MAKASSAR, SULSEL.POJOKSATU.id - Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat upaya peningkatan kesadaran kesehatan mental di lingkungan kampus melalui edukasi, pemeriksaan awal kondisi emosional, hingga layanan konseling psikologis. Upaya tersebut diwujudkan dalam kegiatan Mental Health Day 2026 yang mengusung tema “Suara Nyata, Perubahan Nyata”.

Mental Health Day 2026 yang berlangsung di pelataran Gedung IPTEKS, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Sabtu (10/10/2026), ini menjadi bagian dari program UNHAS PRIME (Physical-Psychological Resilience, Intervention, and Medical Ecosystem).

Melalui program tersebut, Unhas mendorong terciptanya lingkungan akademik yang tidak hanya berorientasi pada prestasi dan produktivitas, tetapi juga memperhatikan kesehatan psikologis serta kebutuhan sivitas akademika, termasuk penyandang disabilitas.

Direktur Kesejahteraan dan Kinerja Unhas, Dr. Nur Arifah, mengatakan Mental Health Day 2026 dirancang untuk meningkatkan literasi kesehatan mental sekaligus memperluas pemahaman mengenai akses dukungan psikologis di lingkungan kampus.

“Kesehatan mental merupakan bagian penting dari pengembangan sumber daya manusia dan talenta di perguruan tinggi. Karena itu, setiap individu perlu memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan pengalaman emosional, didengarkan, dan memperoleh dukungan tanpa stigma maupun penghakiman,” jelasnya.

Menurut Nur Arifah, peningkatan kesadaran kesehatan mental membutuhkan lingkungan yang mendorong keterbukaan, empati, dan kepedulian. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan mental perlu berjalan beriringan dengan penyediaan layanan yang dapat diakses oleh sivitas akademika.

Mental Health Day 2026 juga menjadi bagian dari upaya Unhas membangun lingkungan kampus yang lebih inklusif melalui kolaborasi layanan psikologi dan disabilitas.

Kegiatan tersebut dibuka Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Pengembangan Talenta, dan Kesejahteraan Unhas, Prof. Farida Patittingi.

Dalam sambutannya, Farida Patittingi menegaskan kesejahteraan psikologis perlu menjadi perhatian bersama, seiring dengan tuntutan pencapaian akademik dan produktivitas kerja.

“Lingkungan kampus yang sehat tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik dan produktivitas kerja, tetapi juga oleh hadirnya empati, rasa aman, kepedulian, serta dukungan terhadap kesejahteraan psikologis setiap individu, termasuk penyandang disabilitas,” ujarnya.

Ia berharap Mental Health Day 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh warga kampus dalam membangun lingkungan yang sehat, suportif, dan ramah terhadap kebutuhan setiap individu.

Menurutnya, kepedulian terhadap kesehatan mental perlu tumbuh sebagai bagian dari budaya kampus, bukan hanya melalui kegiatan seremonial atau peringatan tertentu.

Dalam pelaksanaannya, Mental Health Day 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan edukatif dan layanan pendukung. Peserta dapat mengikuti talk show dan sesi sharing awareness untuk memperluas pemahaman mengenai kesehatan mental.

Unhas juga menyediakan Art Therapy Corner sebagai ruang ekspresi kreatif melalui aktivitas seni, serta Pojok Screening untuk pemeriksaan awal kondisi emosional.

Selain itu, tersedia layanan konseling sebagai ruang konsultasi dan pendampingan psikologis bagi peserta yang membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Kegiatan turut diramaikan dengan Walk for Mental Health, yakni jalan santai yang disertai kampanye kesehatan mental untuk memperluas pesan kepedulian kepada masyarakat.

Rangkaian program tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi Direktorat Kesejahteraan dan Kinerja Unhas, Bidang Sumber Daya Manusia, Pengembangan Talenta, dan Kesejahteraan, bersama Pusat Layanan Psikologi dan Pusat Layanan Disabilitas Unhas.