POJOKSULSEL, MAKASSAR – Lolos menjadi mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi kebanggaan bagi banyak pelajar. Namun, bagi sebagian calon mahasiswa, perjuangan belum berhenti setelah dinyatakan diterima.
Keterbatasan ekonomi justru menjadi tantangan berikutnya. Di tengah kondisi itu, program Kartu Indonesia Pintar atau KIP Kuliah menjadi harapan agar cita-cita mengenyam pendidikan tinggi tidak terhenti di tengah jalan. Tanpa terkecuali di Unhas.
Harapan tersebut dirasakan Araya Dewisyah Wijaya R, calon mahasiswa Program Studi Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Unhas yang diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Di balik kelulusannya, Araya menyimpan kekhawatiran karena kondisi ekonomi keluarganya belum memungkinkan membiayai pendidikan di perguruan tinggi.
Ayahnya, Rojer Wijaya, bekerja sebagai pengemudi ojek daring, sementara ibunya berjuang mengatur kebutuhan keluarga dengan penghasilan yang terbatas.
Baca Juga: Chaidir Syam Resmi Pimpin Dekopinda Maros, Pasang Target Besar Ini Majukan Koperasi
Saat tim verifikasi KIP Kuliah Unhas mendatangi rumahnya, Araya mengaku Unhas merupakan kampus impiannya sejak kecil.
Ia berharap dapat memperoleh bantuan KIP Kuliah agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.
"Unhas adalah kampus impian saya. Saya ingin menjadi sarjana pertama di keluarga dan bisa mengubah masa depan kami," ujarnya.
Harapan serupa disampaikan sang ibu, Mujuarti. Ia berharap putrinya dapat menyelesaikan pendidikan hingga menjadi sarjana hukum.
Menurutnya, pendidikan menjadi satu-satunya jalan untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.
Baca Juga: Muslimat NU Sulsel dan ICATT Bakal Gelar Sarasehan Pesantren Regional, Ini Poin Penting yang Dibahas
"Semoga Araya mendapat KIP Kuliah dan bisa mewujudkan cita-citanya menjadi pengacara," katanya.
Cerita serupa datang dari Kabupaten Pinrang.
Muhammad Rusdi, calon mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Unhas, juga menggantungkan harapan pada bantuan KIP Kuliah.
Rusdi merupakan anak keempat di keluarganya sekaligus orang pertama yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.
Ayah kandungnya telah meninggal dunia, sedangkan ayah tirinya bekerja sebagai petani penggarap dengan penghasilan yang bergantung pada hasil panen.
Meski diterima di Unhas, Rusdi mengaku masih memikirkan biaya kuliah yang harus dipenuhi keluarganya.
"Saya berharap lolos KIP Kuliah agar bisa meringankan beban keluarga selama saya kuliah," tuturnya.
Araya dan Rusdi hanyalah dua dari ratusan calon mahasiswa yang menjalani proses verifikasi lapangan KIP Kuliah oleh Universitas Hasanuddin.
Baca Juga: Dispusarsip Sulawesi Selatan Dorong Seluruh Perpustakaan Sekolah Miliki NPP, Ini Alasannya
Di balik setiap kunjungan, tim verifikasi menemukan beragam kisah keluarga sederhana yang tetap menaruh harapan besar pada pendidikan sebagai jalan keluar dari keterbatasan ekonomi.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. Muhammad Ruslin, mengatakan proses verifikasi bukan sekadar memastikan kelayakan administrasi, tetapi juga melihat langsung kondisi sosial ekonomi calon penerima bantuan.
Menurutnya, banyak keluarga yang menggantungkan harapan pada pendidikan anak-anak mereka sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup.
"Kisah-kisah yang kami temui menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi harapan terbesar banyak keluarga. Kami berharap KIP Kuliah dapat membuka jalan bagi mereka untuk meraih cita-cita," ujarnya.
Melalui program KIP Kuliah, Unhas berkomitmen memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa berprestasi yang berasal dari keluarga kurang mampu. ***




