POJOKSULSEL.com, MAKASSAR - Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Politeknik Negeri Ujung Pandang jurusan Teknik Mesin membantu pengembangan Industri Rumah Tangga (IRT) Kepiting Beku di Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.

IRT tersebut memproduksi kepiting beku yang bahu bakunya dari hasil tangkapan nelayan di desa tersebut.

Baca Juga: Dosen dan Mahasiswa PNUP Dampingi Pengrajin Tahu Dalam Pengolahan Limbah Industri Jadi Pupuk Cair

IRT milik Amir ini mulai beroperasi pada 2007 lalu. Usaha ini didukung oleh potensi daerah setempat sebagai desa nelayan penghasil kepiting rajungan yang secara geografis berada pada pesisir pantai barat Selat Makassar.

Tercatat hingga akhir tahun 2019, jika musim panen kepiting tiba, IRT ini dapat mempekerjakan sampai 30 orang tenaga kerja.

Baca Juga: 15 Perusahaan Buka Lowongan di Unhas Career Expo, Ada Juga Info Beasiswa, Berlangsung 2 Hari, Catat Tanggalnya

Sayangnya, pada awal Maret sampai Juli 2020 sempat behenti total produksi karena kondisi pandemi COVID-19. Kondisi berdampak buruk terhadap kehidupan masyarakat setempat yang semakin terpuruk.

Barulah pada awal bulan Agustus tahun 2022 hingga saat ini kembali berproduksi dengan tenaga kerja sebanyak 10 orang. Hasil peninjauan terhadap lingkungan pemukiman mitra, kondisinya terkesan kumuh sebagaimana perkampungan nelayan pada umumnya.

Baca Juga: Rektor UIN Alauddin Makassar Ungkap Alasan Ekonomi Politik Era Digital Perlu Jadi Perbincangan

Ketua tim PKM Politeknik Negeri Ujung Pandang jurusan Teknik Mesin pada IRT Produksi Kepiting Beku di Kabupaten Maros, Dr. Ir. Firman, M.T mengatakan, dari hasil pantauan di lapangan, terlihat bahwa kualitas dan kuantitas produk masih rendah.

"Hal ini disebabkan oleh kondisi ruang produksi tidak higienis, karena para pekerja tidak menggunakan pakaian standar kerja seperti baju kerja, tutup kepala, sarung tangan, dan masker," ucap Firman.

Baca Juga: IKA Unhas dan AAS Foundation Bawa Bantuan di 2 Lokasi Kebakaran Makassar

Firman mengatakan, manajemen keuangan sangat sederhana yaitu hanya menggunakan buku catatan biasa dan terkadang ada komponen pembiayaan yang tidak tercatat, di samping belum dipisahkan antara keuangan usaha dan keuangan keluarga.

Dari segi biaya produksi, kenaikan tarif dasar listrik secara mendadak dari PLN di tengah terpuruknya ekonomi masyarakat semakin besar dampaknya bagi IRT ini.

"Sehingga perlu upaya strategis secara bersama-sama dari semua pihak guna memulihkan kembali kehidupan masyarakat minimal seperti semula," ucap Firman.

Baca Juga: 3 Tahun Kampus Vokasi Unhas di Kepulauan Selayar, Saiful Arif Harap Ada Jalur Khusus

Tim Politeknik Negeri Ujung Pandang jurusan Teknik Mesin menawarkan solusi untuk membantu menghemat biaya listrik.

Pertama, Politeknik Negeri Ujung Pandang jurusan Teknik Mesin memberikan pelatihan tentang penerapan prinsip-prinsip K3 dalam produksi kepiting beku.

Kedua, Politeknik Negeri Ujung Pandang jurusan Teknik Mesin menerapkan teknologi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) pada IRT ELTEDE tersebut.

Baca Juga: UIN Alauddin Makassar Jadi Sentrum SDM Perguruan Tinggi Indonesia Timur, Inilah 4 Guru Besarnya Jabat Rektor

Ketiga, memberikan pelatihan pembuatan buku kas, pencatatan harian, dan penentuan harga pokok penjualan.

"Target khusus program PKM ini ialah membantu perekonomian masyarakat khususnya usaha produksi kepiting beku. Metode pelaksanaan ialah membuat komponen tertentu kemudian merakit menjadi Teknologi Tepat Guna (TTG)," ucap Firman.