POJOKSULSEL, MAKASSAR - Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan Universitas Muslim Indonesia (FSIKP UMI) memperingati Hari Telekomunikasi dan Masyarakat Informasi Sedunia 2026 dengan menggelar kegiatan Walk and Talk yang dipusatkan di Kota Makassar, Minggu (17/5/2026).
Kegiatan diawali dari kawasan Car Free Day Jalan Boulevard Makassar. Aksi ini diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI bersama jajaran sivitas akademika FSIKP UMI. Turut hadir mendampingi mahasiswa, Dekan FSIKP UMI, para wakil dekan, serta dosen-dosen di lingkungan fakultas guna memastikan kegiatan berlangsung tertib, edukatif, dan kondusif.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI menyuarakan kampanye literasi digital kepada masyarakat melalui orasi, yel-yel, dan ajakan edukatif di sepanjang kawasan Boulevard Makassar. Berbagai pesan yang disampaikan menekankan pentingnya sikap bijak dalam bermedia, menjaga ruang privasi, serta membangun kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Seruan seperti “Jaga ruang privasimu! Pikir sebelum posting! Saring sebelum sharing! Cek fakta sebelum percaya!” menggema sepanjang aksi dan mendapat perhatian dari masyarakat yang hadir di area Car Free Day. Mahasiswa juga menyampaikan yel-yel seperti “Generasi Cerdas Lawan Hoaks”, “Bijak Bermedia”, hingga slogan khas “Ilmu Komunikasi UMI: Keren dan Selalu Keren” sebagai bentuk ajakan kolektif untuk membangun budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Baca Juga: Tasming Hamid Ajak ASN Pemkot Parepare Tingkatkan Budaya Literasi dan Membaca Alquran
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini terlihat dari respons positif para pengunjung Car Free Day yang menyaksikan langsung jalannya kampanye. Kehadiran mahasiswa di ruang publik dengan membawa pesan literasi digital dinilai menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama di tengah arus informasi dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pembacaan pernyataan sikap terkait isu telekomunikasi dan masyarakat informasi. Dalam pernyataan tersebut, Koalisi Masyarakat dan Mahasiswa Informasi dan Komunikasi Sulawesi Selatan menyoroti sejumlah persoalan yang berkembang di ruang digital, mulai dari maraknya hoaks, deepfake, manipulasi informasi, hingga pengaruh algoritma media sosial yang dinilai turut memperkuat polarisasi di ruang publik.
Koalisi juga mendorong pemerintah dan DPR agar literasi digital dijadikan materi wajib mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain itu, mereka meminta platform media sosial menghadirkan label transparansi pada seluruh konten berbasis kecerdasan buatan atau AI, serta mempercepat mekanisme verifikasi terhadap konten manipulatif.
Tidak hanya itu, koalisi juga menekankan pentingnya pemerataan akses internet bagi masyarakat di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), serta mengajak masyarakat melakukan detoks digital selama dua hingga empat jam setiap hari demi menjaga kesehatan mental.
Baca Juga: BKPSDM Maros Catat 4 ASN Pindah Keluar, 14 ASN Baru Masuk
Salah satu poin utama dalam pernyataan sikap tersebut menegaskan ajakan untuk mengembalikan teknologi pada fitrahnya sebagai alat untuk mencerdaskan, bukan mempolarisasi dan mengadu domba.
Pesan ini menjadi refleksi penting bahwa teknologi dan media digital semestinya menjadi sarana pemberdayaan, bukan ruang yang memperkuat perpecahan sosial.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMI, Dr. Zelfia, M.Si., yang menyampaikan apresiasi atas semangat, kepedulian, dan inisiatif mahasiswa dalam memperingati Hari Telekomunikasi dan Masyarakat Informasi Sedunia 2026.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI tidak hanya aktif dalam ruang akademik, tetapi juga hadir sebagai agen edukasi publik yang mendorong tumbuhnya masyarakat digital yang lebih cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Wakil Dekan I FSIKP UMI, Muhajir, Ph.D., mewakili Dekan, menyampaikan apresiasi atas semangat mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI yang memperingati Hari Telekomunikasi dan Masyarakat Informasi Sedunia melalui kegiatan edukatif di ruang publik.
Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan kepedulian mahasiswa dalam mengajak masyarakat lebih cerdas, kritis, dan bijak dalam bermedia digital. ***




