsad Hidayat menjelaskan, Rasulullah SAW tidak hanya menganjurkan puasa pada 10 Muharam atau Asyura. Nabi juga menganjurkan umat Islam berpuasa sehari sebelumnya, yakni pada 9 Muharam yang dikenal sebagai puasa Tasu'a.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa jika masih hidup pada tahun berikutnya, beliau akan berpuasa pada hari kesembilan Muharam.
Dari hadis tersebut, para ulama kemudian memahami adanya anjuran untuk menggabungkan puasa 9 dan 10 Muharam.
"Para ulama menjelaskan bahwa puasa Tasu'a dilakukan sebagai penyempurna puasa Asyura," ujar Arsad Hidayat dikutip laman resmi Kemenag Ri.
Baca Juga: Pedagang Pasar Hobi Makassar Tolak Relokasi, Klaim Kantongi SK Resmi Sejak Era IAS
Pembeda dengan Tradisi Ahli Kitab
Salah satu hikmah utama puasa Tasu'a adalah sebagai pembeda antara umat Islam dengan tradisi Ahli Kitab yang juga mengagungkan hari Asyura.
Menurut Arsad Hidayat, Rasulullah SAW mengajarkan agar umat Islam memiliki identitas ibadah yang khas tanpa menghilangkan penghormatan terhadap para nabi terdahulu.
Karena itu, pelaksanaan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam menjadi bentuk penyempurnaan ibadah sekaligus penegasan jati diri umat Islam.
"Puasa Tasu'a bukan sekadar tambahan ibadah, tetapi juga mengandung pesan penting tentang identitas dan karakter umat Islam," jelasnya.
Selain itu, puasa Tasu'a juga menjadi bentuk kehati-hatian dalam penentuan awal bulan Hijriah. Dengan berpuasa pada dua hari tersebut, umat Islam dapat memastikan amalan Asyura tetap terlaksana sesuai waktunya.
Muharam Bulan yang Dimuliakan
Arsad menambahkan, Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Bahkan dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa yang dilakukan pada bulan Muharam.
Karena itu, memperbanyak amalan puasa sunnah selama Muharam menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan.
Tak hanya bernilai spiritual, puasa Tasu'a dan Asyura juga menjadi sarana melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.
"Mari jadikan Muharam sebagai momentum memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan meneladani sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari," tutup Arsad Hidayat. ***




